Showing posts with label imsorrythisisme. Show all posts
Showing posts with label imsorrythisisme. Show all posts

Saturday, January 18, 2014

Wangi Langit

Wangi langit bicara soal pulasan. Ia tak pernah suka terlalu terbuka. Cerita yang disyairkannya adalah rona-rona romantika saja.

Suatu kali saat langit mengantar wanginya ke bumi, kita akan seketika berwarna jingga. Jadi tarian di derivan kuning dan merah. Sempurna. Polesannya adalah kegembiraan. Wangi langit bicara fajar dan guratannya yang sebentar.

Ah, aku suka mencium wangi langit. Karena bersihnya bersahaja. Gelap terang tanpa dialogika. Satu sampai empat kali saja, ia ganti pulasannya dalam detak hari-hari.

Wangi langit yang biru kadang juga pergi basi bersama si putih. Gila dia. Bawa lari pallet demarkasi hitam untuk bintang-bintang. Katanya itu tanda wangi langit tak ingin disentuh-sentuh, tak ingin di gapai-gapai, coba lari dari mendung dan jelang temaram.

Wangi langit adalah pulasan satu sampai empat. Disana diantarkan wangi kalut dan gelisahnya jiwaku di penghujung kota lain. Sebab wangi langit tak pernah suka terlalu terbuka. Bagian romantikanya saja.

Tapi aku paling suka wangi langit.

Thursday, November 7, 2013

Refleksi Koneksitas Kelembagaan Negara dalam Membangun Budaya Sadar Berkonstitusi


