Friday, October 18, 2013
Lor Ah Soo
Aku semakin yakin bahwa Lor Ah memang bukan padanan kata yang tepat untukmu. Kemarin lalu waktu aku temui, kau terlihat begitu baru, lesu. Berdesah malu-malu.
Sunday, October 13, 2013
Gejala Anonim FH UB : Menyebarkan Fitnah dan Kesalahpahaman, Hindarilah.
Bismillah
Saya tuliskan ini dengan suatu perasaan yang meringis. Entah karena lemahnya ia, atau panah-panah yang mengenainya. Saya masih ingin bicara dengan cinta yang sederhana. Bahasa yang semoga saja mudah dibaca.
Oleh karena hati yang syahdu, ingin lagi bersaudara, bukan karena sesiapa atau berasal darimana.
Oleh karena hati yang sendiri, ingin lagi bergenggaman, menguatkan, bukan karena diberi apa atau mau pergi kemana. Siapa saja.
Saya sadari bahwa, hidup ini begitu singkatnya. Tidak ada waktu untuk bercanda, sebenarnya, sebab canda itu sudah klausul matematisnya duniawi, dunia kita sekarang ini. Canda-canda jalanan ibukota Jakarta, di kerlip malam inipun, sama saja. Bikin menggigil sekujuran tubuh saya, bikin biru bibir yang coba terbasahi kalimat-kalimat doa, sekuat tenaga.
Agar perasaanku yang tiba-tiba meringis ini terobati, agar terdengar dengan seksama, bahwa aku tak mengambil jeruji-jeruji untuk bohong padamu, atau pada diriku.
Saya tidak ingin membela sebarisan kata yang tak pantas dibela, sebarisan kata yang bukan pula buatan saya, buatan orang-orang di UMM waktu kongres dulu, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia.
Bukan, bukan frase ini yang akan saya bela. Saya telah meninggalkannya, sesegera setelah saya mendapatkan yang lebih darinya. Ketenangan hati, kekuatan, alasan yang nyata, gairah berkarya.
Iya, ini hanya tentang budaya yang menggejala dan menyakiti yang lainnya. Soal mereka yang bilang membela suatu idea, tapi, maaf, dalam pandangan saya, justru mengotorinya. Pro Justicia tidak dibela dengan fitnah, Pro Justicia hidup dengan baris-baris yang sistematis, gamblang, dan tentunya, tidak anonim. :)
Saya, jujur saja, tidak biasa berkata yang dilembut-lembutkan. Saya orang yang keras, keras dalam mengambil pilihan, biasanya, keras juga dalam mengambil diksi-diksi. Karena kehidupan bagi saya telah mengajarkan banyak keteguhan. Di tengah sini, saya mohon maaf atas kata-kata yang mungkin menyakiti hati. Saya hanya yakin bahwa cinta adalah konsep bicara apa adanya. Maka, ya, beginilah. :)
Jika kita cinta Fakultas Hukum, marilah sama berkarya lewat namanya. Bawa ia kemana-mana, bersama-sama. Jangan pandang benci yang sedikit 'berbeda'. Ayo berkenalan.
Jika kita benar segitunya membela Pro Justicia, marilah sama adil pada nurani. Jelajahi hati sampai ke sisi-sisinya. Kalau merasa ada masalah, buka bicara pada semua, audi et alterram partem, jika tidak, tidak bicara tentang yang tidak diketahuinya. Ini jiwa hukum bukan?
Jika benar, dari hati dan kesadaran terdalam, nyata-nyata berkata, Hukum Bersatu Tak Bisa Dikalahkan, marilah sama-sama saja membuka senyuman, jangan hanya lewat di bibir saja. Pembuktian.
Saya sekedar merasa perlu menyitir keadaan miris, menjalankan sebuah proyek sederhana di DSM, ada pihak yang merasa sudah sungguh-sungguh? Ada yang sudah merasa sangat penuh integritas? Yang mana yang @FHBrawijaya? Mana bukti?
Gejala dan praktek perkambinghitaman memang selalu marak setiap kita akan mengakhiri semester ganjil.
Menyesakkan sekali mengetahui bahwa, masih begini gaya-gaya "cari perhatian publik" di kampus kita. Masih pecundang seperti ini, main belakang, pseudonim, semi, yo tetep anonim !
Jangan, jangan sampai karena dengkimu, menyakiti yang kau katakan "Hukum Bersatu tak Bisa Dikalahkan" bukan?
