Wangi langit bicara soal pulasan. Ia tak pernah suka terlalu terbuka. Cerita yang disyairkannya adalah rona-rona romantika saja.
Suatu kali saat langit mengantar wanginya ke bumi, kita akan seketika berwarna jingga. Jadi tarian di derivan kuning dan merah. Sempurna. Polesannya adalah kegembiraan. Wangi langit bicara fajar dan guratannya yang sebentar.
Ah, aku suka mencium wangi langit. Karena bersihnya bersahaja. Gelap terang tanpa dialogika. Satu sampai empat kali saja, ia ganti pulasannya dalam detak hari-hari.
Wangi langit yang biru kadang juga pergi basi bersama si putih. Gila dia. Bawa lari pallet demarkasi hitam untuk bintang-bintang. Katanya itu tanda wangi langit tak ingin disentuh-sentuh, tak ingin di gapai-gapai, coba lari dari mendung dan jelang temaram.
Wangi langit adalah pulasan satu sampai empat. Disana diantarkan wangi kalut dan gelisahnya jiwaku di penghujung kota lain. Sebab wangi langit tak pernah suka terlalu terbuka. Bagian romantikanya saja.
Tapi aku paling suka wangi langit.
Saturday, January 18, 2014
Friday, January 10, 2014
Recreance
Kita akan berhenti pada satu titik dimana terungkap semua jawaban. Tidak lagi ada kepedulian pada yang lainnya. Tidak ada lagi kata-kata mesra untuk siapa.
Kasih sayangku adalah untuk diriku. Pola pikirku jadi henti pada keselamatanku. Pengkhianatanmu padaku jadi tak menyakitkan lagi.
Pada saat itu kau tak akan mengingatku. Tidak ada lagi simpanan di bilik hatimu tentang, bahwa, sebenarnya, kau tak suka aku.
Mungkin yang ku katakan cuma representasi kotornya hatiku saja. Bahwa kau mengatakan sesuatu di belakangku adalah tanda bahwa aku terlalu kaku. Bahwa suatu hari dimana berpisah pandang antara kau dan aku, kita tak akan lagi saling mengenal. Karena hari itu.
Dicabutlah ruh ku. Dicabutlah ruh mu.
Tinggalah segala kefanaan.
Aku tak ingin, putus diri dari keselamatan kau. Dari keselamatan ku.
Kasih sayangku adalah untuk diriku. Pola pikirku jadi henti pada keselamatanku. Pengkhianatanmu padaku jadi tak menyakitkan lagi.
Pada saat itu kau tak akan mengingatku. Tidak ada lagi simpanan di bilik hatimu tentang, bahwa, sebenarnya, kau tak suka aku.
Mungkin yang ku katakan cuma representasi kotornya hatiku saja. Bahwa kau mengatakan sesuatu di belakangku adalah tanda bahwa aku terlalu kaku. Bahwa suatu hari dimana berpisah pandang antara kau dan aku, kita tak akan lagi saling mengenal. Karena hari itu.
Dicabutlah ruh ku. Dicabutlah ruh mu.
Tinggalah segala kefanaan.
Aku tak ingin, putus diri dari keselamatan kau. Dari keselamatan ku.
Thursday, January 9, 2014
Everybody Hurts Someday
Inget banget waktu jaman gue masih agak kecilan dari sekarang, gue pernah ngupdate laman blog pake videonya avril lavigne yang Wish You Were Here or whatever lah. Haha. Gila, gue berasa alay banget.
Tapi sekarang, gue nyadar kecendrungan konyol kayak gitu emang tetep ada. Beberapa waktu nemu lagunya avril lagi, yah, gue jadi ngerealize konteks hidup lagi. Semacam, balik ke kealayan gue dulu. Ah, gapapa lah. Express.
Beberapa orang pernah bilang, kalo kita akan dibersamai sama orang yang memang sejalan sama perjuangan kita. Baik dalam level ketahanan atau pemahaman. Karena emang kayak gitu sistem perjodohan dunia.