Pergeseran Kekuasaan Eksekutif yang ditulis pada tahun 1977 oleh Ismail Suny telah membuka sebuah pandangan baru mengenai unsur-unsur kefungsian eksekutif yang menguat sepanjang pemerintahan Soeharto. Tokoh Presiden yang memegang kuasa terhadap seluruh derivasi mekanis penyelenggaraan Negara tersebut secara radict banyak menelurkan perundang-undangan yang tidak hanya berbasis pada keterbutuhan eksekutorial namun juga pembentukan norma-norma taktis baru yang tidak pernah dilahirkan oleh DPR RI maupun MPR RI sebagai tonggak fungsi legislative nasional dan dwi manunggal.
     Selanjutnya Pergeseran Fungsi Legislasi yang ditulis Saldi Isra pada tahun 2010 kembali mengemukakan suatu persimpangan dalam fungsi-fungsi kelembagaan Negara yang berada dalam puncak konsepsional. Badan legislatif yakni DPRD RI mengalami suatu blokade tertentu akibat kewenangan presiden dalam rangka merekomendasikan dan mengesahkan suatu produk perundang-undangan. Sehingga renovasi fungsi legislasi dalam sistem pemerintahan Indonesia haruslah bertumpu pada purifikasi sistem presidensial[1].
        Kini dilematika ketatanegaraan rupanya berjalan searah rumitansi yang menumpuk dimana pertalian konkret antara kotom lembaga bodies dan auxalary serba tumpang tindih. Serta entry classif derivasi lembaga konstitutif dan konstitusional juga tidak menemui jalan tengahnya. Koherensi sistem presidensial sebagai pilihan mainstream akademis tidak terinternalisasi dalam perjalanan yurisdiksi Mahkamah Konstitusi sebagai triadic function NKRI. Hingga saat ini belum ditemukan naskah riset yang merancang format sinergitas sistem presidensial dalam konteks dyad function dengan Mahkamah Konstitusi sebagai representasi triadic function dengan pendekatan positivis – constituendum, menemukan konteks untuk merancang konteks selanjutnya.
Martin Shapiro dalam bukunya Courts mengatakan bahwa kompleksitas yang timbul pada masyarakat modern menghendaki pihak ketiga untuk menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Menurutnya metode penyelesaian sengketa secara triadik ini didasari oleh norma (Konstitusi) yang berfungsi sebagai landasan bersama guna mencari solusi atas persoalan yang dihadapi.[2] Sehingga dalam sistematika kelembagaan Negara konstitusional setidaknya kita mengenal percabangan fungsi strategis di luar eksekutif dan legislative yang diwakili oleh judikasi konstitusi.
        Dengan demikian merujuk pada konsep Negara kesatuan, daulat pemerintahan berikut kelembagaan-kelembagaan turunannya haruslah sejalan dengan paham integrasi dan harmonisasi. Rigitasi lanjutan dalam konteks NKRI, kita dapati bahwa lembaga utama driad system saat ini yakni Presiden dan DPR RI berjalan dalam kerangka system presidensial baik dalam kecendrungan kesejarahan maupun progresifitas purifikasinya. Presidensial menjadi sebuah nalar pangkal dari rangkaian hubungan dan komunikasi mutual antar lembaga Negara. Lalu bagaimanakah ia dapat diterapkan dalam percabangan triadic fungsi judikasi konstitusi?
Mainstream hukum telah menempatkan konsistensi supremasi dalam berbagai alur dan mekanisme, baik secara pandangan doktrinasi maupun tataran legal-konstitutif. Contoh paling populer mengenai konsistensi supremasi hukum dalam pandangan doktrinasi adalah rumus piramida Hans Kelsen dan Hans Naviasky. Yang pada intinya menganggap bahwa suatu norma hukum menempati pos-pos tingkat tertentu yang menentukan klasifikasi tinggi dan rendahnya ruang lingkup dan substansi. Selanjutnya konsistensi supremasi hukum dalam tataran legal-konstitutif dapat di ambil dari logika kelembagaan konstitusional RI, yakni setidaknya suatu lembaga bersifat instruktif terhadap lembaga di bawahnya. Hal ini pula berlaku dalam semua tataran jaringan fungsi Negara termasuk lembaga peradilan yakni Mahkamah Agung. Mahkamah Agung Republik Indonesia yang saat ini menjadi muara dalam hierarki peradilan NKRI pula memiliki satu wewenang kasasi dalam memutus akhir suatu perkara di luar konstitusionalitas.
Dalam pada itu, penyelesaian amandemen UUD N RI 1945 pada rapat paripurna MPR RI tahun 2002, Mahkamah Konstitusi lahir sebagai bagian percitaan yang menemui tangga realitanya. Dimulai pada tahun 2004 mengenai UU Komisi Yudisial para hakim Konstitusi memutuskan untuk menyatakan sebagian ketentuannya batal demi hukum. Maka sederetan putusan kontroversial menemui jaring konklusinya di putusan hakim Mahkamah Konstitusi.
Secara konseptual gagasan pembentukan Mahkamah Konstitusi adalah untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.[3] Mahkamah konstitusi dalam konstelasi kelahirannya telah memberikan satu refleksi konkret format konstitusionalitas Juan Linz bahwa supremasi keadilan konstitusional haruslah menjangkau setiap warga Negara, rakyat dan pemerintah. Namun dalam tataran perhubungan fungsi-fungsi konstitutif kelembagaan Negara, Mahkamah Konstitusi wajib kembali dibenahi. Masalah yang menjadi great line adalah bagaimana koherensi internal adjudikasi nasional antara Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung serta koherensi eksternal yang berkenaan dengan perhubungan eksekutif dan legislatif dengan Mahkamah Konstitusi dalam bingkai sistem presidensial.
                Seluruh koneksitas mutual yang terjadi dalam tataran kelembagaan nasional tersebut tentunya tidak akan pernah menemui establishment-nya sebelum daulat konstitusional dimaknai kembali sebagai koherensi factual terhadap keberadaan rakyat dan pemerintahnya. Jimly Ashsiddhiqie dalam tulisannya yang disampaikan dalam beberapa seminar hukum nasional menyampaikan bahwa Budaya Sadar Berkonstitusi utamanya menjadi titik tolak strategis dalam kehidupan berbangsa yang beradab. Yakni dimana setiap warga Negara memiliki pemahaman konkret dan actual mengenai keberadaan dirinya. Budaya.


[1] Saldi Isra, Pergeseran Fungsi Legislasi : Menguatnya Model Legislasi Parlementer…, hal 22
[2] Ahmad Syahrizal, Peradilan Konstitusi : Suatu Studi tentang adjudikasi konstitusional…, hal 46
[3] Ibid, hal 263.

Friday, October 18, 2013

Lor Ah Soo

Aku semakin yakin bahwa Lor Ah memang bukan padanan kata yang tepat untukmu. Kemarin lalu waktu aku temui, kau terlihat begitu baru, lesu. Berdesah malu-malu.

Monday, September 30, 2013

Licik

Mungkin kelicikan sesuatu yang built-in dengan diri saya. Haha, saya begitu tanpa hati, kejam, semacam itu. Bagaimana bisa bersemayam dua kekhusyukan dalam satu hati? Bagaimana bisa bertemu dua aliran dalam satu bayangan? Bagaimana bisa berpikir sentrifugal, menarik luaran, gaya-gaya sampingan. Ah, ini rumit.

