Saturday, January 18, 2014

Wangi Langit

Wangi langit bicara soal pulasan. Ia tak pernah suka terlalu terbuka. Cerita yang disyairkannya adalah rona-rona romantika saja.

Suatu kali saat langit mengantar wanginya ke bumi, kita akan seketika berwarna jingga. Jadi tarian di derivan kuning dan merah. Sempurna. Polesannya adalah kegembiraan. Wangi langit bicara fajar dan guratannya yang sebentar.

Ah, aku suka mencium wangi langit. Karena bersihnya bersahaja. Gelap terang tanpa dialogika. Satu sampai empat kali saja, ia ganti pulasannya dalam detak hari-hari.

Wangi langit yang biru kadang juga pergi basi bersama si putih. Gila dia. Bawa lari pallet demarkasi hitam untuk bintang-bintang. Katanya itu tanda wangi langit tak ingin disentuh-sentuh, tak ingin di gapai-gapai, coba lari dari mendung dan jelang temaram.

Wangi langit adalah pulasan satu sampai empat. Disana diantarkan wangi kalut dan gelisahnya jiwaku di penghujung kota lain. Sebab wangi langit tak pernah suka terlalu terbuka. Bagian romantikanya saja.

Tapi aku paling suka wangi langit.

Friday, January 10, 2014

Recreance

Kita akan berhenti pada satu titik dimana terungkap semua jawaban. Tidak lagi ada kepedulian pada yang lainnya. Tidak ada lagi kata-kata mesra untuk siapa.

Kasih sayangku adalah untuk diriku. Pola pikirku jadi henti pada keselamatanku. Pengkhianatanmu padaku jadi tak menyakitkan lagi.

Pada saat itu kau tak akan mengingatku. Tidak ada lagi simpanan di bilik hatimu tentang, bahwa, sebenarnya, kau tak suka aku.

Mungkin yang ku katakan cuma representasi kotornya hatiku saja. Bahwa kau mengatakan sesuatu di belakangku adalah tanda bahwa aku terlalu kaku. Bahwa suatu hari dimana berpisah pandang antara kau dan aku, kita tak akan lagi saling mengenal. Karena hari itu.

Dicabutlah ruh ku. Dicabutlah ruh mu.
Tinggalah segala kefanaan.

Aku tak ingin, putus diri dari keselamatan kau. Dari keselamatan ku.

Thursday, January 9, 2014

Everybody Hurts Someday

Inget banget waktu jaman gue masih agak kecilan dari sekarang, gue pernah ngupdate laman blog pake videonya avril lavigne yang Wish You Were Here or whatever lah. Haha. Gila, gue berasa alay banget.
Tapi sekarang, gue nyadar kecendrungan konyol kayak gitu emang tetep ada. Beberapa waktu nemu lagunya avril lagi, yah, gue jadi ngerealize konteks hidup lagi. Semacam, balik ke kealayan gue dulu. Ah, gapapa lah. Express.


Beberapa orang pernah bilang, kalo kita akan dibersamai sama orang yang memang sejalan sama perjuangan kita. Baik dalam level ketahanan atau pemahaman. Karena emang kayak gitu sistem perjodohan dunia.
Maksud gue, bukan 'perjodohan' yang sempit aja, tapi soal ketemu sama orang yang dalam konteks apa aja.
Mereka bilang, kita kuat membersamai orang yang jalan perjuangannya emang pantes buat kita. Orang-orang juga kuat membersamai kita karena emang dia jodoh buat kita di jalan itu.

Tapi bagi gue premis itu nggak sepenuhnya bener. Ya, nggak salah juga.

Ini bukan sekedar tentang maqam, tapi emang, jalan yang spesifik. Suatu jalan politik komposisi Yang Maha Kuasa. Semoga terkuatkan.