Saya tidak ingin main drama, ini bukan drama-drama-an. Bukan picisan.
Ayo, duduk bicara dan atur kepahaman, agar lega hatiku dan hati kita semua.
Saya kembali katakan, anak KAMMI tak sebanyak hegemoni kader HMI atau anggota PMP hukum Brawijaya. Jadi jangan takut kami 'menguasasi' dan membelakangi almamater kita. KAMMI tak pernah sebegitu nafsu untuk cari tahta dunia. Ini soal perimbangan, keadilan bagi setiap kebijaksanaan. Kebijaksanaan kami, Islam yang rahamatan lil 'alamin, insyaAllah. Yang dengan inilah orang-orang KAMMI ketika memimpin, yang dengan inilah mereka dibekali, habis itu lepas, tak boleh gila nama dan label.
Tapi sakit juga ketika disalahpahami, pula disebar-sebarkan kesalahpahaman tentang kami ke banyak orang, hingga jadi fitnah yang menghitamkan apa yang putih, memunculkan prasangka tanpa bukti, juga kilas pemahaman tanpa tanya-jawab yang berakal. Innalillahi.
Saya hanya pernah tiga kali mengajak orang masuk KAMMI, 2 ditolak, satunya berangkat. Oleh karena kami sadari, tak banyak orang yang akan membersamai kami di jalan ini. Sebab bukan nama yang kami bela, bukan organisasi belaka, tapi kepahaman, kemunculan tunas-tunas harapan bangsa. Yang dekat dengan Tuhannya, juga pandai mengaji, sadar jiwa dan fitrahnya, sekedarnya, sekedar itu saja.
Ya Allah, faghfirlanaa, innaka anta samii'ud du'aa.
Saya tuliskan ini dengan suatu perasaan yang meringis. Entah karena lemahnya ia, atau panah-panah yang mengenainya. Saya masih ingin bicara dengan cinta yang sederhana. Bahasa yang semoga saja mudah dibaca.
Oleh karena hati yang syahdu, ingin lagi bersaudara, bukan karena sesiapa atau berasal darimana.
Oleh karena hati yang sendiri, ingin lagi bergenggaman, menguatkan, bukan karena diberi apa atau mau pergi kemana. Siapa saja.
Saya sadari bahwa, hidup ini begitu singkatnya. Tidak ada waktu untuk bercanda, sebenarnya, sebab canda itu sudah klausul matematisnya duniawi, dunia kita sekarang ini. Canda-canda jalanan ibukota Jakarta, di kerlip malam inipun, sama saja. Bikin menggigil sekujuran tubuh saya, bikin biru bibir yang coba terbasahi kalimat-kalimat doa, sekuat tenaga.
Agar perasaanku yang tiba-tiba meringis ini terobati, agar terdengar dengan seksama, bahwa aku tak mengambil jeruji-jeruji untuk bohong padamu, atau pada diriku.
Saya tidak ingin membela sebarisan kata yang tak pantas dibela, sebarisan kata yang bukan pula buatan saya, buatan orang-orang di UMM waktu kongres dulu, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia.
Bukan, bukan frase ini yang akan saya bela. Saya telah meninggalkannya, sesegera setelah saya mendapatkan yang lebih darinya. Ketenangan hati, kekuatan, alasan yang nyata, gairah berkarya.
Iya, ini hanya tentang budaya yang menggejala dan menyakiti yang lainnya. Soal mereka yang bilang membela suatu idea, tapi, maaf, dalam pandangan saya, justru mengotorinya. Pro Justicia tidak dibela dengan fitnah, Pro Justicia hidup dengan baris-baris yang sistematis, gamblang, dan tentunya, tidak anonim. :)
Saya, jujur saja, tidak biasa berkata yang dilembut-lembutkan. Saya orang yang keras, keras dalam mengambil pilihan, biasanya, keras juga dalam mengambil diksi-diksi. Karena kehidupan bagi saya telah mengajarkan banyak keteguhan. Di tengah sini, saya mohon maaf atas kata-kata yang mungkin menyakiti hati. Saya hanya yakin bahwa cinta adalah konsep bicara apa adanya. Maka, ya, beginilah. :)
Jika kita cinta Fakultas Hukum, marilah sama berkarya lewat namanya. Bawa ia kemana-mana, bersama-sama. Jangan pandang benci yang sedikit 'berbeda'. Ayo berkenalan.
