Mungkin kelicikan sesuatu yang built-in dengan diri saya. Haha, saya begitu tanpa hati, kejam, semacam itu. Bagaimana bisa bersemayam dua kekhusyukan dalam satu hati? Bagaimana bisa bertemu dua aliran dalam satu bayangan? Bagaimana bisa berpikir sentrifugal, menarik luaran, gaya-gaya sampingan. Ah, ini rumit.
Kelicikan mungkin memang sesuatu yang semacam itu. saat saya ikrarkan dua kekhusyukan dalam satu hati, atau dua kepahaman dengan arogansi strata, juga reposisi luaran dari beberapa organ fikroh yang terdalam. Karena hikmah dalam ayat-ayat kauniyahNya begitu luas membentang.
Saya tidak berani, selebihnya, sebenarnya. Benar bilang pada saat itu, maaf, saya lebih bisa jadi jundi yang tho'at daripada teman sebaya yang komunikatif. Maaf, saya lebih bisa, jadi qaadah yang penuh strategi daripada sebaya yang begitu penyayang. Sebab menerobos itu lebih sederhana daripada meloncati tebing-tebing. Tebing perasaanmu, shohabati. Sebab keras itu lebih mudah dari menjaga nada bicara, bagiku, shohabati.
Aku balik lagi jadi mangsa raja-raja yang gila. Sebentar-sebentar menenggelamkan. Sebentar-sebentar merengek minta makan. Lapar katanya, mau ditinggal kasihan, dikasihani, jadi peninggalan.
Kelicikan itu ibarat tenun jerami. Ibarat konfigurasi. Ibarat aku meninggalkanmu kala sendiri.
Monday, September 30, 2013
Friday, September 20, 2013
Real Steel (not-a-real-REVIEW-at-all :)
Bismillah
Wew, agak canggung sebenernya nulis di blog kali ini. Oke kita bawa asik aja, yak, haha, soalnya kata beberapa orang terdekat, gue jarang asikin hidup. Hmm... ga juga sih :p
Tulisan ini gue rencanakan untuk mengulas salahsatu film favorit gue. Real Steel. :)
Hihi, jarang banget loh, jujur, gue nulis sebuah review. Jadi ini insyaAllah emang, yaa... jarang.. hhaha, jarang banget. Udah. Gitu aja. #geje
Oke, Real Steel tuh film Disney keluaran 2011 dan pertama kali dilaunching di Australia tanggal 6 Oktober 2011, yang ngambil Atlanta dan tahun 2020 sebagai latar utamanya. Intinya, di zaman itu, udah ga ada manusia yang jadi petinju. Semua kejuaraan tinju diambil alih sama robot. Main actor, Hugh Jackman (as Charlie Kenton) sebagai seorang mantan petinju juga terus ngikut kehidupan pertinjuan robot itu, dengan robot andalannya, Ambush.
Singkat cerita, sebenernnya yang sangat menarik dan bikin gue suka banget sama plot film ini bukan tentang Charlie-nya. Tapi soal keberadaan main actor lainnya, Dakota Goyo, yang meranin tokoh anaknya Charlie, Max Kenton. Imut banget anaknya, udah gitu, emang di film ini, Goyo look smart abis dan punya strong character yang cool banerr.
The real line story is.... Charlie dan Max sebagai ayah-anak baru bertemu setelah umur Max 11 tahun. Setelah Caroline Fallon, ibunya Max, mantan istrinya Charlie wafat. Gue agak males sebenernya nyeritain bagian ini, abis rempong banget, haha. Next is, Max menurut pengadilan, jadi wajib asuh bibi (adik almh ibunya) dan pamannya, Debra dan Marvin, tapi dengan tipudaya ayahnya, Marvin yang kaya itu membeli jasa asuh Charlie untuk sekian minggu selama ia dan Debra ke Italia. Singkatnya, Max akhirnya harus ikut ayahnya - yang udah dapet bayaran US$ 5000 dari Marvin - yang cuma seorang petinju Robot kelas bawah plus lagi bangkrut karena Ambush kalah waktu lawan banteng.
Haha, sori ya, kalau kalian yang lagi baca ini jadi gagal paham. Penulis memang agak some disturbing system gitu ya, untuk membahasakan kisah dengan lebih lunak lagi. Heehee.. #keeptryin
Kita pake perspek puzzling aja ngobrolnya yak, hhoo, jadi gue nggak akan ngulang nyeritain plotnya disini, ehm, gue bakal cerita aja bagian-bagian yang recommended to see. :D
Gue terharu banget sama setting Max dan Charlie lagi di pabrik robot buat nyuri bagian2 robot rakitan, setelah robot terbaru mereka yang dibeli seharga US$ 5000 - namanya Noisy Boy - ancur pas ngelawan Midas. Saat itu mereka udah nggak punya uang lagi, so emang udah nggak punya modal buat melanjutkan hidup lewat ngerobot. #apasih hhaaha
Intinya, gitu sih, Adegan menegangkan banget waktu Max jatoh ke tebing dan nyangkut di sebuah tangan robot generasi kedua (generasi lama, ceritanya). Hmm... berasa banget conditioning latar ayah-anaknya, tambah tampang takut-takutnya Dakota Goyo yang khas anak kecil banget waktu dicommand ngereaching tanga ayahnya tanpa try to see the under, gue... suka banget bagian ini, hehee..