Yang tidak bertemu lagi, yang akan sulit bicara tentang hal yang sama lagi. Karena akan terus ada yang baru menemui, yang akan bicara tentang hal yang sama. :')

Thursday, December 26, 2013

Setidaknya (Part Three)

                    Hal apa yang paling menyibukanmu dalam hidup? Apakah pekerjaan? Keluarga? Sekolah?
                Bagiku tidak semua dari itu menarik untuk dijadikan kesibukan. Aku rasa-rasanya tidak suka dengan semua hal yang kutemui. Terlebih kau.
                Bicara denganmu bisa membuatku harus berusaha keras menjadi orang lain. Mengetahui keberadaanmu cuma menambah sakit kepalaku saja. Senyummu itu tidak berguna selain menjadi tambahan alasan bagiku untuk membencimu. Dan seluruh orang di dunia. Aku tidak suka kau tersenyum sambil berpikir ini hiburan bagimu. Karena semua orang yang kutemui selalu berpikiran begitu.
--------
                Ini Pegunungan. Sebuah kota yang begitu aneh. Disini tidak terlalu banyak orang tinggal. Setidaknya tidak bila dibandingkan dengan Jakarta. Ini kota Batu. Pertengahan antara Kota Malang dan Kabupaten Malang. Jawa Timur, timurnya pulau Jawa.
                Aku bersyukur dapat kembali ke tempat semacam ini. Setidaknya ini lebih segar daripada di pantai. Aku tidak suka ke pantai, terlebih liburan akhir tahunku selalu di isi dengan pergi ke pantai bersama orang-orang bodoh sekelas. Tidak di Jakarta, tidak disini, aku tidak suka pantai, membuatku terobsesi untuk ditelan keserakahan alam saja. Semacam gelombang lautan yang menyeret ke tengah pusaran. Sebab sejak aku lahir, aku hanya kenal keserakahan manusia yang mengunyahku hingga serpihan.
                Ini berlebihan.
                Setidaknya sekarang aku tidak sendirian.
                “Voleta Zora.” Ujarnya.
                “Vincent Zoe.” Balasku, “Ternyata seperti ini rasanya bicara dengan saudara kandung.”
                Kami benar-benar duduk di pinggir jurang seperti yang pernah kulakukan tiga tahun lalu, di tempat ini.
                “Apakah kita kembar?” tanyaku.
                Zoe tersenyum lebar, lalu menyeruput lagi secangkir besar cappuccino-nya. Ia menggeleng, “menyedihkan sekali, adik. Don’t you really like a fool? Apa saja yang di ajarkan ibumu selama ini?”
                “Kalau begitu jarak kelahiran kita pasti ga lebih dari setahun.”
                “Kenapa?”
                “Lo tuh keliatan lebih bego dari gue.”
                Matanya membelalak, menatapku, speechless rupanya.
--------
                Mau bagaimanapun aku memang lebih bisa di andalkan daripada Zoe. Aku punya poin IQ lebih tinggi darinya. Aku mulai terbiasa mengurus usaha ibuku yang tanpa belaskasih itu sejak masuk perkuliahan. Kelebihanku yang paling utama, aku bisa bekerja sendiri, aku tidak punya orang kepercayaan yang sewaktu-waktu dapat merutukiku di belakang atau menusukku saat lengah.
                Tapi ini tidak adil.
                Karena Zoe jago beladiri. Ia mengurus sahamnya di bawah bimbingan ayah sejak ia berumur 10 tahun. Ia punya segerombolan laki-laki pecundang sebayanya yang dipercayainya dalam banyak hal. Setidaknya Zoe juga punya kulit wajah yang lebih cerah dariku. Ia tidak perlu mengalami masa kanak-kanak dimana para ibu begitu mengkhawatirkan kulit sensitif anaknya meradang sehingga memakaikan begitu banyak anti-UV yang malah membuat pigmen kulit transisi warna.
                Setidaknya saat ini Zoe bisa menemui ayah ketika pulang ke Singapur sementara aku tidak dapat menemukan ibu dimanapun sejak hampir 6 tahun terakhir ini. Aku tidak tahu.