Jika kita benar segitunya membela Pro Justicia, marilah sama adil pada nurani. Jelajahi hati sampai ke sisi-sisinya. Kalau merasa ada masalah, buka bicara pada semua, audi et alterram partem, jika tidak, tidak bicara tentang yang tidak diketahuinya. Ini jiwa hukum bukan?
Jika benar, dari hati dan kesadaran terdalam, nyata-nyata berkata, Hukum Bersatu Tak Bisa Dikalahkan, marilah sama-sama saja membuka senyuman, jangan hanya lewat di bibir saja. Pembuktian.
Saya sekedar merasa perlu menyitir keadaan miris, menjalankan sebuah proyek sederhana di DSM, ada pihak yang merasa sudah sungguh-sungguh? Ada yang sudah merasa sangat penuh integritas? Yang mana yang @FHBrawijaya? Mana bukti?
Gejala dan praktek perkambinghitaman memang selalu marak setiap kita akan mengakhiri semester ganjil.
Menyesakkan sekali mengetahui bahwa, masih begini gaya-gaya "cari perhatian publik" di kampus kita. Masih pecundang seperti ini, main belakang, pseudonim, semi, yo tetep anonim !
Jangan, jangan sampai karena dengkimu, menyakiti yang kau katakan "Hukum Bersatu tak Bisa Dikalahkan" bukan?
Saya tidak ingin main drama, ini bukan drama-drama-an. Bukan picisan.
Ayo, duduk bicara dan atur kepahaman, agar lega hatiku dan hati kita semua.
Saya kembali katakan, anak KAMMI tak sebanyak hegemoni kader HMI atau anggota PMP hukum Brawijaya. Jadi jangan takut kami 'menguasasi' dan membelakangi almamater kita. KAMMI tak pernah sebegitu nafsu untuk cari tahta dunia. Ini soal perimbangan, keadilan bagi setiap kebijaksanaan. Kebijaksanaan kami, Islam yang rahamatan lil 'alamin, insyaAllah. Yang dengan inilah orang-orang KAMMI ketika memimpin, yang dengan inilah mereka dibekali, habis itu lepas, tak boleh gila nama dan label.
Tapi sakit juga ketika disalahpahami, pula disebar-sebarkan kesalahpahaman tentang kami ke banyak orang, hingga jadi fitnah yang menghitamkan apa yang putih, memunculkan prasangka tanpa bukti, juga kilas pemahaman tanpa tanya-jawab yang berakal. Innalillahi.
Saya hanya pernah tiga kali mengajak orang masuk KAMMI, 2 ditolak, satunya berangkat. Oleh karena kami sadari, tak banyak orang yang akan membersamai kami di jalan ini. Sebab bukan nama yang kami bela, bukan organisasi belaka, tapi kepahaman, kemunculan tunas-tunas harapan bangsa. Yang dekat dengan Tuhannya, juga pandai mengaji, sadar jiwa dan fitrahnya, sekedarnya, sekedar itu saja.
Ya Allah, faghfirlanaa, innaka anta samii'ud du'aa.
Monday, September 30, 2013
Licik
Mungkin kelicikan sesuatu yang built-in dengan diri saya. Haha, saya begitu tanpa hati, kejam, semacam itu. Bagaimana bisa bersemayam dua kekhusyukan dalam satu hati? Bagaimana bisa bertemu dua aliran dalam satu bayangan? Bagaimana bisa berpikir sentrifugal, menarik luaran, gaya-gaya sampingan. Ah, ini rumit.
Kelicikan mungkin memang sesuatu yang semacam itu. saat saya ikrarkan dua kekhusyukan dalam satu hati, atau dua kepahaman dengan arogansi strata, juga reposisi luaran dari beberapa organ fikroh yang terdalam. Karena hikmah dalam ayat-ayat kauniyahNya begitu luas membentang.
Saya tidak berani, selebihnya, sebenarnya. Benar bilang pada saat itu, maaf, saya lebih bisa jadi jundi yang tho'at daripada teman sebaya yang komunikatif. Maaf, saya lebih bisa, jadi qaadah yang penuh strategi daripada sebaya yang begitu penyayang. Sebab menerobos itu lebih sederhana daripada meloncati tebing-tebing. Tebing perasaanmu, shohabati. Sebab keras itu lebih mudah dari menjaga nada bicara, bagiku, shohabati.