Yang paling seru, di plot selanjutnya, strong characternnya Goyo nampil banget pas dia semacam silang pendapat sama ayahnya dan bersikeras ngangkut "tangan robot dan keseluruhanya" yang dianggepnya udah nolongin dia supaya ga jatuh. haha.. Ada banget dialog tajam yang bikin ketawa,
Max : Charlie, I thought there was a robot here,, (setelah lakon mata bulat terpana pas ngeliat baju robot di bawah tanah)
Charlie : So what? Lets Go, Come on, I was said it dangerous before !
Max : I'm take it with me. He save my life.
Charlie : He did not ! I-save-your-life. Lets Go !
Haha, dialog dua orang keras kepala. Bukannya manyun dan ikut gandengan ayahnya yang udah kayak tanpa hati ninggalin, Goyo (Max) malah "ngatur" Charlie (Jackman) untuk ninggalin troly mereka aja, supaya dia bisa bawa pulang tuh kerangka robot yang dianggapnya udah nolongin hidupnya. Sumpah, adaaa apa ya anak sekeras itu kemauannya *dlmhalpandangan* jaman sekarang, ah, gue belom pernah nemu. Kebanyakan anak-anak jaman sekarang mah pada cengeng, demennya nonton senetron maennya di sekolah "pacar-pacaran" maka terlahirlah generasi genit yang mengerikan kayak senior2 gue di kampus #ups. Rusak, dah, rusak, *lohkokjadikesini* :D
Dan... ternyata robot "sampahan" itu yang jadi keberuntungan plot mereka selanjutnya. Nama robotnya, Atom. Si atom ini ternyata tipe robot sparing yang auxalary di zaman robot tinju generasi kedua (gatau ya maksudnya di sutradara itu settingnya udah zama robot generasi keberapa ahaha).
Karena Atom ternyata punya kemampuan hear-and-echoes hmm... sederhananya, copas... hihi, maklum. Jadi dia bisa ngikutin gerakan objek yang di depannya, yang kena radar sensor kerobotannya gitu kali ya, #ngarang ahaha, ga ngerti gue sistem kayak gitu gimana logikanya yak, elo ngerti? ga juga kan yeyeyee :D
Oke, puzzle part kedua, adegan waktu Max jadi "orang pinggiran" waktu iring-iringan 'Zeus' keluar WRB (World Robot Boxing). Lakon mata bulatnya Max yang tersepona keluar lagi, tapi lebih shiny gitu, lebih condong ke karakter "pengamat yang cerdas dan terkagum". Lucu banget bagian Max bilang, "Sweet..." pake tendens amrik yang all-out.
Oia, sampe lupa, :) Zeus itu robot yang lagi "dewa" banget saat itu, dan semua acting max tadi dilakukan pas momen tim robotic Zeus, si Farra Lemkova dan Tak Mashido diwawancarai kerumunan pers.
Ada juga part sedihnya, loh, waktu Atom lagi menghasilkan banyak uang, Max and his daddy, didatangin musuh lama the daddy. Hm, dipukulin lah the daddy and his Son crying beside him. Hoho... Ada plot dimana di dalam van, Charlie kayak merenung gitu sambil ngeliatin Max tidur. And guess what next ?
Ya ! Charlie khawatir sama keselamatan Max. And the next he sent his son to the nanny, Debra and Marvin. :'(
Dialog yang kerennya, waktu Max ngambek setelah tau dia dibalikin ke bibinya,
Charlie : Okay, fine, What'd you want from me?!
Max : I just want you fight for me. That's all I want to.
Hiks.
Ada dua hal yang parah abis, gue suka banget, waktu Max bikin deal sama orang-orang termasuk ayahnya sendiri. Ahahahaa... sumpah, smart child banget. Dan waktu dia bilang "your secret was save with me." ke ayahnya di ending film ini.
Huaaaaaaaaaaa.... I love this film so much, :)
Gue emang gak berencana nyeritain film ini all in and out kok, hihiii... buat yang penasarann, nonton aja sendiri yak, hehehe... Atau karena sanking ga gaulnya gue, udah pada nonton semua lagi, ya, hehe... Soalnya keseringannya gitu sih, ya, ---____________--- gue ga update. Maklum deh yak,
But, thats all I've to write, cuma buat ngasah kepekaan hati aja, sih, gue bisa kok, kagum sama karya orang. InsyaAllah, karena ayat-ayat kauniyahNya begitu luas membentang.