                Aku memang selalu jadi orang yang ditinggalkan. Saat ini, kemarin lalu maupun di masa depan. Setidaknya aku lebih dapat di andalkan. Aku tidak seperti Zoe, saudaraku. Dia manja dan sok tahu.
--------
                Jalan menuju Kota Malang hanya lurus saja. Setelah kami singgah sholat maghrib di Masjid besar di persimpangan jalan protokol. Aku berencana untuk tidur saja, membiarkan Zoe menyetir sendirian. Aku sudah cukup tersakiti seharian ini, mendengarkan kabarnya yang 18/19 tahun terakhir ini.
                Sebenarnya aku masih berkeyakinan kami kembar tapi Zoe bilang, itu tidak mungkin. Ia punya dua akte kelahiran, yang satunya bertuliskan tahun 1994 dan satunya 1995. Sementara aku punya tiga akte kelahiran, bertuliskan tahun 1992, 1994, dan 1995. Tapi tanggal lahir kami tidak ada yang sama. Jadi Zoe yakin bahwa aku kelahiran 1995 sementara ia 1994 karena di tahun 1992 menurutnya orangtua kami belum bertemu. Siapa yang tahu? Dia memang sok tahu.
                Seperti itulah Zoe, rambutnya lurus hitam potongan cowok standar. Kulit langsat cerah, mata sipit tanpa lipatan kelopak yang sama sepertiku, khas keturunan orang Cina. Dia punya jaket mahal, jeans dan handphone limited edition yang hanya bisa langsung dibeli di Finlandia. Zoe orang kaya, tidak sepertiku. Zoe bilang itu wajar, karena aku dibawa ibu sementara ia dibawa ayah. Seorang lelaki lebih bisa bertanggungjawab soal bagaimana menghasilkan uang, bagaimanapun juga, katanya. Aku hanya bisa menggelengkan kepala, lalu memalingkan wajah darinya. Kurang ajar. Mungkin lainkali aku harus membalas dendam untuk ucapan sembrono-nya itu.
                Dia tentu tidak pernah berpikir bahwa aku begitu muak dengan uraiannya soal hidup makmur tanpa telepon berisik yang menagih hutang sekaligus updating harga bunga searah putaran jual beli kurs mata uang. Aku bisa gila.
                “Ayah pernah cerita soal gue?”
                Zoe menggeleng. Lalu meneruskan kembali pijakan kaki kanannya di pedal gas, kami terjebak macet di jalan yang sekedar lurus ini. Sama seperti kebanyakan manusia, macet di jalan lurus, saling berdesakan, sempalan.
                “Sama sekali ga pernah?”
                “Katanya mau tidur, dik.”
                “Kok bisa ya, mereka berdua sehebat itu. Ibu juga ga pernah ngomong-ngomong soal elo.”
                “Call me kakak, abang, mas? Big-brother, or else?” Zoe tersenyum sok dewasa. Aku jadi tambah muak.
                “What a really nonsense.” Lalu aku terdiam.
                Beberapa kenangan masa laluku semburat mengalir. Bagaimana aku dikirim ke asrama yang sangat jauh dari rumah sejak masa kecilku. Bagaimana aku pulang ke rumah dan semua orang mengatakan bahwa ibuku telah pergi dengan hanya meninggalkan sepaket tumpukan kertas di atas meja belajarku. Bagaimana aku memarahi orang yang jauh lebih tua dariku di setiap rapat yang ku pimpin. Bagaimana aku menghadapi pegawai bank. Bagaimana orang lain menggantikan ibuku lalu berpura-pura jadi kedua orangtuaku yang berbahagia, memakan harta di rumahku lalu setelah mulai tiris mereka pergi. Juga bagaimana aku berpikir betapa sial tidak memiliki satu-pun orang yang menjadi keluarga.
--------
                “I’ll take you here on 7 am.” Kata Zoe sebelum melepaskan kuncian pintu.
                “I need to sleep over the day. Brilliant brain need to rest.”
                Zoe tertawa geli mendengar jawabanku, “What kind of brilliant, Little Miss? Leave the sleep. We’ll found our mom tomorrow.”