Aku balik lagi jadi mangsa raja-raja yang gila. Sebentar-sebentar menenggelamkan. Sebentar-sebentar merengek minta makan. Lapar katanya, mau ditinggal kasihan, dikasihani, jadi peninggalan.
Kelicikan itu ibarat tenun jerami. Ibarat konfigurasi. Ibarat aku meninggalkanmu kala sendiri.
Kelicikan mungkin memang sesuatu yang semacam itu. saat saya ikrarkan dua kekhusyukan dalam satu hati, atau dua kepahaman dengan arogansi strata, juga reposisi luaran dari beberapa organ fikroh yang terdalam. Karena hikmah dalam ayat-ayat kauniyahNya begitu luas membentang.
Saya tidak berani, selebihnya, sebenarnya. Benar bilang pada saat itu, maaf, saya lebih bisa jadi jundi yang tho'at daripada teman sebaya yang komunikatif. Maaf, saya lebih bisa, jadi qaadah yang penuh strategi daripada sebaya yang begitu penyayang. Sebab menerobos itu lebih sederhana daripada meloncati tebing-tebing. Tebing perasaanmu, shohabati. Sebab keras itu lebih mudah dari menjaga nada bicara, bagiku, shohabati.
Aku balik lagi jadi mangsa raja-raja yang gila. Sebentar-sebentar menenggelamkan. Sebentar-sebentar merengek minta makan. Lapar katanya, mau ditinggal kasihan, dikasihani, jadi peninggalan.
Kelicikan itu ibarat tenun jerami. Ibarat konfigurasi. Ibarat aku meninggalkanmu kala sendiri.
Friday, September 20, 2013
Real Steel (not-a-real-REVIEW-at-all :)
Bismillah
Wew, agak canggung sebenernya nulis di blog kali ini. Oke kita bawa asik aja, yak, haha, soalnya kata beberapa orang terdekat, gue jarang asikin hidup. Hmm... ga juga sih :p
Tulisan ini gue rencanakan untuk mengulas salahsatu film favorit gue. Real Steel. :)
Hihi, jarang banget loh, jujur, gue nulis sebuah review. Jadi ini insyaAllah emang, yaa... jarang.. hhaha, jarang banget. Udah. Gitu aja. #geje
Oke, Real Steel tuh film Disney keluaran 2011 dan pertama kali dilaunching di Australia tanggal 6 Oktober 2011, yang ngambil Atlanta dan tahun 2020 sebagai latar utamanya. Intinya, di zaman itu, udah ga ada manusia yang jadi petinju. Semua kejuaraan tinju diambil alih sama robot. Main actor, Hugh Jackman (as Charlie Kenton) sebagai seorang mantan petinju juga terus ngikut kehidupan pertinjuan robot itu, dengan robot andalannya, Ambush.
Singkat cerita, sebenernnya yang sangat menarik dan bikin gue suka banget sama plot film ini bukan tentang Charlie-nya. Tapi soal keberadaan main actor lainnya, Dakota Goyo, yang meranin tokoh anaknya Charlie, Max Kenton. Imut banget anaknya, udah gitu, emang di film ini, Goyo look smart abis dan punya strong character yang cool banerr.
The real line story is.... Charlie dan Max sebagai ayah-anak baru bertemu setelah umur Max 11 tahun. Setelah Caroline Fallon, ibunya Max, mantan istrinya Charlie wafat. Gue agak males sebenernya nyeritain bagian ini, abis rempong banget, haha. Next is, Max menurut pengadilan, jadi wajib asuh bibi (adik almh ibunya) dan pamannya, Debra dan Marvin, tapi dengan tipudaya ayahnya, Marvin yang kaya itu membeli jasa asuh Charlie untuk sekian minggu selama ia dan Debra ke Italia. Singkatnya, Max akhirnya harus ikut ayahnya - yang udah dapet bayaran US$ 5000 dari Marvin - yang cuma seorang petinju Robot kelas bawah plus lagi bangkrut karena Ambush kalah waktu lawan banteng.