Wew, agak canggung sebenernya nulis di blog kali ini. Oke kita bawa asik aja, yak, haha, soalnya kata beberapa orang terdekat, gue jarang asikin hidup. Hmm... ga juga sih :p
Tulisan ini gue rencanakan untuk mengulas salahsatu film favorit gue. Real Steel. :)
Hihi, jarang banget loh, jujur, gue nulis sebuah review. Jadi ini insyaAllah emang, yaa... jarang.. hhaha, jarang banget. Udah. Gitu aja. #geje
Oke, Real Steel tuh film Disney keluaran 2011 dan pertama kali dilaunching di Australia tanggal 6 Oktober 2011, yang ngambil Atlanta dan tahun 2020 sebagai latar utamanya. Intinya, di zaman itu, udah ga ada manusia yang jadi petinju. Semua kejuaraan tinju diambil alih sama robot. Main actor, Hugh Jackman (as Charlie Kenton) sebagai seorang mantan petinju juga terus ngikut kehidupan pertinjuan robot itu, dengan robot andalannya, Ambush.
Singkat cerita, sebenernnya yang sangat menarik dan bikin gue suka banget sama plot film ini bukan tentang Charlie-nya. Tapi soal keberadaan main actor lainnya, Dakota Goyo, yang meranin tokoh anaknya Charlie, Max Kenton. Imut banget anaknya, udah gitu, emang di film ini, Goyo look smart abis dan punya strong character yang cool banerr.
The real line story is.... Charlie dan Max sebagai ayah-anak baru bertemu setelah umur Max 11 tahun. Setelah Caroline Fallon, ibunya Max, mantan istrinya Charlie wafat. Gue agak males sebenernya nyeritain bagian ini, abis rempong banget, haha. Next is, Max menurut pengadilan, jadi wajib asuh bibi (adik almh ibunya) dan pamannya, Debra dan Marvin, tapi dengan tipudaya ayahnya, Marvin yang kaya itu membeli jasa asuh Charlie untuk sekian minggu selama ia dan Debra ke Italia. Singkatnya, Max akhirnya harus ikut ayahnya - yang udah dapet bayaran US$ 5000 dari Marvin - yang cuma seorang petinju Robot kelas bawah plus lagi bangkrut karena Ambush kalah waktu lawan banteng.
Haha, sori ya, kalau kalian yang lagi baca ini jadi gagal paham. Penulis memang agak some disturbing system gitu ya, untuk membahasakan kisah dengan lebih lunak lagi. Heehee.. #keeptryin
Kita pake perspek puzzling aja ngobrolnya yak, hhoo, jadi gue nggak akan ngulang nyeritain plotnya disini, ehm, gue bakal cerita aja bagian-bagian yang recommended to see. :D
Gue terharu banget sama setting Max dan Charlie lagi di pabrik robot buat nyuri bagian2 robot rakitan, setelah robot terbaru mereka yang dibeli seharga US$ 5000 - namanya Noisy Boy - ancur pas ngelawan Midas. Saat itu mereka udah nggak punya uang lagi, so emang udah nggak punya modal buat melanjutkan hidup lewat ngerobot. #apasih hhaaha
Intinya, gitu sih, Adegan menegangkan banget waktu Max jatoh ke tebing dan nyangkut di sebuah tangan robot generasi kedua (generasi lama, ceritanya). Hmm... berasa banget conditioning latar ayah-anaknya, tambah tampang takut-takutnya Dakota Goyo yang khas anak kecil banget waktu dicommand ngereaching tanga ayahnya tanpa try to see the under, gue... suka banget bagian ini, hehee..
Yang paling seru, di plot selanjutnya, strong characternnya Goyo nampil banget pas dia semacam silang pendapat sama ayahnya dan bersikeras ngangkut "tangan robot dan keseluruhanya" yang dianggepnya udah nolongin dia supaya ga jatuh. haha.. Ada banget dialog tajam yang bikin ketawa,
Max : Charlie, I thought there was a robot here,, (setelah lakon mata bulat terpana pas ngeliat baju robot di bawah tanah)
Charlie : So what? Lets Go, Come on, I was said it dangerous before !
Max : I'm take it with me. He save my life.
Charlie : He did not ! I-save-your-life. Lets Go !
Haha, dialog dua orang keras kepala. Bukannya manyun dan ikut gandengan ayahnya yang udah kayak tanpa hati ninggalin, Goyo (Max) malah "ngatur" Charlie (Jackman) untuk ninggalin troly mereka aja, supaya dia bisa bawa pulang tuh kerangka robot yang dianggapnya udah nolongin hidupnya. Sumpah, adaaa apa ya anak sekeras itu kemauannya *dlmhalpandangan* jaman sekarang, ah, gue belom pernah nemu. Kebanyakan anak-anak jaman sekarang mah pada cengeng, demennya nonton senetron maennya di sekolah "pacar-pacaran" maka terlahirlah generasi genit yang mengerikan kayak senior2 gue di kampus #ups. Rusak, dah, rusak, *lohkokjadikesini* :D
Dan... ternyata robot "sampahan" itu yang jadi keberuntungan plot mereka selanjutnya. Nama robotnya, Atom. Si atom ini ternyata tipe robot sparing yang auxalary di zaman robot tinju generasi kedua (gatau ya maksudnya di sutradara itu settingnya udah zama robot generasi keberapa ahaha).