Kelicikan mungkin memang sesuatu yang semacam itu. saat saya ikrarkan dua kekhusyukan dalam satu hati, atau dua kepahaman dengan arogansi strata, juga reposisi luaran dari beberapa organ fikroh yang terdalam. Karena hikmah dalam ayat-ayat kauniyahNya begitu luas membentang.

Saya tidak berani, selebihnya, sebenarnya. Benar bilang pada saat itu, maaf, saya lebih bisa jadi jundi yang tho'at daripada teman sebaya yang komunikatif. Maaf, saya lebih bisa, jadi qaadah yang penuh strategi daripada sebaya yang begitu penyayang. Sebab menerobos itu lebih sederhana daripada meloncati tebing-tebing. Tebing perasaanmu, shohabati. Sebab keras itu lebih mudah dari menjaga nada bicara, bagiku, shohabati.

Aku balik lagi jadi mangsa raja-raja yang gila. Sebentar-sebentar menenggelamkan. Sebentar-sebentar merengek minta makan. Lapar katanya, mau ditinggal kasihan, dikasihani, jadi peninggalan.

Kelicikan itu ibarat tenun jerami. Ibarat konfigurasi. Ibarat aku meninggalkanmu kala sendiri.

Friday, September 20, 2013

Real Steel (not-a-real-REVIEW-at-all :)

Bismillah

Wew, agak canggung sebenernya nulis di blog kali ini. Oke kita bawa asik aja, yak, haha, soalnya kata beberapa orang terdekat, gue jarang asikin hidup. Hmm... ga juga sih :p

Tulisan ini gue rencanakan untuk mengulas salahsatu film favorit gue. Real Steel. :)
Hihi, jarang banget loh, jujur, gue nulis sebuah review. Jadi ini insyaAllah emang, yaa... jarang.. hhaha, jarang banget. Udah. Gitu aja. #geje

Oke, Real Steel tuh film Disney keluaran 2011 dan pertama kali dilaunching di Australia tanggal 6 Oktober 2011, yang ngambil Atlanta dan tahun 2020 sebagai latar utamanya. Intinya, di zaman itu, udah ga ada manusia yang jadi petinju. Semua kejuaraan tinju diambil alih sama robot. Main actor, Hugh Jackman (as Charlie Kenton) sebagai seorang mantan petinju juga terus ngikut kehidupan pertinjuan robot itu, dengan robot andalannya, Ambush.

Singkat cerita, sebenernnya yang sangat menarik dan bikin gue suka banget sama plot film ini bukan tentang Charlie-nya. Tapi soal keberadaan main actor lainnya, Dakota Goyo, yang meranin tokoh anaknya Charlie, Max Kenton. Imut banget anaknya, udah gitu, emang di film ini, Goyo look smart abis dan punya strong character yang cool banerr.

The real line story is.... Charlie dan Max sebagai ayah-anak baru bertemu setelah umur Max 11 tahun. Setelah Caroline Fallon, ibunya Max, mantan istrinya Charlie wafat. Gue agak males sebenernya nyeritain bagian ini, abis rempong banget, haha. Next is, Max menurut pengadilan, jadi wajib asuh bibi (adik almh ibunya) dan pamannya, Debra dan Marvin, tapi dengan tipudaya ayahnya, Marvin yang kaya itu membeli jasa asuh Charlie untuk sekian minggu selama ia dan Debra ke Italia. Singkatnya, Max akhirnya harus ikut ayahnya - yang udah dapet bayaran US$ 5000 dari Marvin - yang cuma seorang petinju Robot kelas bawah plus lagi bangkrut karena Ambush kalah waktu lawan banteng.

Haha, sori ya, kalau kalian yang lagi baca ini jadi gagal paham. Penulis memang agak some disturbing system gitu ya, untuk membahasakan kisah dengan lebih lunak lagi. Heehee.. #keeptryin

Kita pake perspek puzzling aja ngobrolnya yak, hhoo, jadi gue nggak akan ngulang nyeritain plotnya disini, ehm, gue bakal cerita aja bagian-bagian yang recommended to see. :D

Gue terharu banget sama setting Max dan Charlie lagi di pabrik robot buat nyuri bagian2 robot rakitan, setelah robot terbaru mereka yang dibeli seharga US$ 5000 - namanya Noisy Boy - ancur pas ngelawan Midas. Saat itu mereka udah nggak punya uang lagi, so emang udah nggak punya modal buat melanjutkan hidup lewat ngerobot. #apasih hhaaha

Intinya, gitu sih, Adegan menegangkan banget waktu Max jatoh ke tebing dan nyangkut di sebuah tangan robot generasi kedua (generasi lama, ceritanya). Hmm... berasa banget conditioning latar ayah-anaknya, tambah tampang takut-takutnya Dakota Goyo yang khas anak kecil banget waktu dicommand ngereaching tanga ayahnya tanpa try to see the under, gue... suka banget bagian ini, hehee..