Haha, sori ya, kalau kalian yang lagi baca ini jadi gagal paham. Penulis memang agak some disturbing system gitu ya, untuk membahasakan kisah dengan lebih lunak lagi. Heehee.. #keeptryin
Kita pake perspek puzzling aja ngobrolnya yak, hhoo, jadi gue nggak akan ngulang nyeritain plotnya disini, ehm, gue bakal cerita aja bagian-bagian yang recommended to see. :D
Gue terharu banget sama setting Max dan Charlie lagi di pabrik robot buat nyuri bagian2 robot rakitan, setelah robot terbaru mereka yang dibeli seharga US$ 5000 - namanya Noisy Boy - ancur pas ngelawan Midas. Saat itu mereka udah nggak punya uang lagi, so emang udah nggak punya modal buat melanjutkan hidup lewat ngerobot. #apasih hhaaha
Intinya, gitu sih, Adegan menegangkan banget waktu Max jatoh ke tebing dan nyangkut di sebuah tangan robot generasi kedua (generasi lama, ceritanya). Hmm... berasa banget conditioning latar ayah-anaknya, tambah tampang takut-takutnya Dakota Goyo yang khas anak kecil banget waktu dicommand ngereaching tanga ayahnya tanpa try to see the under, gue... suka banget bagian ini, hehee..
Yang paling seru, di plot selanjutnya, strong characternnya Goyo nampil banget pas dia semacam silang pendapat sama ayahnya dan bersikeras ngangkut "tangan robot dan keseluruhanya" yang dianggepnya udah nolongin dia supaya ga jatuh. haha.. Ada banget dialog tajam yang bikin ketawa,
Max : Charlie, I thought there was a robot here,, (setelah lakon mata bulat terpana pas ngeliat baju robot di bawah tanah)
Charlie : So what? Lets Go, Come on, I was said it dangerous before !
Max : I'm take it with me. He save my life.
Charlie : He did not ! I-save-your-life. Lets Go !
Haha, dialog dua orang keras kepala. Bukannya manyun dan ikut gandengan ayahnya yang udah kayak tanpa hati ninggalin, Goyo (Max) malah "ngatur" Charlie (Jackman) untuk ninggalin troly mereka aja, supaya dia bisa bawa pulang tuh kerangka robot yang dianggapnya udah nolongin hidupnya. Sumpah, adaaa apa ya anak sekeras itu kemauannya *dlmhalpandangan* jaman sekarang, ah, gue belom pernah nemu. Kebanyakan anak-anak jaman sekarang mah pada cengeng, demennya nonton senetron maennya di sekolah "pacar-pacaran" maka terlahirlah generasi genit yang mengerikan kayak senior2 gue di kampus #ups. Rusak, dah, rusak, *lohkokjadikesini* :D
Dan... ternyata robot "sampahan" itu yang jadi keberuntungan plot mereka selanjutnya. Nama robotnya, Atom. Si atom ini ternyata tipe robot sparing yang auxalary di zaman robot tinju generasi kedua (gatau ya maksudnya di sutradara itu settingnya udah zama robot generasi keberapa ahaha).
Karena Atom ternyata punya kemampuan hear-and-echoes hmm... sederhananya, copas... hihi, maklum. Jadi dia bisa ngikutin gerakan objek yang di depannya, yang kena radar sensor kerobotannya gitu kali ya, #ngarang ahaha, ga ngerti gue sistem kayak gitu gimana logikanya yak, elo ngerti? ga juga kan yeyeyee :D
Oke, puzzle part kedua, adegan waktu Max jadi "orang pinggiran" waktu iring-iringan 'Zeus' keluar WRB (World Robot Boxing). Lakon mata bulatnya Max yang tersepona keluar lagi, tapi lebih shiny gitu, lebih condong ke karakter "pengamat yang cerdas dan terkagum". Lucu banget bagian Max bilang, "Sweet..." pake tendens amrik yang all-out.
Oia, sampe lupa, :) Zeus itu robot yang lagi "dewa" banget saat itu, dan semua acting max tadi dilakukan pas momen tim robotic Zeus, si Farra Lemkova dan Tak Mashido diwawancarai kerumunan pers.
Ada juga part sedihnya, loh, waktu Atom lagi menghasilkan banyak uang, Max and his daddy, didatangin musuh lama the daddy. Hm, dipukulin lah the daddy and his Son crying beside him. Hoho... Ada plot dimana di dalam van, Charlie kayak merenung gitu sambil ngeliatin Max tidur. And guess what next ?
Ya ! Charlie khawatir sama keselamatan Max. And the next he sent his son to the nanny, Debra and Marvin. :'(
Dialog yang kerennya, waktu Max ngambek setelah tau dia dibalikin ke bibinya,
Charlie : Okay, fine, What'd you want from me?!