Karena Atom ternyata punya kemampuan hear-and-echoes hmm... sederhananya, copas... hihi, maklum. Jadi dia bisa ngikutin gerakan objek yang di depannya, yang kena radar sensor kerobotannya gitu kali ya, #ngarang ahaha, ga ngerti gue sistem kayak gitu gimana logikanya yak, elo ngerti? ga juga kan yeyeyee :D
Oke, puzzle part kedua, adegan waktu Max jadi "orang pinggiran" waktu iring-iringan 'Zeus' keluar WRB (World Robot Boxing). Lakon mata bulatnya Max yang tersepona keluar lagi, tapi lebih shiny gitu, lebih condong ke karakter "pengamat yang cerdas dan terkagum". Lucu banget bagian Max bilang, "Sweet..." pake tendens amrik yang all-out.
Oia, sampe lupa, :) Zeus itu robot yang lagi "dewa" banget saat itu, dan semua acting max tadi dilakukan pas momen tim robotic Zeus, si Farra Lemkova dan Tak Mashido diwawancarai kerumunan pers.
Ada juga part sedihnya, loh, waktu Atom lagi menghasilkan banyak uang, Max and his daddy, didatangin musuh lama the daddy. Hm, dipukulin lah the daddy and his Son crying beside him. Hoho... Ada plot dimana di dalam van, Charlie kayak merenung gitu sambil ngeliatin Max tidur. And guess what next ?
Ya ! Charlie khawatir sama keselamatan Max. And the next he sent his son to the nanny, Debra and Marvin. :'(
Dialog yang kerennya, waktu Max ngambek setelah tau dia dibalikin ke bibinya,
Charlie : Okay, fine, What'd you want from me?!
Max : I just want you fight for me. That's all I want to.
Hiks.
Ada dua hal yang parah abis, gue suka banget, waktu Max bikin deal sama orang-orang termasuk ayahnya sendiri. Ahahahaa... sumpah, smart child banget. Dan waktu dia bilang "your secret was save with me." ke ayahnya di ending film ini.
Huaaaaaaaaaaa.... I love this film so much, :)
Gue emang gak berencana nyeritain film ini all in and out kok, hihiii... buat yang penasarann, nonton aja sendiri yak, hehehe... Atau karena sanking ga gaulnya gue, udah pada nonton semua lagi, ya, hehe... Soalnya keseringannya gitu sih, ya, ---____________--- gue ga update. Maklum deh yak,
But, thats all I've to write, cuma buat ngasah kepekaan hati aja, sih, gue bisa kok, kagum sama karya orang. InsyaAllah, karena ayat-ayat kauniyahNya begitu luas membentang.
Friday, September 13, 2013
Rasa-rasanya
Rasa-rasanya, banyak hal yang belum tersampaikan. Semacam presisi dan model indikatorisasi. Berapa, sebanyak apa. Berapa, sebesar apa, secerah apa, atau mungkin, sedusta apa.
Rasa-rasanya kita harus lebih banyak merasakan, yang bukan presisi, tidak seperti yang hampir setiap saat saya lakukan. Sesekali kita harus mencoba bertarung dengan kepekaan. Bashiroh hati. Kekuatan mata hati.
Rasa-rasanya saya harus lebih banyak merasakan.
Rasa-rasanya kita harus lebih banyak merasakan, yang bukan presisi, tidak seperti yang hampir setiap saat saya lakukan. Sesekali kita harus mencoba bertarung dengan kepekaan. Bashiroh hati. Kekuatan mata hati.
Rasa-rasanya saya harus lebih banyak merasakan.