Yang paling seru, di plot selanjutnya, strong characternnya Goyo nampil banget pas dia semacam silang pendapat sama ayahnya dan bersikeras ngangkut "tangan robot dan keseluruhanya" yang dianggepnya udah nolongin dia supaya ga jatuh. haha.. Ada banget dialog tajam yang bikin ketawa,

Max : Charlie, I thought there was a robot here,, (setelah lakon mata bulat terpana pas ngeliat baju robot di bawah tanah)
Charlie : So what? Lets Go, Come on, I was said it dangerous before !
Max : I'm take it with me. He save my life.
Charlie : He did not ! I-save-your-life. Lets Go !

Haha, dialog dua orang keras kepala. Bukannya manyun dan ikut gandengan ayahnya yang udah kayak tanpa hati ninggalin, Goyo (Max) malah "ngatur" Charlie (Jackman) untuk ninggalin troly mereka aja, supaya dia bisa bawa pulang tuh kerangka robot yang dianggapnya udah nolongin hidupnya. Sumpah, adaaa apa ya anak sekeras itu kemauannya *dlmhalpandangan* jaman sekarang, ah, gue belom pernah nemu. Kebanyakan anak-anak jaman sekarang mah pada cengeng, demennya nonton senetron maennya di sekolah "pacar-pacaran" maka terlahirlah generasi genit yang mengerikan kayak senior2 gue di kampus #ups. Rusak, dah, rusak, *lohkokjadikesini* :D

Dan... ternyata robot "sampahan" itu yang jadi keberuntungan plot mereka selanjutnya. Nama robotnya, Atom. Si atom ini ternyata tipe robot sparing yang auxalary di zaman robot tinju generasi kedua (gatau ya maksudnya di sutradara itu settingnya udah zama robot generasi keberapa ahaha).

Karena Atom ternyata punya kemampuan hear-and-echoes hmm... sederhananya, copas... hihi, maklum. Jadi dia bisa ngikutin gerakan objek yang di depannya, yang kena radar sensor kerobotannya gitu kali ya, #ngarang ahaha, ga ngerti gue sistem kayak gitu gimana logikanya yak, elo ngerti? ga juga kan yeyeyee :D

Oke, puzzle part kedua, adegan waktu Max jadi "orang pinggiran" waktu iring-iringan 'Zeus' keluar WRB (World Robot Boxing). Lakon mata bulatnya Max yang tersepona keluar lagi, tapi lebih shiny gitu, lebih condong ke karakter "pengamat yang cerdas dan terkagum". Lucu banget bagian Max bilang, "Sweet..." pake tendens amrik yang all-out.

Oia, sampe lupa, :) Zeus itu robot yang lagi "dewa" banget saat itu, dan semua acting max tadi dilakukan pas momen tim robotic Zeus, si Farra Lemkova dan Tak Mashido diwawancarai kerumunan pers.

Ada juga part sedihnya, loh, waktu Atom lagi menghasilkan banyak uang, Max and his daddy, didatangin musuh lama the daddy. Hm, dipukulin lah the daddy and his Son crying beside him. Hoho... Ada plot dimana di dalam van, Charlie kayak merenung gitu sambil ngeliatin Max tidur. And guess what next ?

Ya ! Charlie khawatir sama keselamatan Max. And the next he sent his son to the nanny, Debra and Marvin. :'(

Dialog yang kerennya, waktu Max ngambek setelah tau dia dibalikin ke bibinya,

Charlie : Okay, fine, What'd you want from me?!
Max : I just want you fight for me. That's all I want to.

Hiks.

Ada dua hal yang parah abis, gue suka banget, waktu Max bikin deal sama orang-orang termasuk ayahnya sendiri. Ahahahaa... sumpah, smart child banget. Dan waktu dia bilang "your secret was save with me." ke ayahnya di ending film ini.