Max : I just want you fight for me. That's all I want to.
Hiks.
Ada dua hal yang parah abis, gue suka banget, waktu Max bikin deal sama orang-orang termasuk ayahnya sendiri. Ahahahaa... sumpah, smart child banget. Dan waktu dia bilang "your secret was save with me." ke ayahnya di ending film ini.
Huaaaaaaaaaaa.... I love this film so much, :)
Gue emang gak berencana nyeritain film ini all in and out kok, hihiii... buat yang penasarann, nonton aja sendiri yak, hehehe... Atau karena sanking ga gaulnya gue, udah pada nonton semua lagi, ya, hehe... Soalnya keseringannya gitu sih, ya, ---____________--- gue ga update. Maklum deh yak,
But, thats all I've to write, cuma buat ngasah kepekaan hati aja, sih, gue bisa kok, kagum sama karya orang. InsyaAllah, karena ayat-ayat kauniyahNya begitu luas membentang.
Wew, agak canggung sebenernya nulis di blog kali ini. Oke kita bawa asik aja, yak, haha, soalnya kata beberapa orang terdekat, gue jarang asikin hidup. Hmm... ga juga sih :p
Tulisan ini gue rencanakan untuk mengulas salahsatu film favorit gue. Real Steel. :)
Hihi, jarang banget loh, jujur, gue nulis sebuah review. Jadi ini insyaAllah emang, yaa... jarang.. hhaha, jarang banget. Udah. Gitu aja. #geje
Oke, Real Steel tuh film Disney keluaran 2011 dan pertama kali dilaunching di Australia tanggal 6 Oktober 2011, yang ngambil Atlanta dan tahun 2020 sebagai latar utamanya. Intinya, di zaman itu, udah ga ada manusia yang jadi petinju. Semua kejuaraan tinju diambil alih sama robot. Main actor, Hugh Jackman (as Charlie Kenton) sebagai seorang mantan petinju juga terus ngikut kehidupan pertinjuan robot itu, dengan robot andalannya, Ambush.
Singkat cerita, sebenernnya yang sangat menarik dan bikin gue suka banget sama plot film ini bukan tentang Charlie-nya. Tapi soal keberadaan main actor lainnya, Dakota Goyo, yang meranin tokoh anaknya Charlie, Max Kenton. Imut banget anaknya, udah gitu, emang di film ini, Goyo look smart abis dan punya strong character yang cool banerr.
The real line story is.... Charlie dan Max sebagai ayah-anak baru bertemu setelah umur Max 11 tahun. Setelah Caroline Fallon, ibunya Max, mantan istrinya Charlie wafat. Gue agak males sebenernya nyeritain bagian ini, abis rempong banget, haha. Next is, Max menurut pengadilan, jadi wajib asuh bibi (adik almh ibunya) dan pamannya, Debra dan Marvin, tapi dengan tipudaya ayahnya, Marvin yang kaya itu membeli jasa asuh Charlie untuk sekian minggu selama ia dan Debra ke Italia. Singkatnya, Max akhirnya harus ikut ayahnya - yang udah dapet bayaran US$ 5000 dari Marvin - yang cuma seorang petinju Robot kelas bawah plus lagi bangkrut karena Ambush kalah waktu lawan banteng.
Haha, sori ya, kalau kalian yang lagi baca ini jadi gagal paham. Penulis memang agak some disturbing system gitu ya, untuk membahasakan kisah dengan lebih lunak lagi. Heehee.. #keeptryin
Kita pake perspek puzzling aja ngobrolnya yak, hhoo, jadi gue nggak akan ngulang nyeritain plotnya disini, ehm, gue bakal cerita aja bagian-bagian yang recommended to see. :D
Gue terharu banget sama setting Max dan Charlie lagi di pabrik robot buat nyuri bagian2 robot rakitan, setelah robot terbaru mereka yang dibeli seharga US$ 5000 - namanya Noisy Boy - ancur pas ngelawan Midas. Saat itu mereka udah nggak punya uang lagi, so emang udah nggak punya modal buat melanjutkan hidup lewat ngerobot. #apasih hhaaha
Intinya, gitu sih, Adegan menegangkan banget waktu Max jatoh ke tebing dan nyangkut di sebuah tangan robot generasi kedua (generasi lama, ceritanya). Hmm... berasa banget conditioning latar ayah-anaknya, tambah tampang takut-takutnya Dakota Goyo yang khas anak kecil banget waktu dicommand ngereaching tanga ayahnya tanpa try to see the under, gue... suka banget bagian ini, hehee..
