Bismillah
Saya tuliskan ini dengan suatu perasaan yang meringis. Entah karena lemahnya ia, atau panah-panah yang mengenainya. Saya masih ingin bicara dengan cinta yang sederhana. Bahasa yang semoga saja mudah dibaca.
Oleh karena hati yang syahdu, ingin lagi bersaudara, bukan karena sesiapa atau berasal darimana.
Oleh karena hati yang sendiri, ingin lagi bergenggaman, menguatkan, bukan karena diberi apa atau mau pergi kemana. Siapa saja.
Saya sadari bahwa, hidup ini begitu singkatnya. Tidak ada waktu untuk bercanda, sebenarnya, sebab canda itu sudah klausul matematisnya duniawi, dunia kita sekarang ini. Canda-canda jalanan ibukota Jakarta, di kerlip malam inipun, sama saja. Bikin menggigil sekujuran tubuh saya, bikin biru bibir yang coba terbasahi kalimat-kalimat doa, sekuat tenaga.
Agar perasaanku yang tiba-tiba meringis ini terobati, agar terdengar dengan seksama, bahwa aku tak mengambil jeruji-jeruji untuk bohong padamu, atau pada diriku.
Saya tidak ingin membela sebarisan kata yang tak pantas dibela, sebarisan kata yang bukan pula buatan saya, buatan orang-orang di UMM waktu kongres dulu, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia.
Bukan, bukan frase ini yang akan saya bela. Saya telah meninggalkannya, sesegera setelah saya mendapatkan yang lebih darinya. Ketenangan hati, kekuatan, alasan yang nyata, gairah berkarya.
Iya, ini hanya tentang budaya yang menggejala dan menyakiti yang lainnya. Soal mereka yang bilang membela suatu idea, tapi, maaf, dalam pandangan saya, justru mengotorinya. Pro Justicia tidak dibela dengan fitnah, Pro Justicia hidup dengan baris-baris yang sistematis, gamblang, dan tentunya, tidak anonim. :)
Saya, jujur saja, tidak biasa berkata yang dilembut-lembutkan. Saya orang yang keras, keras dalam mengambil pilihan, biasanya, keras juga dalam mengambil diksi-diksi. Karena kehidupan bagi saya telah mengajarkan banyak keteguhan. Di tengah sini, saya mohon maaf atas kata-kata yang mungkin menyakiti hati. Saya hanya yakin bahwa cinta adalah konsep bicara apa adanya. Maka, ya, beginilah. :)
Jika kita cinta Fakultas Hukum, marilah sama berkarya lewat namanya. Bawa ia kemana-mana, bersama-sama. Jangan pandang benci yang sedikit 'berbeda'. Ayo berkenalan.
Jika kita benar segitunya membela Pro Justicia, marilah sama adil pada nurani. Jelajahi hati sampai ke sisi-sisinya. Kalau merasa ada masalah, buka bicara pada semua, audi et alterram partem, jika tidak, tidak bicara tentang yang tidak diketahuinya. Ini jiwa hukum bukan?
Jika benar, dari hati dan kesadaran terdalam, nyata-nyata berkata, Hukum Bersatu Tak Bisa Dikalahkan, marilah sama-sama saja membuka senyuman, jangan hanya lewat di bibir saja. Pembuktian.
Saya sekedar merasa perlu menyitir keadaan miris, menjalankan sebuah proyek sederhana di DSM, ada pihak yang merasa sudah sungguh-sungguh? Ada yang sudah merasa sangat penuh integritas? Yang mana yang @FHBrawijaya? Mana bukti?
Gejala dan praktek perkambinghitaman memang selalu marak setiap kita akan mengakhiri semester ganjil.
Menyesakkan sekali mengetahui bahwa, masih begini gaya-gaya "cari perhatian publik" di kampus kita. Masih pecundang seperti ini, main belakang, pseudonim, semi, yo tetep anonim !
Jangan, jangan sampai karena dengkimu, menyakiti yang kau katakan "Hukum Bersatu tak Bisa Dikalahkan" bukan?
Saya tidak ingin main drama, ini bukan drama-drama-an. Bukan picisan.
Ayo, duduk bicara dan atur kepahaman, agar lega hatiku dan hati kita semua.
Saya kembali katakan, anak KAMMI tak sebanyak hegemoni kader HMI atau anggota PMP hukum Brawijaya. Jadi jangan takut kami 'menguasasi' dan membelakangi almamater kita. KAMMI tak pernah sebegitu nafsu untuk cari tahta dunia. Ini soal perimbangan, keadilan bagi setiap kebijaksanaan. Kebijaksanaan kami, Islam yang rahamatan lil 'alamin, insyaAllah. Yang dengan inilah orang-orang KAMMI ketika memimpin, yang dengan inilah mereka dibekali, habis itu lepas, tak boleh gila nama dan label.
Tapi sakit juga ketika disalahpahami, pula disebar-sebarkan kesalahpahaman tentang kami ke banyak orang, hingga jadi fitnah yang menghitamkan apa yang putih, memunculkan prasangka tanpa bukti, juga kilas pemahaman tanpa tanya-jawab yang berakal. Innalillahi.
Saya hanya pernah tiga kali mengajak orang masuk KAMMI, 2 ditolak, satunya berangkat. Oleh karena kami sadari, tak banyak orang yang akan membersamai kami di jalan ini. Sebab bukan nama yang kami bela, bukan organisasi belaka, tapi kepahaman, kemunculan tunas-tunas harapan bangsa. Yang dekat dengan Tuhannya, juga pandai mengaji, sadar jiwa dan fitrahnya, sekedarnya, sekedar itu saja.
Ya Allah, faghfirlanaa, innaka anta samii'ud du'aa.
No comments:
Post a Comment