                “Nonsense.” Jawabku, keluar dari ‘barang pribadi’nya yang mewah dan patut dipamerkan itu.

Monday, December 16, 2013

Perlawanan

Kita ini tengah menghadapi sebuah rezim yang menjulang kokoh. Tinggi menghalangi pandangan. Rezim kedzoliman.

Kita ini tengah melawan sebuah kekuatan yang tersusun sejak lama. Angkuh, mengakar. Kekuatan yang menindas kebenaran.

Bagi rezim kedzoliman, kita cuma itik yang diseret kepentingan mereka. Bagi kekuatan yang menindas, kia cuma pinggir lautan yang dilemahkan.

Maka, kuatlah, kuatkanlah kekuatan ini, sahabat.

Sunday, November 24, 2013

Ilmu Bertahan (Part Two)

Rindu adalah ketika kau tidak dapat mengambil definisi terbaru soal waktu-waktu. Rindu adalah karena makna-makna batinmu jadi sekedar menggelayuti ruang-ruang pikirmu. Rindu adalah karena yang tiada jadi begitu ada, lalu menyalamimu dengan sentakan seketika, berkata bahwa, ia harus pergi tanpa tangisanmu. Dengan begitu kau jadi menyadari bahwa kau benar sebegitu rindu padanya.
Hatiku jadi kapas yang dihembus aliran udara mikrotik. Terbang sekaligus kebasahan. Sirkuit yang butuh penerangan. Atau semacam mengetahui sesuatu yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Jadi sendu, biasa memakan kesakithatian sambil pura-pura tidak. Aku jadi perempuan yang semacam itu, pada akhirnya. Menyembunyikan, sesekali.
Mengapa jadi begitu mahalnya bicara denganku. Aku bertanya tanpa tanda tanya. Berputar, melintang. Menerobos, menggelitik, rindu.
Ini soal ilmu bertahan.
--------
                Bangunan putih gaya oldys itu menjulang mengerikan di hadapanku. Di belakang, kedua orangtuaku tengah berbincang sok akrab dengan seseorang yang semacam berkedudukan sebagai kepala sekolah disini. Aku akan kembali di “asramakan”. Begitu katanya, begitu kata mereka.
                Ada sebuah pikiran konyol yang menyelip keluar dari bingkai jendela besar di lantai tiga itu. Apakah aku bisa melayangkan diri untuk mempraktekkan teori “flying-dragon” yang pernah ku susun saat di SMA dulu ? Aku, memang butuh tempat semacam ini. Yang tinggi di atas itu. 25 meter, cukup.
                Teori putaran sentripetal, terbang, terbang ala naga. Terbang lewat tarikan tiga poros tambang yang disusun sedemikian rupa, sehingga masing-masing di antaranya membentuk sudut 60 derajat dari tumpuan. Aku hanya butuh busur kayu yang besar, tali tambang yang panjangnya minimal tiga kali lebar daun jendela itu, juga satu tali tambang lagi, yang super besar, yang dua kali jarak antar gedung. Merangkai semalaman, bergerak terbang di pagi hari.
                “Kapan saya mulai bisa tinggal disini ?” ujarku menyela bicara ketiga orang paruh baya itu.
                Ketiganya menatapku keheranan.
                Ayah membelai kepalaku sambil tersenyum sumringah, lalu menatap mataku dengan hangat, “Next week,” katanya.
                “It’s not a trial, no culpability, no crowd, no fatality. Standing, no binding.” Ujar ibuku ketus, memalingkan wajah tirusnnya, menyilangkan kedua tangan di depan.
                Aku mengangguk, lalu berkomat kamit asal ke arah ayah, meledek ibuku yang semacam nenek sihir. Kami tertawa kecil, paham kode ejekan tingkat tinggi itu. Lalu aku berharap minggu depan bangunan mengerikan ini tetap seperti ini. Sehingga malam nanti aku bisa mulai kembali bersiap, menyusun rencana untuk terbang, menjadi naga yang terbang.
--------
Kamar hotel yang kami sewa ini tidak begitu luas. Tidak ada sekat selain untuk kamar mandi. Ini bukan pertama kali kami sekeluarga berada dalam keadaan yang seperti ini. Tapi aku bersyukur malam ini aku bisa berbaring di sofa sambil ketiduran saat membaca buku tebal di larut malam. Aku suka jika aku harus tidur di sofa, merasa seakan aku berkorban begitu besar, menjadi pahlawan. Aku suka jika aku harus larut tertidur tanpa kusadari, merasa seakan aku seorang pemikir sungguhan. Padahal tidak. Padahal aku Cuma anak kecil yang berdoa, tidak ada satupun teman sekelasku yang tahu bahwa aku rata-rata tiga tahun lebih muda dari mereka. Tidak peduli mereka tahu lewat memperhatikan pertumbuhan postur tubuhku di masa depan, atau tahu lewat perubahan psikologis yang ku alami. Aku hanya ketakutan, rahasia ini tersebar dan jadi alat ampuh bagi para raksasa jahat dan truk, menginjakku maupun melindas cake coklat blueberry di jalan raya. Maka aku harus bisa terbang. Mulai minggu depan.
                “Aku suka tempatnya, tapi ini terlalu jauh. How could I be home ?” Tanyaku setengah berteriak
                “You not !” jawab ayah dan ibuku senada, juga setengah berteriak.
