Friday, July 5, 2013

The Heartfelt

Bismillah
Menatapi langit di lapangan jemuran sambil menggigil kedinginan, pukul 11:44 malam, kantuk yang tertahan, kata-kata yang berkeliaran, membusuk, ya, liar, ah, mana mungkin busuk sementara ia bekeliaran? bukankah sesuatu yang masih bergerak terhindar dari kematian, apalagi kebusukan? Kalau begitu bisa dikatakan ini soal kebusukan yang masih hidup liar, di otak saya, zombie logika. #ngek
Tidak mampu tertuliskan, ah manusia begitu terbatas bukan? Saya jadi ingat salahsatu nada favorit saya.. 

perlahan, sangat pelan, hingga tenang kan menjelang 
disini ku berdiskusi dengan alam yang lirih. kenapa indah pelangi tak berujung sampai ke bumi?
aku orang malam yang membicarakan terang
cahaya bulan menusukku, dengan ribuan pertanyaan, yang tak kan pernah ku tahu, dimana jawaban itu
bagai letusan berapi, bangunkanku dari mimpi, sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati
ketakutan melumpuhkanku
terangi dengan cinta di gelapku, dimana jawaban itu
cahaya bulan menusukku, dengan ribuan pertanyaan

Cahaya Bulan. Representatif banget kan, ya? Hahaa.. --> geje
Maka seperti inilah saya saat ini. Kader galau. Kaku untuk menulis di publik lagi. Lupa sintesa, terlalu benci untuk kembali. Mengingat bahwa waktu membawa kita begitu cepat melangkah, menyeret-nyeret, sampai ruhiyy yangdhaif ini berdarah-darah, memaknai, marah, mengakui kelemahan diri.
Jadi cemen, berdecak setiap kali teringat dan bertemu dengan wajah-wajah sholeh itu, ah, manusia begitu lemahnya bukan?
Bukan ini yang ingin saya bicarakan. Kembali menilik fatalitas Derrida, kata adalah apa yang mendefinisi. Apapun itu. Secara gila, saya pun memaknainya bahwa, tulisan adalah apapun yang merupakan sebentukan kata-kata. Saya hanya mencoba take-off. Muter lapangan dulu. Hehehe. 
Ini tentang mawar merah, ya, dan bumi yang dalam genggaman.
Suatu whispering yang mengagetkan di tengah 10 menit pertama terlelapnya saya beberapa jam yang lalu. Mengganggu, menjengkelkan. Seakan saya ikhwan yang gila kerja atau kepala keluarga yang penuh tanggungjawab, mikirin whishing anaknya, subhanallah ya orangtua2 kita, (apaan deh --"). Ya, intinya, jiwa dan mental saya memang maskulin kok. Ahahahahaa
Percaya aja.
Mengingat sebuah konteks definan kata fenomenal dalam pidato salahsatu tokoh politik di NKRI (Ust. Anis Matta) beberapa waktu lalu, "konspirasi". Saya membuka kembali beberapa rekam jejak tulisan kepartaian yang dapat diakses publik. Di tulisan kader PKS ada istilah "skenario gelap"[1], di tulisan Julian Aldrian Pasha, ada istilah “salahpaham”[2]. Saya tidak tahu ini sebuah semiotika yang dipaksakan atau memang suhu di atas sana begitu remang.
Secara jelas dan pasti, public lebih suka tercengang untuk anak Hatta Rajasa yang belum juga ditahan dengan alasan cengeng semacam depresi (sakit) karena shock sementara keluarga dua orang korban tewasnya – mungkin – sudah kering airmata. Atau mengenang romantisme 40 milyar ala Royal Wedding Ibas dan Alya. Masyarakat kita, sejauh pandangan saya, tendensi melankolisnya telah berada dalam satu deret majas sastra bernama, “hiperbola”. Alasan-alasan cengeng dan permintaan maaf yang mengharukan sambil airmata tertumpah dan terpingsan-pingsan tentu lebih dapat diamini sebagai keinsyafan daripada pertanggungjawaban litigasi setimpal.
Tren kasus hukum yang sengaja-ngaja diterbitkan juga semacam surut pandangan ilmiah. Berkali-kali litigasi orang miskin yang menyakitkan dan terseret-seretnya putusan pemidanaan kasus korupsi “orang besar” lebih jauh mengarah pada kisah-kisah sinetron soal keadilan.
Intinya bagi saya, wa’yu siyasi semacam itu jadi kolegium lingkungan yang telah mengakar dimana-mana, atas dan bawah. Sehingga para politisi kita, dari berbagai arah, wajar, mencari perhatian dengan klausul ‘membahana’ semacam ‘konspirasi’, ‘salahpaham’ atau bahkan, ‘diserang’. Apalagi dengan mutu koheren dakwah siyasi tingkat nasional, adanya ‘tiputipu’ semacam itu amat mungkin terjadi. Kita pula telah melihat dan saya secara pribadi menjadi saksi bagaimana ‘konspirasi’ benar-benar dijalankan orang-orang berkuasa. Hidup ini, kehidupan perpolitikan kita, busuk. Itu benar adanya. Penuh konspirasi, saya setuju saja. Tapi pembicaraan seperti ini memang hanya bisa diamini mereka yang bermain, bukan?