Huaaaaaaaaaaa.... I love this film so much, :)

Gue emang gak berencana nyeritain film ini all in and out kok, hihiii... buat yang penasarann, nonton aja sendiri yak, hehehe... Atau karena sanking ga gaulnya gue, udah pada nonton semua lagi, ya, hehe... Soalnya keseringannya gitu sih, ya, ---____________--- gue ga update. Maklum deh yak,

But, thats all I've to write, cuma buat ngasah kepekaan hati aja, sih, gue bisa kok, kagum sama karya orang. InsyaAllah, karena ayat-ayat kauniyahNya begitu luas membentang.

Friday, September 13, 2013

Rasa-rasanya

Rasa-rasanya, banyak hal yang belum tersampaikan. Semacam presisi dan model indikatorisasi. Berapa, sebanyak apa. Berapa, sebesar apa, secerah apa, atau mungkin, sedusta apa.

Rasa-rasanya kita harus lebih banyak merasakan, yang bukan presisi, tidak seperti yang hampir setiap saat saya lakukan. Sesekali kita harus mencoba bertarung dengan kepekaan. Bashiroh hati. Kekuatan mata hati.

Rasa-rasanya saya harus lebih banyak merasakan.

Saturday, September 7, 2013

Saya tidak suka

Saya tidak suka banyak hal
Juga kenyataan bahwa saya tidak menyukai banyak hal

Saya tidak suka banyak diatur
Juga kenyataan bahwa dunia ini penuh dengan aturan

Oleh sebabnya saya berpikir untuk segera meninggalkan ketidaksukaan
Karena perlahan ia jadi mangsa raja-raja yang gila
Sebentar-sebentar menenggelamkan
Sebentar-sebentar merengek minta makan
Lapar katanya, mau ditinggal kasihan, dikasihani, jadi peninggalan

Saya tidak suka pementasan
Juga epilog yang lebay tanpa prolog yang mencerahkan

Bagi saya, lebih-lebih orang harus dibina dari awalan
Biar kuat karena kepahaman

Saya tidak suka gurauan bohong
Juga kenyataan bahwa semua kebohongan dan gurauan itu inti dunia

Makanya saya bersegera meninggalkan mereka
Karena perlahan mereka jadi resonansi faktual garis kebolehan
Sebentar-sebentar menyentak
Sebentar-sebentar ngambek sama diri sendiri
Gak suka katanya, ya gak suka aja, halal, ga ada urusan lagi ini

Kocak gitu
Saya tidak suka kocak sebegitunya

Itu kan, saya

Monday, September 2, 2013

Be a commander

This is my world. The dynamics.
This is the word I call to repose the things on me.

He said, I'm so Lucky because I know how to use some word describing I feel.
She said, I'm not that lucky because my line was on opposite.
They all a true

How could to be better?
How to be strong, tough, like a real qaadah?

How could to be dashing?
How could I be pronounce?
Not really on those assertive
but, a commander

Saturday, July 20, 2013

Terhenyak

Suatu hari, samar-samar saya terhenyak. Ketiduran di siang bolong, di atas meja belajar. Sekolah. Kelas Fisika.
Waktu itu, entah kenapa, saya tidak 'dipaksa' bangun seperti biasa. Lewat sindiran guru kami yang begitu rendah hati dan baik prasangka :) atau lewat cubitan kecil teman sebangku saya yang asli Bali itu. Saya terhenyak, samar-samar. Begitu saja. Tiba-tiba melihat seisi ruangan khusyuk mendengarkan guru kami menguraikan penjelasannya soal 'hambatan'. Mengulang materi dalam rangka persiapan ujian nasional. Ini ruang kelas XII IPA 3. Gila. Bisa-bisanya.
Senyum itu muncul tiba-tiba. Memaksa saya melihatnya, katanya, "Duh Mira, jago Biologinya ya.". Saya semakin 'ngimpi' nyadar-nyadar. Entah, kata-kata sederhana seperti itu tiba-tiba saja menderu, mengelebat, hati kecil saya cuma menjawab lesu, "Ga juga kali, emang di semua mapel rata-rata gue ga jago."

Saya ingin bisa berkata-kata yang sederhana. Seperti juga keterhenyakan saya kemarin lalu.

Dinding-dinding yang berlekatan. Di sisi-sisinya ada cincin-cincin bangunan yang membentuk relung-relung lautan. Semacam itu. Di balik kaca kereta.
Matarmaja yang membelah kota Semarang malam tadi. Tiba-tiba saja. Menjemput nyala-nyala pantulan cahaya kota yang di kejauhan. Di samping saya, di luar saya. Saya terhenyak, ya, sadar bahwa bibir ini menggumam sendiri atas keterkejutannya, "subhanallah"

Suatu hari juga saya ingin lagi diajari dengan sederhana. Membaca buku yang mudah dicerna. Bicara dengan bahasa lucu yang membuat tertawa.