Saturday, September 7, 2013
Saya tidak suka
Saya tidak suka banyak hal
Juga kenyataan bahwa saya tidak menyukai banyak hal
Saya tidak suka banyak diatur
Juga kenyataan bahwa dunia ini penuh dengan aturan
Oleh sebabnya saya berpikir untuk segera meninggalkan ketidaksukaan
Karena perlahan ia jadi mangsa raja-raja yang gila
Sebentar-sebentar menenggelamkan
Sebentar-sebentar merengek minta makan
Lapar katanya, mau ditinggal kasihan, dikasihani, jadi peninggalan
Saya tidak suka pementasan
Juga epilog yang lebay tanpa prolog yang mencerahkan
Bagi saya, lebih-lebih orang harus dibina dari awalan
Biar kuat karena kepahaman
Saya tidak suka gurauan bohong
Juga kenyataan bahwa semua kebohongan dan gurauan itu inti dunia
Makanya saya bersegera meninggalkan mereka
Karena perlahan mereka jadi resonansi faktual garis kebolehan
Sebentar-sebentar menyentak
Sebentar-sebentar ngambek sama diri sendiri
Gak suka katanya, ya gak suka aja, halal, ga ada urusan lagi ini
Kocak gitu
Saya tidak suka kocak sebegitunya
Itu kan, saya
Juga kenyataan bahwa saya tidak menyukai banyak hal
Saya tidak suka banyak diatur
Juga kenyataan bahwa dunia ini penuh dengan aturan
Oleh sebabnya saya berpikir untuk segera meninggalkan ketidaksukaan
Karena perlahan ia jadi mangsa raja-raja yang gila
Sebentar-sebentar menenggelamkan
Sebentar-sebentar merengek minta makan
Lapar katanya, mau ditinggal kasihan, dikasihani, jadi peninggalan
Saya tidak suka pementasan
Juga epilog yang lebay tanpa prolog yang mencerahkan
Bagi saya, lebih-lebih orang harus dibina dari awalan
Biar kuat karena kepahaman
Saya tidak suka gurauan bohong
Juga kenyataan bahwa semua kebohongan dan gurauan itu inti dunia
Makanya saya bersegera meninggalkan mereka
Karena perlahan mereka jadi resonansi faktual garis kebolehan
Sebentar-sebentar menyentak
Sebentar-sebentar ngambek sama diri sendiri
Gak suka katanya, ya gak suka aja, halal, ga ada urusan lagi ini
Kocak gitu
Saya tidak suka kocak sebegitunya
Itu kan, saya
Monday, September 2, 2013
Be a commander
This is my world. The dynamics.
This is the word I call to repose the things on me.
He said, I'm so Lucky because I know how to use some word describing I feel.
She said, I'm not that lucky because my line was on opposite.
They all a true
How could to be better?
How to be strong, tough, like a real qaadah?
How could to be dashing?
How could I be pronounce?
Not really on those assertive
but, a commander
This is the word I call to repose the things on me.
He said, I'm so Lucky because I know how to use some word describing I feel.
She said, I'm not that lucky because my line was on opposite.
They all a true
How could to be better?
How to be strong, tough, like a real qaadah?
How could to be dashing?
How could I be pronounce?
Not really on those assertive
but, a commander
Thursday, August 29, 2013
Al Banaat : Part One (Bisystory)
Ruang kelas 1B tiba-tiba jadi arena
ketegangan. 35 anak umur 11 tahun itu jadi semacam pusaran manusia berseragam
putih-hitam. Di tengah pusaran itu, sepasang bocah laki-laki dan perempuan
tengah berhadapan dengan serius, menjadi sumber ketegangan di kelas itu. Ilham,
nama bocah laki-laki itu, dengan emosi menantang, "Oke, kita adu panco aja
kalo gitu !"
Si bocah perempuan bergidik, bukan karena ia
takut adu fisik, ia tidak benar-benar tahu jenis permainan itu. Diputarnya
bolak-balik akalnya, "panco"…. Bagian tubuh yang mana yang disebut
panco dan bisa diadu? Apa Cuma anak laki-laki yang punya 'panco'? Sehingga
Ilham yang dilihatnya sekarang sedang tertawa sinis karena sudah membayangkan
kemenangan.
"Oke! Siapa takut!" serunya keras
kepala
33 penonton setia itu sejengkal mundur
memberi ruang, seorang bocah berbadan paling besar di antara mereka, Fitra,
mendorong sebuah meja belajar ke tengah. Ilham
makin percaya, anak perempuan seperti Bibis, tidak mungkin bisa menang
adu panco dengannya. Walaupun Bibis tidak tergolong kurus juga tidak lemah di
kelas olahraga, tapi mana mungkin ia yang jago bulutangkis, bisa kalah? Ilham
menyeringai, membayangkan kemenangan, kepahlawanan dirinya dan kepengecutan
Bibis.
Bibis, anak perempuan dengan pipi merona
panas itu, semakin bingung, permainan macam apa yang telah disetujuinya secara bodoh
untuk menjadi babak kesekian yang dilaluinya untuk menarik pembuktian 'siapa
yang terbaik antara Ilham dan Bibis' yang selanjutnya melebar menjadi 'siapa
yang terbaik antara anak perempuan dan anak laki-laki' di kelas itu.
Ilham telah mengambil posisinya, meletakkan
siku tangan kanannya di atas meja dan jemarinya bersiap mencengkram sekuat
tenaga telapak Bibis yang dilihatnya relatif lebih ringkih darinya.
Akhirnya Bibis selesai dari kebingungannya
soal 'adu panco', tersadar dan langsung berjalan dengan gaya percaya diri,
mengangkat wajahnya dan menantang Ilham dengan memunculkan wajah menyebalkan,
tersenyum asimetris, seakan ia akan menang.
Ia tercenung tiba-tiba di depan meja, di
tengah riuh rendah suara teman-temannya yang menyemangati.
