Suatu hari, samar-samar saya terhenyak. Ketiduran di siang bolong, di atas meja belajar. Sekolah. Kelas Fisika.
Waktu itu, entah kenapa, saya tidak 'dipaksa' bangun seperti biasa. Lewat sindiran guru kami yang begitu rendah hati dan baik prasangka :) atau lewat cubitan kecil teman sebangku saya yang asli Bali itu. Saya terhenyak, samar-samar. Begitu saja. Tiba-tiba melihat seisi ruangan khusyuk mendengarkan guru kami menguraikan penjelasannya soal 'hambatan'. Mengulang materi dalam rangka persiapan ujian nasional. Ini ruang kelas XII IPA 3. Gila. Bisa-bisanya.
Senyum itu muncul tiba-tiba. Memaksa saya melihatnya, katanya, "Duh Mira, jago Biologinya ya.". Saya semakin 'ngimpi' nyadar-nyadar. Entah, kata-kata sederhana seperti itu tiba-tiba saja menderu, mengelebat, hati kecil saya cuma menjawab lesu, "Ga juga kali, emang di semua mapel rata-rata gue ga jago."
Saya ingin bisa berkata-kata yang sederhana. Seperti juga keterhenyakan saya kemarin lalu.
Dinding-dinding yang berlekatan. Di sisi-sisinya ada cincin-cincin bangunan yang membentuk relung-relung lautan. Semacam itu. Di balik kaca kereta.
Matarmaja yang membelah kota Semarang malam tadi. Tiba-tiba saja. Menjemput nyala-nyala pantulan cahaya kota yang di kejauhan. Di samping saya, di luar saya. Saya terhenyak, ya, sadar bahwa bibir ini menggumam sendiri atas keterkejutannya, "subhanallah"
Suatu hari juga saya ingin lagi diajari dengan sederhana. Membaca buku yang mudah dicerna. Bicara dengan bahasa lucu yang membuat tertawa.
Meja lingkaran warna merah muda. Di atas karpet hijau bunga-bunga. Si 'kabar gembira' bilang, 23 kali 15 berapa? '325' 24 kali 15 '360' kalo 5 kali 15? 'berapa' berapa ka? 'berapa...' ih berapa 'hm' 75
Katanya, "jadi kalo ada angka genap jadi sepuluh kalo ganjil jadi setengah ka?" Masa.. "Iya, ka," Masa sih... "Iya, kaka yang bilang, kalo setengah dibagi setengah jadi genap kalo genap dibagi ganjil jadi setengah." Ha?? "IYAAAA" Siapa bilang begitu? "Kaka, aku ngisi ujian pecahan kayak gitu tadi. Jadi aku ga mikir, topceer pokonya, rumus kaka, 3 menit udah selesai semua soal, hehehhee" Dan sesederhana bahwa, saya jadi merasa bersalah. Saya memang ga cocok jadi guru bimbel SD. Dan tawa kami bergentayangan di ruangan, si 'kabar gembira' tetap gaya dengan tampang percaya dirinya. Katanya, lain kali bisa lebih jauh lagi mencerna 'ajaran-ajaran' dalam obrolan kami. IQ beliau kan cuma 120, bukan 210. Saya sekali lagi merasa bersalah.
Dan setiap kali terdengar adzan yang bergema. Saya rindu di masa depan, menangkap kelugasan dan kejujuran. Bahwa syiar dakwah ini begitu lurus. Begitu senarai nyata soal perjuangan. Tidak licik, tidak berbelok, tidak menahan kasih sayang.
Berkata-kata yang tulus dan penuh prasangka baik sekalipun dalam 'kegelisahan' seperti yang ditunjukan guru fisika kami. Mengucap kesyukuran seketika merasakannya. Juga menarik kepercayaan sepolos dan semudah anak kelas 5 SD yang belajar hitungan. Selugas adzan kami yang 5 kali sehari. Ayo Sholat, Ayo menuju kemenangan.
Allahu Rabb, Allahu Ghoyatuna.
Ya Allah bukakanlah setiap baris-baris pintu hidayahMu, untuk kami.
Sekedar merintih, menyaksikan waktu-waktu. Melihat amal-amal yang belum sempurna. Diri-diri yang berlumuran dosa. Dan kedekatan hari-hari pertemuan. :')
enter your koment here, ohh men tulisannya melambung
ReplyDeletemelambung? lebay ya pak? :)
Deleteoh dulu ipa ya mbak?
ReplyDelete"Dan setiap kali terdengar adzan yang bergema. Saya rindu di masa depan, menangkap kelugasan dan kejujuran. Bahwa syiar dakwah ini begitu lurus. Begitu senarai nyata soal perjuangan. Tidak licik, tidak berbelok, tidak menahan kasih sayang." << ngeri mbak. hehe ^^
iya, hehe, ga tampang banget ya :D
Deletehelee bisa aja Eno.. semoga bermanfaat :3