Meja lingkaran warna merah muda. Di atas karpet hijau bunga-bunga. Si 'kabar gembira' bilang, 23 kali 15 berapa? '325' 24 kali 15 '360' kalo 5 kali 15? 'berapa' berapa ka? 'berapa...' ih berapa 'hm' 75
Katanya, "jadi kalo ada angka genap jadi sepuluh kalo ganjil jadi setengah ka?" Masa.. "Iya, ka," Masa sih... "Iya, kaka yang bilang, kalo setengah dibagi setengah jadi genap kalo genap dibagi ganjil jadi setengah." Ha?? "IYAAAA" Siapa bilang begitu? "Kaka, aku ngisi ujian pecahan kayak gitu tadi. Jadi aku ga mikir, topceer pokonya, rumus kaka, 3 menit udah selesai semua soal, hehehhee" Dan sesederhana bahwa, saya jadi merasa bersalah. Saya memang ga cocok jadi guru bimbel SD. Dan tawa kami bergentayangan di ruangan, si 'kabar gembira' tetap gaya dengan tampang percaya dirinya. Katanya, lain kali bisa lebih jauh lagi mencerna 'ajaran-ajaran' dalam obrolan kami. IQ beliau kan cuma 120, bukan 210. Saya sekali lagi merasa bersalah.

Dan setiap kali terdengar adzan yang bergema. Saya rindu di masa depan, menangkap kelugasan dan kejujuran. Bahwa syiar dakwah ini begitu lurus. Begitu senarai nyata soal perjuangan. Tidak licik, tidak berbelok, tidak menahan kasih sayang.

Berkata-kata yang tulus dan penuh prasangka baik sekalipun dalam 'kegelisahan' seperti yang ditunjukan guru fisika kami. Mengucap kesyukuran seketika merasakannya. Juga menarik kepercayaan sepolos dan semudah anak kelas 5 SD yang belajar hitungan. Selugas adzan kami yang 5 kali sehari. Ayo Sholat, Ayo menuju kemenangan.

Allahu Rabb, Allahu Ghoyatuna.
Ya Allah bukakanlah setiap baris-baris pintu hidayahMu, untuk kami.
Sekedar merintih, menyaksikan waktu-waktu. Melihat amal-amal yang belum sempurna. Diri-diri yang berlumuran dosa. Dan kedekatan hari-hari pertemuan. :')

Friday, July 5, 2013

The Heartfelt

Bismillah
Menatapi langit di lapangan jemuran sambil menggigil kedinginan, pukul 11:44 malam, kantuk yang tertahan, kata-kata yang berkeliaran, membusuk, ya, liar, ah, mana mungkin busuk sementara ia bekeliaran? bukankah sesuatu yang masih bergerak terhindar dari kematian, apalagi kebusukan? Kalau begitu bisa dikatakan ini soal kebusukan yang masih hidup liar, di otak saya, zombie logika. #ngek
Tidak mampu tertuliskan, ah manusia begitu terbatas bukan? Saya jadi ingat salahsatu nada favorit saya.. 

perlahan, sangat pelan, hingga tenang kan menjelang 
disini ku berdiskusi dengan alam yang lirih. kenapa indah pelangi tak berujung sampai ke bumi?
aku orang malam yang membicarakan terang
cahaya bulan menusukku, dengan ribuan pertanyaan, yang tak kan pernah ku tahu, dimana jawaban itu
bagai letusan berapi, bangunkanku dari mimpi, sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati
ketakutan melumpuhkanku
terangi dengan cinta di gelapku, dimana jawaban itu
cahaya bulan menusukku, dengan ribuan pertanyaan