                Aku mendudukan diriku, memeluk punggung sofa, menghadap ke tempat tidur di belakangku, “Surely?” tanyaku dengan perasaan hina yang mendalam.
                Keduanya tersenyum seakan begitu bahagia, lalu kembali melanjutkan bacaannya, melanjutkan bicaranya di telepon genggam. Aku kecewa.
                “Mom, do you see my white book on this bag?”
                “Just found it on other way.”
                “It must be a high-price-book.”
                “High-value-book, Dad. I’ll be one of the most popular with that book.”
                “Dragon and fly theory?”
                “……”
                “You left it on your desk and said you going to ‘trashed’ it.”
“……”
--------
                Seluruh siswa disini dibebaskan berbusana apapun. Sehingga aku bebas menggunakan apapun, entah cadar, baju renang atau kostum ruang angkasa. Hari ini aku mengenakan kostum ruang angkasa. Kelas filologi yang membosankan, tidak ada sesi perkenalan. Orang-orang yang berbau tidak enak dan mereka tidak memiliki tambang seperti yang kubayangkan. Kami rupanya, setidaknya, sama-sama anak yang dibuang orangtua-orangtua kami. Tapi mungkin setidaknya aku lebih parah karena diminta untuk tidak pulang lewat senyuman ejekan ayah dan ibuku malam seminggu yang lalu.
                Dragon and fly theory masih jadi bab kesukaanku. Jauh dari omongan filologi yang tidak bisa kucerna lewat jalan biasa, di kelas berisi 21 orang ini. Rata-rata anak laki-laki di kelasku berkacamata, sementara semua anak perempuan bergaya berlebihan dengan make-up mereka. Paling sedihnya, tidak ada yang bisa ku ajak bicara disini. Karena aku memakai kostum ruang angkasa, sekedar karena itu saja, aku menjadi gadis aneh yang susah di ajak bicara. Mungkin begitu pikir mereka saat menatapku dengan sinis. Mungkin juga karena aku memakai helm luar angkasa. Ya, aku tidak peduli, mereka tidak tahu saja bahwa, kostum ini hadiah ulangtahunku yang keduabelas dan sangat berharga.
                Kamar asrama kami sudah lebih dari hotel dengan kamar mandi di dalam, sendirian. Ini bukan asrama, kupikir. Tapi plesiran. Minggu depan jika masih juga belum bisa terbang aku akan menelpon kedua orangtuaku, minta pulang. Tapi kalau sudah bisa terbang, aku bisa pergi ke mana saja, Negara lain misalnya. Ini sederhana. Sesederhana mencari gulungan tambang di gudang belakang gedung putih yang menjulang angkuh.
--------
                Entah bagaimana caranya, singkatnya, pagi tadi gulungan tambang yang ku impikan itu ada di depan pintu kamarku. Di pagi hari, tanpa selipan pesan apapun, bergelung rapi, terlihat seperti yang kuinginkan. Ku anggap ini hadiah dari para alien karena aku memakai kostum ruang angkasa kemarin.
                Malam ini aku akan beraksi. Tugasku yang pertama adalah mengukir sudut 60 derajat di tiga titik yang berjarak sama. Iya, itu rumusnya, seingatku saja. Entahlah. Hanya, bahwa, aku belum punya busur yang cukup besar untuk menjalankan misi yang satu ini.
                Asrama ini telah berbau angker seperti di malam-malam yang lainnya, yang sebelumnya. Tapi setidaknya mistar ringkih 30 senti berwarna putih yang ku temukan tanpa sengaja di kardus buku ini lumayan berguna, hitungan sudut itu bisa direkayasa lewat panjang yang sama, iya, benar itu kuncinya, hanya jadi segitiga yang menahan kaitan tambang dalam misi melepasku terbang.
--------
                Aku rupanya memang bukan seorang pencerita yang baik. Singkatnya aku telah berada di jendela besar itu di pukul empat subuh hari. Telah rapi melilitkan tambang di pinggang dan kedua kakiku sendiri. Aku memang benar bodoh waktu itu, mana bisa terbang dengan kaki terlilit tambang. Tapi kesadaran itu baru kudapatkan di pukul delapan pagi.
                Setelah berteriak sekuat tenaga, melakukan debuman keras ke tembok asrama dengan seluruh jiwa raga dengan posisi kaki terbuka ke atas, dan pinggang direkat simpul tambang besar yang menyakitkan. Ini ketinggian 10 meter.
                Intinya aku bisa saja mati, pada saat itu juga. Ah, tapi belum.
                Jika, tali itu lepas dari simpulnya.
                Jika, para guru terlambat menengok jendela.
                Jika, aku kurang teliti mengukur 60 derajat sudut tali-tali yang sama rata itu.
                Ah, aku gila bertahan. Melacak soal cara bertahan. Ilmu bertahan hidup dengan kegilaanku sendiri. Aku baru saja tersadar, memakai kostum luar angkasa di hari pertamamu di-asramakan, walaupun itu hadiah dari orangtuamu, bukanlah sebuah ide brilian. Naga terbang. Pohon berbicara. Alien.