"Ini ga syar'i." katanya. Ilham
membangun dirinya dari posisi siap siaga, berdiri.
"Hm," gumam Ilham menyetujui, suasana kelas berubah sunyi.
Beberapa anak berjalan ke tas dan meja mereka
untuk mengambil buku pelajaran hadist shohih.
Faradina, seorang sahabat mereka di kelas itu, langsung membacakan sanad
hadist yang dimaksud Bibis, "La Ayyuth 'ana fii ro'si ahadikum bi
mikhyathi min hadiid khoirullahuu…"
"Min ayyamussa m roatal laa
tahhilulahu…" lanjut Bibis mengandalkan hafalannya dengan percaya diri
walaupun mengandung kesalahan lafal.
"Sekiranya kepala salah seorang di
antara kamu ditusuk dengan senjata tajam, lebih baik dari memegang wanita yang
bukan mahramnya. Riwayat Thabrani dan Baihaqi" perjelas Ilham.
35 anak itu tiba-tiba lemas. Padahal mereka
sangat ingin menyaksikan pertandingan itu.
"10 menit lagi jam main kita selesai,
mending selesain tugas matematika aja, kali ya, shohabati" ujar Ahmad,
ketua kelas mereka.
Setengah dari mereka mengangguk menyetujui.
Bibis menggigit bibir bawahnya menyesal, hadist yang tadi kan bisa disampaikan
belakangan, setelah pertandingan mereka selesai, pikirnya. Sementara Ilham
memegang meja yang di tengah ruangan, berniat mengembalikannya ke posisi
semula, meja itu milik Ghina yang tengah menunggu kelas kembali pulih dari kekacauan.
Sama seperti yang lain. Anak-anak kelas 1B SMP IT Qalbin Saliim tengah
membenahi meja warna-warni mereka dan mulai menarik kursi yang menempel di
langit meja sebelah bawahnya, bersiap mengerjakan tugas matematika seperti
taujihat Sang ketua kelas.
"Kita cari pertandingan syar'I besok,
malam ini kita sama-sama pikirkan dan besok segalanya berakhir, oke, ar rijalu
qowam 'alan nisa !" seru Ilham serius
Bibis mendengus kesal, jiwanya menolak
mendengar kalimat Ilham.
"Emang bibis itu imro'at ya?" kata
Faqih, anak laki-laki berambut keriting itu santai di tengah kesibukannya
membantu teman-temannya membenahi susunan meja mereka.
"Iya, kita kan masih anak kecil, tau,
belum baligh. Al Banaat, tadi sanadnya kan pakenya imro'at" sambut
Faradina menengok ke arah Faqih, bersemangat.
35 anak itu kembali dipersatukan dengan satu
fokus pikir, peperangan Ilham dan Bibis, yang kini keduanya sontak saling
berpandangan, mengumandangkan genderang perang untuk kesekian kalinya. Keduanya
kembali melangkah ke tengah ruangan, Ilham kembali menarik meja Ghina yang di
barisan kedua deret ketiga ke tengah ruangan.
"Beneran?" tanya Ahmad yang mulai
kembali tersita perhatiannya.
"Hontou, hontou" jawab Bibis asal,
mengikut kebiasaan Ummi di rumah
"Surely
!" sahut Ilham serius.
Maka Ahmad beranjak berdiri, meninggalkan
buku matematikanya yang sudah tersibak, berjalan ke tengah ruangan, diikuti
seluruh teman-temannya yang kini kembali membentuk pusaran bocah berseragam
hitam-putih. Ilham dan Bibis sudah saling berhadapan di tengah ruangan, saling
mencengkram, siap melangsungkan pertandingan.
"Oke, a… ba… ta !" aba-aba Ahmad
seketika disambut sorak-sorai yang saling bersahutan dengan semangat.
"Bibis… Bibis… Bibis…" anak-anak
perempuan berteriak nyaring
"Ilham… Ilham… Ilham…" anak-anak
laki-laki tidak mau kalah
Ilham masih terus mencengkram tangan Bibis
tanpa ampun, disana letak strateginya, membuat lawannya habis tenaga sehingga
pertahanannya mudah diruntuhkan. Bibis yang sejak aba-aba Ahmad tadi telah
mengukur kekuatan Ilham, rupanya memang tidak mudah dikalahkan, ia mengambil
strategi meletakkan kekuatannya di batang lengan. Sehingga pertandingan itu
menjadi begitu seru, berkali-kali Ilham hampir menjatuhkan lengan Bibis ke
meja, tapi itu belum berhasil selama tiga menit ini, sementara Bibis baru dua
kali hampir menjatuhkan Ilham dengan tenaga-tenaga sisa.
"Bibisssssss !!!! Bibis… Bibis… Bibis…!" lengkingan itu semakin keras searah dengan lengan Bibis yang
mendominasi Ilham, anak laki-laki di kelas itu jadi terdiam, berdoa dalam hati
agar rekan mereka bisa bangkit dari keterdesakan.