Cahaya Bulan. Representatif banget kan, ya? Hahaa.. --> geje
Maka seperti inilah saya saat ini. Kader galau. Kaku untuk menulis di publik lagi. Lupa sintesa, terlalu benci untuk kembali. Mengingat bahwa waktu membawa kita begitu cepat melangkah, menyeret-nyeret, sampai ruhiyy yangdhaif ini berdarah-darah, memaknai, marah, mengakui kelemahan diri.
Jadi cemen, berdecak setiap kali teringat dan bertemu dengan wajah-wajah sholeh itu, ah, manusia begitu lemahnya bukan?
Bukan ini yang ingin saya bicarakan. Kembali menilik fatalitas Derrida, kata adalah apa yang mendefinisi. Apapun itu. Secara gila, saya pun memaknainya bahwa, tulisan adalah apapun yang merupakan sebentukan kata-kata. Saya hanya mencoba take-off. Muter lapangan dulu. Hehehe. 
Ini tentang mawar merah, ya, dan bumi yang dalam genggaman.
Suatu whispering yang mengagetkan di tengah 10 menit pertama terlelapnya saya beberapa jam yang lalu. Mengganggu, menjengkelkan. Seakan saya ikhwan yang gila kerja atau kepala keluarga yang penuh tanggungjawab, mikirin whishing anaknya, subhanallah ya orangtua2 kita, (apaan deh --"). Ya, intinya, jiwa dan mental saya memang maskulin kok. Ahahahahaa
Percaya aja.
Mengingat sebuah konteks definan kata fenomenal dalam pidato salahsatu tokoh politik di NKRI (Ust. Anis Matta) beberapa waktu lalu, "konspirasi". Saya membuka kembali beberapa rekam jejak tulisan kepartaian yang dapat diakses publik. Di tulisan kader PKS ada istilah "skenario gelap"[1], di tulisan Julian Aldrian Pasha, ada istilah “salahpaham”[2]. Saya tidak tahu ini sebuah semiotika yang dipaksakan atau memang suhu di atas sana begitu remang.
Secara jelas dan pasti, public lebih suka tercengang untuk anak Hatta Rajasa yang belum juga ditahan dengan alasan cengeng semacam depresi (sakit) karena shock sementara keluarga dua orang korban tewasnya – mungkin – sudah kering airmata. Atau mengenang romantisme 40 milyar ala Royal Wedding Ibas dan Alya. Masyarakat kita, sejauh pandangan saya, tendensi melankolisnya telah berada dalam satu deret majas sastra bernama, “hiperbola”. Alasan-alasan cengeng dan permintaan maaf yang mengharukan sambil airmata tertumpah dan terpingsan-pingsan tentu lebih dapat diamini sebagai keinsyafan daripada pertanggungjawaban litigasi setimpal.
Tren kasus hukum yang sengaja-ngaja diterbitkan juga semacam surut pandangan ilmiah. Berkali-kali litigasi orang miskin yang menyakitkan dan terseret-seretnya putusan pemidanaan kasus korupsi “orang besar” lebih jauh mengarah pada kisah-kisah sinetron soal keadilan.
Intinya bagi saya, wa’yu siyasi semacam itu jadi kolegium lingkungan yang telah mengakar dimana-mana, atas dan bawah. Sehingga para politisi kita, dari berbagai arah, wajar, mencari perhatian dengan klausul ‘membahana’ semacam ‘konspirasi’, ‘salahpaham’ atau bahkan, ‘diserang’. Apalagi dengan mutu koheren dakwah siyasi tingkat nasional, adanya ‘tiputipu’ semacam itu amat mungkin terjadi. Kita pula telah melihat dan saya secara pribadi menjadi saksi bagaimana ‘konspirasi’ benar-benar dijalankan orang-orang berkuasa. Hidup ini, kehidupan perpolitikan kita, busuk. Itu benar adanya. Penuh konspirasi, saya setuju saja. Tapi pembicaraan seperti ini memang hanya bisa diamini mereka yang bermain, bukan?
Tapi ini soal sesuatu yang lebih besar. Bahwa sekarang, anggaplah kita semua meyakini bahwa kebusukan peta politik seperti itu makmur adanya. Setujulah kita bahwa sikut kanan dan kiri lebih ‘sinetronistis’ dari yang dekat-dekat ini bisa kita bayangkan. Mereka begitu kotor dan kekotoran semacam itu jatuh menitik sampai ke bawah-bawah. Bagaimana tendensi deret majas ‘hiperbola’ masyarakat kita semakin ditilik sebagai ‘peluang’ permainan logika public.
Hm, tumpukan buku di samping saya sedang bernyanyi, rupanya, katanya "buka akuu.." "aku ajjaaa.." "aku aja,, dia jelek.." apa dah… ahaha, dasar pada kocak,