Maksud gue, bukan 'perjodohan' yang sempit aja, tapi soal ketemu sama orang yang dalam konteks apa aja.
Mereka bilang, kita kuat membersamai orang yang jalan perjuangannya emang pantes buat kita. Orang-orang juga kuat membersamai kita karena emang dia jodoh buat kita di jalan itu.
Tapi bagi gue premis itu nggak sepenuhnya bener. Ya, nggak salah juga.
Ini bukan sekedar tentang maqam, tapi emang, jalan yang spesifik. Suatu jalan politik komposisi Yang Maha Kuasa. Semoga terkuatkan.
Yang tidak bertemu lagi, yang akan sulit bicara tentang hal yang sama lagi. Karena akan terus ada yang baru menemui, yang akan bicara tentang hal yang sama. :')
Tapi sekarang, gue nyadar kecendrungan konyol kayak gitu emang tetep ada. Beberapa waktu nemu lagunya avril lagi, yah, gue jadi ngerealize konteks hidup lagi. Semacam, balik ke kealayan gue dulu. Ah, gapapa lah. Express.
Beberapa orang pernah bilang, kalo kita akan dibersamai sama orang yang memang sejalan sama perjuangan kita. Baik dalam level ketahanan atau pemahaman. Karena emang kayak gitu sistem perjodohan dunia.
Maksud gue, bukan 'perjodohan' yang sempit aja, tapi soal ketemu sama orang yang dalam konteks apa aja.
Mereka bilang, kita kuat membersamai orang yang jalan perjuangannya emang pantes buat kita. Orang-orang juga kuat membersamai kita karena emang dia jodoh buat kita di jalan itu.
Tapi bagi gue premis itu nggak sepenuhnya bener. Ya, nggak salah juga.
Ini bukan sekedar tentang maqam, tapi emang, jalan yang spesifik. Suatu jalan politik komposisi Yang Maha Kuasa. Semoga terkuatkan.
Yang tidak bertemu lagi, yang akan sulit bicara tentang hal yang sama lagi. Karena akan terus ada yang baru menemui, yang akan bicara tentang hal yang sama. :')
Thursday, December 26, 2013
Setidaknya (Part Three)
Hal apa yang paling menyibukanmu
dalam hidup? Apakah pekerjaan? Keluarga? Sekolah?
Bagiku tidak semua
dari itu menarik untuk dijadikan kesibukan. Aku rasa-rasanya tidak suka dengan
semua hal yang kutemui. Terlebih kau.
Bicara denganmu bisa
membuatku harus berusaha keras menjadi orang lain. Mengetahui keberadaanmu cuma
menambah sakit kepalaku saja. Senyummu itu tidak berguna selain menjadi
tambahan alasan bagiku untuk membencimu. Dan seluruh orang di dunia. Aku tidak
suka kau tersenyum sambil berpikir ini hiburan bagimu. Karena semua orang yang
kutemui selalu berpikiran begitu.
--------
Ini Pegunungan. Sebuah
kota yang begitu aneh. Disini tidak terlalu banyak orang tinggal. Setidaknya
tidak bila dibandingkan dengan Jakarta. Ini kota Batu. Pertengahan antara Kota
Malang dan Kabupaten Malang. Jawa Timur, timurnya pulau Jawa.
Aku bersyukur dapat
kembali ke tempat semacam ini. Setidaknya ini lebih segar daripada di pantai.
Aku tidak suka ke pantai, terlebih liburan akhir tahunku selalu di isi dengan
pergi ke pantai bersama orang-orang bodoh sekelas. Tidak di Jakarta, tidak
disini, aku tidak suka pantai, membuatku terobsesi untuk ditelan keserakahan
alam saja. Semacam gelombang lautan yang menyeret ke tengah pusaran. Sebab
sejak aku lahir, aku hanya kenal keserakahan manusia yang mengunyahku hingga
serpihan.
Ini berlebihan.
Setidaknya sekarang aku
tidak sendirian.
“Voleta Zora.”
Ujarnya.
“Vincent Zoe.”