                Haha. Ini ilmu bertahan.

Thursday, November 7, 2013

Refleksi Koneksitas Kelembagaan Negara dalam Membangun Budaya Sadar Berkonstitusi


Pergeseran Kekuasaan Eksekutif yang ditulis pada tahun 1977 oleh Ismail Suny telah membuka sebuah pandangan baru mengenai unsur-unsur kefungsian eksekutif yang menguat sepanjang pemerintahan Soeharto. Tokoh Presiden yang memegang kuasa terhadap seluruh derivasi mekanis penyelenggaraan Negara tersebut secara radict banyak menelurkan perundang-undangan yang tidak hanya berbasis pada keterbutuhan eksekutorial namun juga pembentukan norma-norma taktis baru yang tidak pernah dilahirkan oleh DPR RI maupun MPR RI sebagai tonggak fungsi legislative nasional dan dwi manunggal.
     Selanjutnya Pergeseran Fungsi Legislasi yang ditulis Saldi Isra pada tahun 2010 kembali mengemukakan suatu persimpangan dalam fungsi-fungsi kelembagaan Negara yang berada dalam puncak konsepsional. Badan legislatif yakni DPRD RI mengalami suatu blokade tertentu akibat kewenangan presiden dalam rangka merekomendasikan dan mengesahkan suatu produk perundang-undangan. Sehingga renovasi fungsi legislasi dalam sistem pemerintahan Indonesia haruslah bertumpu pada purifikasi sistem presidensial[1].
        Kini dilematika ketatanegaraan rupanya berjalan searah rumitansi yang menumpuk dimana pertalian konkret antara kotom lembaga bodies dan auxalary serba tumpang tindih. Serta entry classif derivasi lembaga konstitutif dan konstitusional juga tidak menemui jalan tengahnya. Koherensi sistem presidensial sebagai pilihan mainstream akademis tidak terinternalisasi dalam perjalanan yurisdiksi Mahkamah Konstitusi sebagai triadic function NKRI. Hingga saat ini belum ditemukan naskah riset yang merancang format sinergitas sistem presidensial dalam konteks dyad function dengan Mahkamah Konstitusi sebagai representasi triadic function dengan pendekatan positivis – constituendum, menemukan konteks untuk merancang konteks selanjutnya.
Martin Shapiro dalam bukunya Courts mengatakan bahwa kompleksitas yang timbul pada masyarakat modern menghendaki pihak ketiga untuk menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Menurutnya metode penyelesaian sengketa secara triadik ini didasari oleh norma (Konstitusi) yang berfungsi sebagai landasan bersama guna mencari solusi atas persoalan yang dihadapi.[2] Sehingga dalam sistematika kelembagaan Negara konstitusional setidaknya kita mengenal percabangan fungsi strategis di luar eksekutif dan legislative yang diwakili oleh judikasi konstitusi.
        Dengan demikian merujuk pada konsep Negara kesatuan, daulat pemerintahan berikut kelembagaan-kelembagaan turunannya haruslah sejalan dengan paham integrasi dan harmonisasi. Rigitasi lanjutan dalam konteks NKRI, kita dapati bahwa lembaga utama driad system saat ini yakni Presiden dan DPR RI berjalan dalam kerangka system presidensial baik dalam kecendrungan kesejarahan maupun progresifitas purifikasinya. Presidensial menjadi sebuah nalar pangkal dari rangkaian hubungan dan komunikasi mutual antar lembaga Negara. Lalu bagaimanakah ia dapat diterapkan dalam percabangan triadic fungsi judikasi konstitusi?