Yang paling seru, di plot selanjutnya, strong characternnya Goyo nampil banget pas dia semacam silang pendapat sama ayahnya dan bersikeras ngangkut "tangan robot dan keseluruhanya" yang dianggepnya udah nolongin dia supaya ga jatuh. haha.. Ada banget dialog tajam yang bikin ketawa,
Max : Charlie, I thought there was a robot here,, (setelah lakon mata bulat terpana pas ngeliat baju robot di bawah tanah)
Charlie : So what? Lets Go, Come on, I was said it dangerous before !
Max : I'm take it with me. He save my life.
Charlie : He did not ! I-save-your-life. Lets Go !
Haha, dialog dua orang keras kepala. Bukannya manyun dan ikut gandengan ayahnya yang udah kayak tanpa hati ninggalin, Goyo (Max) malah "ngatur" Charlie (Jackman) untuk ninggalin troly mereka aja, supaya dia bisa bawa pulang tuh kerangka robot yang dianggapnya udah nolongin hidupnya. Sumpah, adaaa apa ya anak sekeras itu kemauannya *dlmhalpandangan* jaman sekarang, ah, gue belom pernah nemu. Kebanyakan anak-anak jaman sekarang mah pada cengeng, demennya nonton senetron maennya di sekolah "pacar-pacaran" maka terlahirlah generasi genit yang mengerikan kayak senior2 gue di kampus #ups. Rusak, dah, rusak, *lohkokjadikesini* :D
Dan... ternyata robot "sampahan" itu yang jadi keberuntungan plot mereka selanjutnya. Nama robotnya, Atom. Si atom ini ternyata tipe robot sparing yang auxalary di zaman robot tinju generasi kedua (gatau ya maksudnya di sutradara itu settingnya udah zama robot generasi keberapa ahaha).
Karena Atom ternyata punya kemampuan hear-and-echoes hmm... sederhananya, copas... hihi, maklum. Jadi dia bisa ngikutin gerakan objek yang di depannya, yang kena radar sensor kerobotannya gitu kali ya, #ngarang ahaha, ga ngerti gue sistem kayak gitu gimana logikanya yak, elo ngerti? ga juga kan yeyeyee :D
Oke, puzzle part kedua, adegan waktu Max jadi "orang pinggiran" waktu iring-iringan 'Zeus' keluar WRB (World Robot Boxing). Lakon mata bulatnya Max yang tersepona keluar lagi, tapi lebih shiny gitu, lebih condong ke karakter "pengamat yang cerdas dan terkagum". Lucu banget bagian Max bilang, "Sweet..." pake tendens amrik yang all-out.
Oia, sampe lupa, :) Zeus itu robot yang lagi "dewa" banget saat itu, dan semua acting max tadi dilakukan pas momen tim robotic Zeus, si Farra Lemkova dan Tak Mashido diwawancarai kerumunan pers.
Ada juga part sedihnya, loh, waktu Atom lagi menghasilkan banyak uang, Max and his daddy, didatangin musuh lama the daddy. Hm, dipukulin lah the daddy and his Son crying beside him. Hoho... Ada plot dimana di dalam van, Charlie kayak merenung gitu sambil ngeliatin Max tidur. And guess what next ?
Ya ! Charlie khawatir sama keselamatan Max. And the next he sent his son to the nanny, Debra and Marvin. :'(
Dialog yang kerennya, waktu Max ngambek setelah tau dia dibalikin ke bibinya,
Charlie : Okay, fine, What'd you want from me?!
Max : I just want you fight for me. That's all I want to.
Hiks.
Ada dua hal yang parah abis, gue suka banget, waktu Max bikin deal sama orang-orang termasuk ayahnya sendiri. Ahahahaa... sumpah, smart child banget. Dan waktu dia bilang "your secret was save with me." ke ayahnya di ending film ini.
Huaaaaaaaaaaa.... I love this film so much, :)
Gue emang gak berencana nyeritain film ini all in and out kok, hihiii... buat yang penasarann, nonton aja sendiri yak, hehehe... Atau karena sanking ga gaulnya gue, udah pada nonton semua lagi, ya, hehe... Soalnya keseringannya gitu sih, ya, ---____________--- gue ga update. Maklum deh yak,
But, thats all I've to write, cuma buat ngasah kepekaan hati aja, sih, gue bisa kok, kagum sama karya orang. InsyaAllah, karena ayat-ayat kauniyahNya begitu luas membentang.