Balasku, “Ternyata seperti ini rasanya bicara dengan saudara kandung.”
Kami benar-benar duduk
di pinggir jurang seperti yang pernah kulakukan tiga tahun lalu, di tempat ini.
“Apakah kita kembar?”
tanyaku.
Zoe tersenyum lebar,
lalu menyeruput lagi secangkir besar cappuccino-nya.
Ia menggeleng, “menyedihkan sekali, adik. Don’t
you really like a fool? Apa saja yang di ajarkan ibumu selama ini?”
“Kalau begitu jarak
kelahiran kita pasti ga lebih dari
setahun.”
“Kenapa?”
“Lo tuh keliatan lebih bego
dari gue.”
Matanya membelalak,
menatapku, speechless rupanya.
--------
Mau bagaimanapun aku
memang lebih bisa di andalkan daripada Zoe.
Aku punya poin IQ lebih tinggi darinya. Aku mulai terbiasa mengurus usaha ibuku
yang tanpa belaskasih itu sejak masuk perkuliahan. Kelebihanku yang paling
utama, aku bisa bekerja sendiri, aku tidak punya orang kepercayaan yang
sewaktu-waktu dapat merutukiku di belakang atau menusukku saat lengah.
Tapi ini tidak adil.
Karena Zoe jago
beladiri. Ia mengurus sahamnya di bawah bimbingan ayah sejak ia berumur 10
tahun. Ia punya segerombolan laki-laki pecundang sebayanya yang dipercayainya
dalam banyak hal. Setidaknya Zoe juga punya kulit wajah yang lebih cerah
dariku. Ia tidak perlu mengalami masa kanak-kanak dimana para ibu begitu
mengkhawatirkan kulit sensitif anaknya meradang sehingga memakaikan begitu
banyak anti-UV yang malah membuat pigmen kulit transisi warna.
Setidaknya saat ini
Zoe bisa menemui ayah ketika pulang ke Singapur sementara aku tidak dapat
menemukan ibu dimanapun sejak hampir 6 tahun terakhir ini. Aku tidak tahu.
Aku memang selalu jadi
orang yang ditinggalkan. Saat ini, kemarin lalu maupun di masa depan.
Setidaknya aku lebih dapat di andalkan. Aku tidak seperti Zoe, saudaraku. Dia
manja dan sok tahu.
--------
Jalan menuju Kota
Malang hanya lurus saja. Setelah kami singgah sholat maghrib di Masjid besar di
persimpangan jalan protokol. Aku berencana untuk tidur saja, membiarkan Zoe
menyetir sendirian. Aku sudah cukup tersakiti seharian ini, mendengarkan kabarnya
yang 18/19 tahun terakhir ini.
Sebenarnya aku masih
berkeyakinan kami kembar tapi Zoe bilang, itu tidak mungkin. Ia punya dua akte
kelahiran, yang satunya bertuliskan tahun 1994 dan satunya 1995. Sementara aku
punya tiga akte kelahiran, bertuliskan tahun 1992, 1994, dan 1995. Tapi tanggal
lahir kami tidak ada yang sama. Jadi Zoe yakin bahwa aku kelahiran 1995
sementara ia 1994 karena di tahun 1992 menurutnya orangtua kami belum bertemu.
Siapa yang tahu? Dia memang sok tahu.
Seperti itulah Zoe,
rambutnya lurus hitam potongan cowok
standar. Kulit langsat cerah, mata sipit tanpa lipatan kelopak yang sama
sepertiku, khas keturunan orang Cina. Dia punya jaket mahal, jeans dan handphone limited edition yang hanya bisa langsung dibeli
di Finlandia. Zoe orang kaya, tidak sepertiku. Zoe bilang itu wajar, karena aku
dibawa ibu sementara ia dibawa ayah. Seorang lelaki lebih bisa bertanggungjawab
soal bagaimana menghasilkan uang, bagaimanapun juga, katanya. Aku hanya bisa
menggelengkan kepala, lalu memalingkan wajah darinya. Kurang ajar. Mungkin
lainkali aku harus membalas dendam untuk ucapan sembrono-nya itu.