Fenomena politik selalu mengandung dimensi konflik dan integrasi. Dua factor penyebab konflik, pertama, factor individu seperti kecerdasan (aptitude) atau psikologis lainnya. Kedua, factor kolektif seperti perbedaan kelas, rasialis, atau sosiokultural lainnya.[3]
Statement ilmiah Maurice Duverger di atas tentunya membuat kita harus kembali menelusuri, konflik politik macam apa yang kini bermain di pentas politik level nasional? Dan kemanakah taraf integrasi itu bermuara? Atau apakah, tesis semacam itu sebenarnya tidak perlu dipikirkan sebagai konteks utuh? Kebanyakan teori seperti itu.
Sebab artinya konflik bisa saja dimaksudkan sebagai sebuah kotom fungsi dari integrasi itu sendiri - dan sebaliknya. Sehingga eternitas keduanya cukup punya legitimasi sejalan dengan fenomena-fenomena individu atau kolektif. Disini saya jadi semakin miskin definansi, ah, menyebalkan sekali, karena satu kata dalam teori tidak bisa dipakai sembarangan sebagai rujukan selainnya. Padahal frekuensi perasaan dan paradigma diksi saya sering berbeda dari kebanyakan orang.
Ini memang ocehan yang kurang jelas ya, --"
Intinya, shohabati, wa'yu siyasi dalam taraf abstraksi barat bernilai setara paduan konflik dan integrasi timbal balik, merekomposisi sebuah definansi fenomenologi. Rujukan yang kemudian menyetir peta adab politik sebagai gejolak konflik yang - sengaja - tidak diredakan. Maka permainan kita sampai pada sebuah kolegium paradigmatik bersama orang-orang politik 'konspiran' konflik-integratif.
Dalam gejala yang saya renungi, wa'yu siyasi kita jadi semacam, permainan eduksi. Dimana eduksi memberitahu kita bagaimana seharusnya mengubah suatu proposisi kepada proposisi lain tanpa mengubah makna, disamping memberi pedoman apakah dua proposisi kategorik atau lebih mempunyai makna yang sama atau berbeda.[4]  Dua kaki, tiga kaki *obat panas dalem dong ya, ahaha* sama-sama mulianya. Semacam, jadi badut di ulangtahun sendiri.
Saya tidak tahu banyak hal. Ya, Allah, faghfirli.
Saya sekedar merasa irritated. *subhanallah, pake2 perasaan gue, sekarang ya* Bahwa kadang forum-forum siyasi kita mungkin kering keimanan. Belajar logika dan angka-angka fakta paradigma mekanika. Belajar bicara dan kesan-kesan elegan kemenangan data-data. Ah, bahwa saya jadi terharu, sesekali.
Saya tidak mengetahui banyak hal, maka luruskanlah, saudaraku.
Hanya semacam. Dialog dengan seorang sahabat yang kini begitu saya rindukan *ihhirr* dimana dibacakan sebuah ayat dalam Alqur'an sebelum melepas saya pergi ke fakultas hukum, “afahukumal jaahilliyyahi yabghun? wa man ahsanu minallahi qaumiy ya'qiluun.”[5] Balas saya saat itu, “Yaa ayyuhaladzina aamanu, khudzuu hidzrokum fa anfiruu tsubaatin aw infiruu jamii’an.”[6] Lalu sambil tersenyum wajahnya cerah, dibacakannya, “Wa innaa lajamii‘un haadziruun.”[7]
Pembacaan peta posisi bukan maneuver arah gerak itu sendiri bukan?
Sebab pembuluh gerakan ini berdiri pada pertengahan, dimana disaksikan Rasulullah SAW dan menyaksikan manusia. Bagaimana menjadikan diri bagian dari tribulasi dan tetap pada relnya. Bagaimana membaca risalah juga petunjuk-petunjuk kauniyahNya. Sesuatu yang memakan kesabaran lebih banyak.
Dan tarbiyah membina, bahwa syumuliyatul islam dibangun menuju sentripetal takdir Allah atas masing-masing insan. Sebab segalanya bermula dari tarbiyah.
Wallahu’alam bis showab



[1] Sapto Waluyo, Kebangkitan Politik dakwah. Haraktuna. 2004, hal 123.
[2] Kompas, 3 Desember 2010.
[3] Maurice Duverger, Sociological Politics, diterjemahkan Daniel Dhakidae. 2003, bag. Pengantar.
[4] Raymond J McCall, Basic Logic, second edition, New York, Barnes & Noble Inc., 1966, hal 114.
[5] Al Maidaah : 50
[6] An Nisaa : 71
[7] Asy Syu’araa’ : 26


Sebuah Tulisan yang belum selesai,
Best Regard,
mirafajri