Friday, September 13, 2013
Rasa-rasanya
Rasa-rasanya, banyak hal yang belum tersampaikan. Semacam presisi dan model indikatorisasi. Berapa, sebanyak apa. Berapa, sebesar apa, secerah apa, atau mungkin, sedusta apa.
Rasa-rasanya kita harus lebih banyak merasakan, yang bukan presisi, tidak seperti yang hampir setiap saat saya lakukan. Sesekali kita harus mencoba bertarung dengan kepekaan. Bashiroh hati. Kekuatan mata hati.
Rasa-rasanya saya harus lebih banyak merasakan.
Rasa-rasanya kita harus lebih banyak merasakan, yang bukan presisi, tidak seperti yang hampir setiap saat saya lakukan. Sesekali kita harus mencoba bertarung dengan kepekaan. Bashiroh hati. Kekuatan mata hati.
Rasa-rasanya saya harus lebih banyak merasakan.
Saturday, September 7, 2013
Saya tidak suka
Saya tidak suka banyak hal
Juga kenyataan bahwa saya tidak menyukai banyak hal
Saya tidak suka banyak diatur
Juga kenyataan bahwa dunia ini penuh dengan aturan
Oleh sebabnya saya berpikir untuk segera meninggalkan ketidaksukaan
Karena perlahan ia jadi mangsa raja-raja yang gila
Sebentar-sebentar menenggelamkan
Sebentar-sebentar merengek minta makan
Lapar katanya, mau ditinggal kasihan, dikasihani, jadi peninggalan
Saya tidak suka pementasan
Juga epilog yang lebay tanpa prolog yang mencerahkan
Bagi saya, lebih-lebih orang harus dibina dari awalan
Biar kuat karena kepahaman
Saya tidak suka gurauan bohong
Juga kenyataan bahwa semua kebohongan dan gurauan itu inti dunia
Makanya saya bersegera meninggalkan mereka
Karena perlahan mereka jadi resonansi faktual garis kebolehan
Sebentar-sebentar menyentak
Sebentar-sebentar ngambek sama diri sendiri
Gak suka katanya, ya gak suka aja, halal, ga ada urusan lagi ini
Kocak gitu
Saya tidak suka kocak sebegitunya
Itu kan, saya
Juga kenyataan bahwa saya tidak menyukai banyak hal
Saya tidak suka banyak diatur
Juga kenyataan bahwa dunia ini penuh dengan aturan
Oleh sebabnya saya berpikir untuk segera meninggalkan ketidaksukaan
Karena perlahan ia jadi mangsa raja-raja yang gila
Sebentar-sebentar menenggelamkan
Sebentar-sebentar merengek minta makan
Lapar katanya, mau ditinggal kasihan, dikasihani, jadi peninggalan
Saya tidak suka pementasan
Juga epilog yang lebay tanpa prolog yang mencerahkan
Bagi saya, lebih-lebih orang harus dibina dari awalan
Biar kuat karena kepahaman
Saya tidak suka gurauan bohong
Juga kenyataan bahwa semua kebohongan dan gurauan itu inti dunia
Makanya saya bersegera meninggalkan mereka
Karena perlahan mereka jadi resonansi faktual garis kebolehan
Sebentar-sebentar menyentak
Sebentar-sebentar ngambek sama diri sendiri
Gak suka katanya, ya gak suka aja, halal, ga ada urusan lagi ini
Kocak gitu
Saya tidak suka kocak sebegitunya
Itu kan, saya
Monday, September 2, 2013
Be a commander
This is my world. The dynamics.
This is the word I call to repose the things on me.
He said, I'm so Lucky because I know how to use some word describing I feel.
She said, I'm not that lucky because my line was on opposite.
They all a true
How could to be better?
How to be strong, tough, like a real qaadah?
How could to be dashing?
How could I be pronounce?
Not really on those assertive
but, a commander
This is the word I call to repose the things on me.
He said, I'm so Lucky because I know how to use some word describing I feel.
She said, I'm not that lucky because my line was on opposite.
They all a true
How could to be better?
How to be strong, tough, like a real qaadah?
How could to be dashing?
How could I be pronounce?
Not really on those assertive
but, a commander
Subscribe to:
Posts (Atom)