Dia tentu tidak pernah
berpikir bahwa aku begitu muak dengan uraiannya soal hidup makmur tanpa telepon
berisik yang menagih hutang sekaligus updating
harga bunga searah putaran jual beli kurs mata uang. Aku bisa gila.
“Ayah pernah cerita
soal gue?”
Zoe menggeleng. Lalu meneruskan
kembali pijakan kaki kanannya di pedal gas, kami terjebak macet di jalan yang
sekedar lurus ini. Sama seperti kebanyakan manusia, macet di jalan lurus,
saling berdesakan, sempalan.
“Sama sekali ga pernah?”
“Katanya mau tidur,
dik.”
“Kok bisa ya, mereka berdua sehebat itu. Ibu juga ga pernah ngomong-ngomong soal
elo.”
“Call me kakak, abang, mas? Big-brother, or else?” Zoe tersenyum sok dewasa. Aku jadi tambah muak.
“What a really nonsense.” Lalu aku terdiam.
Beberapa kenangan masa
laluku semburat mengalir. Bagaimana aku dikirim ke asrama yang sangat jauh dari
rumah sejak masa kecilku. Bagaimana aku pulang ke rumah dan semua orang
mengatakan bahwa ibuku telah pergi dengan hanya meninggalkan sepaket tumpukan
kertas di atas meja belajarku. Bagaimana aku memarahi orang yang jauh lebih tua
dariku di setiap rapat yang ku pimpin. Bagaimana aku menghadapi pegawai bank.
Bagaimana orang lain menggantikan ibuku lalu berpura-pura jadi kedua orangtuaku
yang berbahagia, memakan harta di rumahku lalu setelah mulai tiris mereka pergi. Juga bagaimana aku
berpikir betapa sial tidak memiliki satu-pun orang yang menjadi keluarga.
--------
“I’ll take you here on 7 am.” Kata Zoe sebelum melepaskan kuncian
pintu.
“I need to sleep over the day. Brilliant brain need to rest.”
Zoe tertawa geli
mendengar jawabanku, “What kind of
brilliant, Little Miss? Leave the sleep. We’ll found our mom tomorrow.”
“Nonsense.” Jawabku, keluar dari ‘barang pribadi’nya yang mewah dan
patut dipamerkan itu.
Monday, December 16, 2013
Perlawanan
Kita ini tengah menghadapi sebuah rezim yang menjulang kokoh. Tinggi menghalangi pandangan. Rezim kedzoliman.
Kita ini tengah melawan sebuah kekuatan yang tersusun sejak lama. Angkuh, mengakar. Kekuatan yang menindas kebenaran.
Bagi rezim kedzoliman, kita cuma itik yang diseret kepentingan mereka. Bagi kekuatan yang menindas, kia cuma pinggir lautan yang dilemahkan.
Maka, kuatlah, kuatkanlah kekuatan ini, sahabat.
Sunday, November 24, 2013
Ilmu Bertahan (Part Two)
Rindu adalah ketika kau tidak
dapat mengambil definisi terbaru soal waktu-waktu. Rindu adalah karena
makna-makna batinmu jadi sekedar menggelayuti ruang-ruang pikirmu. Rindu adalah
karena yang tiada jadi begitu ada, lalu menyalamimu dengan sentakan seketika,
berkata bahwa, ia harus pergi tanpa tangisanmu. Dengan begitu kau jadi menyadari
bahwa kau benar sebegitu rindu padanya.
Hatiku jadi kapas yang dihembus
aliran udara mikrotik. Terbang sekaligus kebasahan. Sirkuit yang butuh
penerangan. Atau semacam mengetahui sesuatu yang tak pernah dibayangkan
sebelumnya. Jadi sendu, biasa memakan kesakithatian sambil pura-pura tidak. Aku
jadi perempuan yang semacam itu, pada akhirnya. Menyembunyikan, sesekali.
Mengapa jadi begitu mahalnya
bicara denganku. Aku bertanya tanpa tanda tanya. Berputar, melintang.