Tapi ini soal sesuatu yang lebih besar. Bahwa sekarang, anggaplah kita semua meyakini bahwa kebusukan peta politik seperti itu makmur adanya. Setujulah kita bahwa sikut kanan dan kiri lebih ‘sinetronistis’ dari yang dekat-dekat ini bisa kita bayangkan. Mereka begitu kotor dan kekotoran semacam itu jatuh menitik sampai ke bawah-bawah. Bagaimana tendensi deret majas ‘hiperbola’ masyarakat kita semakin ditilik sebagai ‘peluang’ permainan logika public.
Hm, tumpukan buku di samping saya sedang bernyanyi, rupanya, katanya "buka akuu.." "aku ajjaaa.." "aku aja,, dia jelek.." apa dah… ahaha, dasar pada kocak,
Fenomena politik selalu mengandung dimensi konflik dan integrasi. Dua factor penyebab konflik, pertama, factor individu seperti kecerdasan (aptitude) atau psikologis lainnya. Kedua, factor kolektif seperti perbedaan kelas, rasialis, atau sosiokultural lainnya.[3]
Statement ilmiah Maurice Duverger di atas tentunya membuat kita harus kembali menelusuri, konflik politik macam apa yang kini bermain di pentas politik level nasional? Dan kemanakah taraf integrasi itu bermuara? Atau apakah, tesis semacam itu sebenarnya tidak perlu dipikirkan sebagai konteks utuh? Kebanyakan teori seperti itu.
Sebab artinya konflik bisa saja dimaksudkan sebagai sebuah kotom fungsi dari integrasi itu sendiri - dan sebaliknya. Sehingga eternitas keduanya cukup punya legitimasi sejalan dengan fenomena-fenomena individu atau kolektif. Disini saya jadi semakin miskin definansi, ah, menyebalkan sekali, karena satu kata dalam teori tidak bisa dipakai sembarangan sebagai rujukan selainnya. Padahal frekuensi perasaan dan paradigma diksi saya sering berbeda dari kebanyakan orang.
Ini memang ocehan yang kurang jelas ya, --"
Intinya, shohabati, wa'yu siyasi dalam taraf abstraksi barat bernilai setara paduan konflik dan integrasi timbal balik, merekomposisi sebuah definansi fenomenologi. Rujukan yang kemudian menyetir peta adab politik sebagai gejolak konflik yang - sengaja - tidak diredakan. Maka permainan kita sampai pada sebuah kolegium paradigmatik bersama orang-orang politik 'konspiran' konflik-integratif.
Dalam gejala yang saya renungi, wa'yu siyasi kita jadi semacam, permainan eduksi. Dimana eduksi memberitahu kita bagaimana seharusnya mengubah suatu proposisi kepada proposisi lain tanpa mengubah makna, disamping memberi pedoman apakah dua proposisi kategorik atau lebih mempunyai makna yang sama atau berbeda.[4]  Dua kaki, tiga kaki *obat panas dalem dong ya, ahaha* sama-sama mulianya. Semacam, jadi badut di ulangtahun sendiri.
Saya tidak tahu banyak hal. Ya, Allah, faghfirli.
Saya sekedar merasa irritated. *subhanallah, pake2 perasaan gue, sekarang ya* Bahwa kadang forum-forum siyasi kita mungkin kering keimanan. Belajar logika dan angka-angka fakta paradigma mekanika. Belajar bicara dan kesan-kesan elegan kemenangan data-data. Ah, bahwa saya jadi terharu, sesekali.
Saya tidak mengetahui banyak hal, maka luruskanlah, saudaraku.
Hanya semacam. Dialog dengan seorang sahabat yang kini begitu saya rindukan *ihhirr* dimana dibacakan sebuah ayat dalam Alqur'an sebelum melepas saya pergi ke fakultas hukum, “afahukumal jaahilliyyahi yabghun? wa man ahsanu minallahi qaumiy ya'qiluun.”[5] Balas saya saat itu, “Yaa ayyuhaladzina aamanu, khudzuu hidzrokum fa anfiruu tsubaatin aw infiruu jamii’an.”[6] Lalu sambil tersenyum wajahnya cerah, dibacakannya, “Wa innaa lajamii‘un haadziruun.”[7]
Pembacaan peta posisi bukan maneuver arah gerak itu sendiri bukan?
Sebab pembuluh gerakan ini berdiri pada pertengahan, dimana disaksikan Rasulullah SAW dan menyaksikan manusia. Bagaimana menjadikan diri bagian dari tribulasi dan tetap pada relnya. Bagaimana membaca risalah juga petunjuk-petunjuk kauniyahNya. Sesuatu yang memakan kesabaran lebih banyak.
Dan tarbiyah membina, bahwa syumuliyatul islam dibangun menuju sentripetal takdir Allah atas masing-masing insan. Sebab segalanya bermula dari tarbiyah.
Wallahu’alam bis showab



[1] Sapto Waluyo, Kebangkitan Politik dakwah. Haraktuna. 2004, hal 123.
[2] Kompas, 3 Desember 2010.
[3] Maurice Duverger, Sociological Politics, diterjemahkan Daniel Dhakidae. 2003, bag. Pengantar.
[4] Raymond J McCall, Basic Logic, second edition, New York, Barnes & Noble Inc., 1966, hal 114.
[5] Al Maidaah : 50
[6] An Nisaa : 71
[7] Asy Syu’araa’ : 26


Sebuah Tulisan yang belum selesai,
Best Regard,
mirafajri

2 comments:

  1. ant punya juga bukunya sapto waluyo< kumpulan artikel politik >

    ReplyDelete
    Replies
    1. hm, iya pak, ko ga ada lagi ya buku grandline politik dakwah pasca yg 2004 itu? malah jd dilahap materi burhanudin muhtadi hhaa

      Delete