Pada menit keempat di saat para penonton
mulai lelah bersorak dan bulir keringat jatuh dari kedua wajah yang memerah,
Bibis yang sejak tadi diam akhirnya mengerang keras, "Ish !".
"Yeah !" seru Ilham. Menang. Ilham
mampu membalikkan keadaan tepat saat Bibis yakin akan menang. Begitu cepat, barusan lengan Ilham menyerang dengan
kilat sehingga Bibis telat menyadari kekalahannya.
Ilham segera mendapat jabat tangan meriah
dari kawan-kawan sekutunya, sementara Bibis dikerumuni anak-anak perempuan yang
tetap menyemangatinya dengan setia.
"Udah, Bis, gapapa, Al Qur'an kan emang
ga mungkin keliru," ujar Shafiyah sambil menepuk halus bahu Bibis
"Iya, Ar rijalu qowamuna 'alan
nisaa" tambah Khadijah
"Ish, bukan gitu tafsirnya, tau ! Nisaa'
itu kan sebutan buat orang yang udah nikah ! Jadi ya, kalo udah nikah baru bisa
disebut qowam bagi rijal yang jadi suaminya, kayak Ummi sama Abinya Bibis"
kata Bibis asal di tengah emosi, anak perempuan yang mengelilinginya sontak terdiam.
Tercenung, emang ada ya, tafsir kayak gitu? Mereka diam, telah dididik untuk
diam atas hal yang tidak diketahuinya.
Akhirnya Bibis kembali ke tengah ruangan, di
dekat meja yang membuatnya merasa terhina barusan. Masih emosi, ia melabrak
kerumunan anak laki-laki yang berbahagia itu, "Heh, aku bisa ngelakuin hal
yang kalian gak bisa lakuin !"
"Udahlah, kalo udah kalah ya kalah aja
!" jawab Ilham sengit
"Nih !" seru Bibis
Kelas itu benar-benar membeku, tak mampu
memberi tanggapan dan nasehat lagi. Tepat setelah pintu kelas mereka terbuka,
barulah terdengar suara, "Astaghfirullahal'adzim, Bisyaroh….."
Ustadzah Aisyah yang baru masuk segera berseru lemas. Di bias tangkapan retinanya,
Bisyaroh, salah seorang muridnya yang cerdas dan sering berulah itu,
menatapnya dengan takut, rambut hitamnya telah tergerai, kerudung putihnya
dipeganginya sambil gemetar.
Anak-anak segera berpencar, saling membantu
membenahi kelas mereka lagi.
Bibis melangkah ke muka kelas, memberi ruang
bagi teman-temannya, "Mutaassif, Ustadzah, Bibis ga terima
dikalahin Ilham." katanya, sambil menangis.
Ustadzah Aisyah bersegera melangkah,
memakaikan lagi jilbab putih yang telah dijatuhi beberapa bulir basah.
“Ustadzah jangan bilang ke Ummi ya?” sambil
sesenggukan Bibis memohon, matanya menatap wajah Ustadzah Aisyah, memelas.
Dibalas senyum simpul yang menenangkan dan anggukan sederhana, Bibis
berterimakasih, “tapi Bibis harus cerita di rumah nanti ya, ini PR spesial buat
Bibis loh,” tambah Ustadzah dan beranjak menuju mejanya setelah membelai
singkat kepala Bibis yang sekarang telah kembali berjilbab putih. Ia kembali ke
mejanya yang telah rapi dibantu teman-temannya tadi, siap menerima pelajaran
lagi. Sebagian besar anak-anak laki-laki masih geleng-geleng kepala, sementara
Khadijah dan Janna yang duduk di kanan-kiri Bibis, tetap memberikan senyuman
dukungan ketika Bibis melihat mereka satu per satu. Kepalanya masih berpikir
keras. Tidak mau kalah.
Saturday, August 10, 2013
Ngegaco
Sekali-kali coba menulis hal yang ringan. Menulis yang apa adanya. Kejadian, baru pemikiran. Dari konkret ke pengilhaman. Bukan sebaliknya. Sesekali. Mira kan seringnya coba meguraikan term baru konteks. Someone
(trial and error)
Gue mau cerita kejadian lucu. Tapi mungkin ini lucu bagi gue aja sih. Haha… soalnya kadang-kadang yang menurut gue lucu ga lucu bagi orang lain. -___-
Contohnya, suatu hari pas lagi ngumpul-ngumpul ngobrol sama anak Sakinah gitu, gue ketawa ngikik ampe perut sakit, pas ditanya kenapa bisa sampe ketawa segitunya, gue ceritain kan, ada nama adek tingkat gue yang ditulisnya salah di papan pengumuman kampus. Krik-krik. Sumpah, haha, ga ada yang merasa itu lucu, kalaupun lucu, iya, ga segitunya. Laki fearless banget kan? Ahahaha #apasih
Gue suka sering banget bikin kekacauan. Salahsatunya pas momen satu ini.