Menerobos, menggelitik, rindu.
Ini soal ilmu bertahan.
--------
Bangunan
putih gaya oldys itu menjulang
mengerikan di hadapanku. Di belakang, kedua orangtuaku tengah berbincang sok akrab dengan seseorang yang semacam
berkedudukan sebagai kepala sekolah disini. Aku akan kembali di “asramakan”.
Begitu katanya, begitu kata mereka.
Ada
sebuah pikiran konyol yang menyelip keluar dari bingkai jendela besar di lantai
tiga itu. Apakah aku bisa melayangkan diri untuk mempraktekkan teori “flying-dragon” yang pernah ku susun
saat di SMA dulu ? Aku, memang butuh tempat semacam ini. Yang tinggi di atas
itu. 25 meter, cukup.
Teori
putaran sentripetal, terbang, terbang ala naga. Terbang lewat tarikan tiga
poros tambang yang disusun sedemikian rupa, sehingga masing-masing di antaranya
membentuk sudut 60 derajat dari tumpuan. Aku hanya butuh busur kayu yang besar,
tali tambang yang panjangnya minimal tiga kali lebar daun jendela itu, juga satu
tali tambang lagi, yang super besar, yang dua kali jarak antar gedung.
Merangkai semalaman, bergerak terbang di pagi hari.
“Kapan
saya mulai bisa tinggal disini ?” ujarku menyela bicara ketiga orang paruh baya
itu.
Ketiganya
menatapku keheranan.
Ayah
membelai kepalaku sambil tersenyum sumringah, lalu menatap mataku dengan
hangat, “Next week,” katanya.
“It’s not a trial, no culpability, no crowd,
no fatality. Standing, no binding.” Ujar ibuku ketus, memalingkan wajah
tirusnnya, menyilangkan kedua tangan di depan.
Aku
mengangguk, lalu berkomat kamit asal ke arah ayah, meledek ibuku yang semacam
nenek sihir. Kami tertawa kecil, paham kode ejekan tingkat tinggi itu. Lalu aku
berharap minggu depan bangunan mengerikan ini tetap seperti ini. Sehingga malam
nanti aku bisa mulai kembali bersiap, menyusun rencana untuk terbang, menjadi
naga yang terbang.
--------
Kamar hotel yang kami sewa ini
tidak begitu luas. Tidak ada sekat selain untuk kamar mandi. Ini bukan pertama
kali kami sekeluarga berada dalam keadaan yang seperti ini. Tapi aku bersyukur
malam ini aku bisa berbaring di sofa sambil ketiduran saat membaca buku tebal
di larut malam. Aku suka jika aku harus tidur di sofa, merasa seakan aku
berkorban begitu besar, menjadi pahlawan. Aku suka jika aku harus larut
tertidur tanpa kusadari, merasa seakan aku seorang pemikir sungguhan. Padahal
tidak. Padahal aku Cuma anak kecil yang berdoa, tidak ada satupun teman
sekelasku yang tahu bahwa aku rata-rata tiga tahun lebih muda dari mereka.
Tidak peduli mereka tahu lewat memperhatikan pertumbuhan postur tubuhku di masa
depan, atau tahu lewat perubahan psikologis yang ku alami. Aku hanya ketakutan,
rahasia ini tersebar dan jadi alat ampuh bagi para raksasa jahat dan truk,
menginjakku maupun melindas cake
coklat blueberry di jalan raya. Maka aku harus bisa terbang. Mulai minggu
depan.
“Aku
suka tempatnya, tapi ini terlalu jauh. How
could I be home ?” Tanyaku setengah berteriak
“You not !” jawab ayah dan ibuku senada,
juga setengah berteriak.
Aku
mendudukan diriku, memeluk punggung sofa, menghadap ke tempat tidur di
belakangku, “Surely?” tanyaku dengan
perasaan hina yang mendalam.
Keduanya
tersenyum seakan begitu bahagia, lalu kembali melanjutkan bacaannya,
melanjutkan bicaranya di telepon genggam. Aku kecewa.