Mainstream hukum telah menempatkan konsistensi supremasi dalam berbagai alur dan mekanisme, baik secara pandangan doktrinasi maupun tataran legal-konstitutif. Contoh paling populer mengenai konsistensi supremasi hukum dalam pandangan doktrinasi adalah rumus piramida Hans Kelsen dan Hans Naviasky. Yang pada intinya menganggap bahwa suatu norma hukum menempati pos-pos tingkat tertentu yang menentukan klasifikasi tinggi dan rendahnya ruang lingkup dan substansi. Selanjutnya konsistensi supremasi hukum dalam tataran legal-konstitutif dapat di ambil dari logika kelembagaan konstitusional RI, yakni setidaknya suatu lembaga bersifat instruktif terhadap lembaga di bawahnya. Hal ini pula berlaku dalam semua tataran jaringan fungsi Negara termasuk lembaga peradilan yakni Mahkamah Agung. Mahkamah Agung Republik Indonesia yang saat ini menjadi muara dalam hierarki peradilan NKRI pula memiliki satu wewenang kasasi dalam memutus akhir suatu perkara di luar konstitusionalitas.
Dalam pada itu, penyelesaian amandemen UUD N RI 1945 pada rapat paripurna MPR RI tahun 2002, Mahkamah Konstitusi lahir sebagai bagian percitaan yang menemui tangga realitanya. Dimulai pada tahun 2004 mengenai UU Komisi Yudisial para hakim Konstitusi memutuskan untuk menyatakan sebagian ketentuannya batal demi hukum. Maka sederetan putusan kontroversial menemui jaring konklusinya di putusan hakim Mahkamah Konstitusi.
Secara konseptual gagasan pembentukan Mahkamah Konstitusi adalah untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.[3] Mahkamah konstitusi dalam konstelasi kelahirannya telah memberikan satu refleksi konkret format konstitusionalitas Juan Linz bahwa supremasi keadilan konstitusional haruslah menjangkau setiap warga Negara, rakyat dan pemerintah. Namun dalam tataran perhubungan fungsi-fungsi konstitutif kelembagaan Negara, Mahkamah Konstitusi wajib kembali dibenahi. Masalah yang menjadi great line adalah bagaimana koherensi internal adjudikasi nasional antara Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung serta koherensi eksternal yang berkenaan dengan perhubungan eksekutif dan legislatif dengan Mahkamah Konstitusi dalam bingkai sistem presidensial.
                Seluruh koneksitas mutual yang terjadi dalam tataran kelembagaan nasional tersebut tentunya tidak akan pernah menemui establishment-nya sebelum daulat konstitusional dimaknai kembali sebagai koherensi factual terhadap keberadaan rakyat dan pemerintahnya. Jimly Ashsiddhiqie dalam tulisannya yang disampaikan dalam beberapa seminar hukum nasional menyampaikan bahwa Budaya Sadar Berkonstitusi utamanya menjadi titik tolak strategis dalam kehidupan berbangsa yang beradab. Yakni dimana setiap warga Negara memiliki pemahaman konkret dan actual mengenai keberadaan dirinya. Budaya.


[1] Saldi Isra, Pergeseran Fungsi Legislasi : Menguatnya Model Legislasi Parlementer…, hal 22
[2] Ahmad Syahrizal, Peradilan Konstitusi : Suatu Studi tentang adjudikasi konstitusional…, hal 46
[3] Ibid, hal 263.