Jadi waktu itu gue lagi di Bogor, nginep di villa pusat pendidikannya Mahkamah Konstitusi. Tahun ini sih, lebih tepatnya bulan April kemarinan. Gue, bareng temen-temen fakultas hukum, berlimaan ada gue, zihan, iis, yati dan bagus, plus satu dosen pembimbing (pak dahlan) dan kabag kemahasiswaan kita (pak edy), nginep disana selama sekitar – kalo ga salah inget – empat malem. Emang bukan takdir bahagia juga sih kalo kita ga menang apa-apa selama disana. Bukan hanya karena kans kecil – yang emang asli secara logis iya beneran – tapi emang ada banyak kekurangan yang sedih banget buat di-inget-inget hahahah. Astaghfirullah.
Di malam terakhir sebelum hari kepulangan, gue ga bisa tidur. Sebenernya emang bukan hal luar biasa sih itu, hehehe. Juga, ada yang lagi gue pikirin, soal masa depan debat hukum di kampus gue. Kalo gini terus caranya, kompetisi ini ga akan diasuh professional dong. Sayang banget. Jadilah gue ngonsep-ngonsep ga jelas di kamar sampe suntuk sendiri. Tilawah. Dan. Masih kepikiran juga.
Di saat yati, zihan sama iis udah pada tidur – sebenernya udah dari tadi – gue akhirnya memutuskan ngeborong buku-buku dan laptop ke luar kamar, belom tau sih kemana tapi gue langsung terilhami gitu pas liat ruang pertemuan utama kosong. Disana lagi berisik, ada beberapa bapak yang lagi masang tirai buat ngelapis dinding-dinding kaca ruangan. Sekitar hampir tengah malam. Gue gaya polos gitu, setelah ngelabrak – haha soalnya pas gue sapa bapaknnya pada kaget gitu – minta izin, gue duduk ngelappy, bolak-balik buku, ngantongin kunci kamar yang udah gue pake dari luar. Dan. Gak bawa hape.
Sekitar tiga jam berlalu. Gue kayak semacam efek ‘ngimpi’ nyadar-nyadar ngeliat tampang si bagus yang asli bikin ngakak gara-gara keliatan maksa bangun tidur di tengah kengantukannya – mungkin. Ngapain lagi nih bocah. Lo ngapain disini, katanya sambil pake tampang plus nada yang bikin kasian, Iis nyariin lo, panik gara-gara kamar dikunci dari luar, balik ke kamar. Selesai bertugas menyampaikan titah iis, bagus langsung balik lagi ke kamarnya.
Dengan segala ke-speechless-an, gue bebenah. Oke, fine. Masi mikir. Lebay amat orang-orang, ngapa gak tidur aja baik-baik biar besok pada bisa bangun pagi-pagi. Konsep gue juga belom utuh, bahan bukunya belom gue sempet puasin kebaca semua. Kalo gini caranya gue pasti dipaksa tidur sama Iis dan besok bangun kesiangan. Padahal gue udah rencana gak tidur malam ini so bisa berbahagia pulas di pesawat sambil duduk safety di samping Iis, Zihan atau Yati. Kacau deh. Gue emang ga tau terimakasih. Ahaha. Waktu itu. Kan belom paham.
Next. Ini hal lucunya. Gue ga janji, ya, bakal bikin kalian ketawa atau malah bikin #ngek dan bilang, “ah sampahan”, ahahaa… #lebay
Intinya pas gue sampe kamar sebuah informasi we-o-we mampir di kuping, “Iya, akhirnya aku telpon bagus minta tolong nyariin kamu. Jangan-jangan mira ngigo trus ke kamar Si *sensor*…”
Gue kaget sekaligus ga bisa nahan ketawa. Si *sensor* yang dimaksud Iis itu cowok univ lain yang ‘diduga’ gue ‘suka’. Tapi aslinya, ga gitu juga. Iya, sih, ngga, kok. Akakakak.
Tuh kan, gak lucu yak, hehe. Kata seorang calon maba fk ini ga lucu samasekali, komentarnya pedes banget, “Itu biasa banget buat awam kali kak, lucu tuh kalo tiba-tiba di kamar lo ada beruang terus dia bilang, ‘selamat ulang tahun mira’ sambil salto dan lo bilang ‘sorry gue nyalaf soal perayaan’ terus pada bengong semua dan…” bla-bla-bla.
Gue sekedar kangen sih, sekaligus masih sensasi we-o-we banget Si Iis bisa sampe mikir gue ngigo jalan ke kamar si *sensor*. Gila, gue ga segitunya, kali. Gue malah jadi kocak aja, Sumpah dah, ahahhah…
Makasi Iis, Makasi Bagus, Makasi juga Zihan dan Yati, Pak Edy dan Pak Dahlan juga. J
Subscribe to:
Posts (Atom)