“Mom, do you see my white book on this bag?”
“Just found it on other way.”
“It must be a high-price-book.”
“High-value-book, Dad. I’ll be
one of the most popular with that book.”
“Dragon and fly theory?”
“……”
“You left it on your desk and
said you going to ‘trashed’ it.”
“……”
--------
Seluruh
siswa disini dibebaskan berbusana apapun. Sehingga aku bebas menggunakan
apapun, entah cadar, baju renang atau kostum ruang angkasa. Hari ini aku
mengenakan kostum ruang angkasa. Kelas filologi yang membosankan, tidak ada
sesi perkenalan. Orang-orang yang berbau tidak enak dan mereka tidak memiliki
tambang seperti yang kubayangkan. Kami rupanya, setidaknya, sama-sama anak yang
dibuang orangtua-orangtua kami. Tapi mungkin setidaknya aku lebih parah karena diminta
untuk tidak pulang lewat senyuman ejekan ayah dan ibuku malam seminggu yang
lalu.
Dragon and fly theory masih jadi bab
kesukaanku. Jauh dari omongan filologi yang tidak bisa kucerna lewat jalan
biasa, di kelas berisi 21 orang ini. Rata-rata anak laki-laki di kelasku
berkacamata, sementara semua anak perempuan bergaya berlebihan dengan make-up mereka. Paling sedihnya, tidak
ada yang bisa ku ajak bicara disini. Karena aku memakai kostum ruang angkasa,
sekedar karena itu saja, aku menjadi gadis aneh yang susah di ajak bicara.
Mungkin begitu pikir mereka saat menatapku dengan sinis. Mungkin juga karena
aku memakai helm luar angkasa. Ya, aku tidak peduli, mereka tidak tahu saja
bahwa, kostum ini hadiah ulangtahunku yang keduabelas dan sangat berharga.
Kamar
asrama kami sudah lebih dari hotel dengan kamar mandi di dalam, sendirian. Ini
bukan asrama, kupikir. Tapi plesiran. Minggu depan jika masih juga belum bisa
terbang aku akan menelpon kedua orangtuaku, minta pulang. Tapi kalau sudah bisa
terbang, aku bisa pergi ke mana saja, Negara lain misalnya. Ini sederhana.
Sesederhana mencari gulungan tambang di gudang belakang gedung putih yang
menjulang angkuh.
--------
Entah
bagaimana caranya, singkatnya, pagi tadi gulungan tambang yang ku impikan itu ada di depan pintu kamarku. Di pagi
hari, tanpa selipan pesan apapun, bergelung rapi, terlihat seperti yang
kuinginkan. Ku anggap ini hadiah dari para alien karena aku memakai kostum
ruang angkasa kemarin.
Malam
ini aku akan beraksi. Tugasku yang pertama adalah mengukir sudut 60 derajat di
tiga titik yang berjarak sama. Iya, itu rumusnya, seingatku saja. Entahlah.
Hanya, bahwa, aku belum punya busur yang cukup besar untuk menjalankan misi
yang satu ini.
Asrama ini telah berbau angker
seperti di malam-malam yang lainnya, yang sebelumnya. Tapi setidaknya mistar
ringkih 30 senti berwarna putih yang ku temukan tanpa sengaja di kardus buku
ini lumayan berguna, hitungan sudut itu bisa direkayasa lewat panjang yang
sama, iya, benar itu kuncinya, hanya jadi segitiga yang menahan kaitan tambang
dalam misi melepasku terbang.
--------
Aku rupanya memang bukan seorang
pencerita yang baik. Singkatnya aku telah berada di jendela besar itu di pukul
empat subuh hari. Telah rapi melilitkan tambang di pinggang dan kedua kakiku
sendiri. Aku memang benar bodoh waktu itu, mana bisa terbang dengan kaki
terlilit tambang. Tapi kesadaran itu baru kudapatkan di pukul delapan pagi.
Setelah berteriak sekuat tenaga,
melakukan debuman keras ke tembok asrama dengan seluruh jiwa raga dengan posisi
kaki terbuka ke atas, dan pinggang direkat simpul tambang besar yang
menyakitkan. Ini ketinggian 10 meter.
Intinya aku bisa saja mati, pada
saat itu juga. Ah, tapi belum.
Jika, tali itu lepas dari
simpulnya.
Jika, para guru terlambat
menengok jendela.
Jika, aku kurang teliti mengukur
60 derajat sudut tali-tali yang sama rata itu.
Ah, aku gila bertahan. Melacak soal
cara bertahan. Ilmu bertahan hidup dengan kegilaanku sendiri. Aku baru saja
tersadar, memakai kostum luar angkasa di hari pertamamu di-asramakan, walaupun itu
hadiah dari orangtuamu, bukanlah sebuah ide brilian. Naga terbang. Pohon
berbicara. Alien.
Haha. Ini ilmu bertahan.
Thursday, November 7, 2013
Refleksi Koneksitas Kelembagaan Negara dalam Membangun Budaya Sadar Berkonstitusi
Pergeseran
Kekuasaan Eksekutif yang ditulis pada tahun 1977 oleh Ismail Suny telah
membuka sebuah pandangan baru mengenai unsur-unsur kefungsian eksekutif yang
menguat sepanjang pemerintahan Soeharto. Tokoh Presiden yang memegang kuasa
terhadap seluruh derivasi mekanis penyelenggaraan Negara tersebut secara radict banyak menelurkan
perundang-undangan yang tidak hanya berbasis pada keterbutuhan eksekutorial
namun juga pembentukan norma-norma taktis baru yang tidak pernah dilahirkan
oleh DPR RI maupun MPR RI sebagai tonggak fungsi legislative nasional dan dwi
manunggal.
Selanjutnya Pergeseran Fungsi Legislasi yang ditulis Saldi Isra pada tahun 2010
kembali mengemukakan suatu persimpangan dalam fungsi-fungsi kelembagaan Negara
yang berada dalam puncak konsepsional. Badan legislatif yakni DPRD RI mengalami
suatu blokade tertentu akibat kewenangan presiden dalam rangka merekomendasikan
dan mengesahkan suatu produk perundang-undangan. Sehingga renovasi fungsi
legislasi dalam sistem pemerintahan Indonesia haruslah bertumpu pada purifikasi
sistem presidensial[1].
Kini dilematika ketatanegaraan
rupanya berjalan searah rumitansi yang menumpuk dimana pertalian konkret antara
kotom lembaga bodies dan auxalary serba tumpang tindih. Serta entry classif derivasi lembaga konstitutif dan konstitusional juga tidak
menemui jalan tengahnya. Koherensi sistem presidensial sebagai pilihan mainstream akademis tidak
terinternalisasi dalam perjalanan yurisdiksi Mahkamah Konstitusi sebagai
triadic function NKRI. Hingga saat ini belum ditemukan naskah riset yang merancang format sinergitas sistem
presidensial dalam konteks dyad function dengan Mahkamah Konstitusi
sebagai representasi triadic function dengan pendekatan positivis – constituendum, menemukan konteks untuk
merancang konteks selanjutnya.
Martin Shapiro dalam bukunya Courts
mengatakan bahwa kompleksitas yang timbul pada masyarakat modern menghendaki
pihak ketiga untuk menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Menurutnya
metode penyelesaian sengketa secara triadik ini didasari oleh norma
(Konstitusi) yang berfungsi sebagai landasan bersama guna mencari solusi atas
persoalan yang dihadapi.[2]
Sehingga dalam sistematika kelembagaan Negara konstitusional setidaknya kita
mengenal percabangan fungsi strategis di luar eksekutif dan legislative yang
diwakili oleh judikasi konstitusi.
Dengan demikian merujuk pada
konsep Negara kesatuan, daulat pemerintahan berikut kelembagaan-kelembagaan
turunannya haruslah sejalan dengan paham integrasi dan harmonisasi. Rigitasi
lanjutan dalam konteks NKRI, kita dapati bahwa lembaga utama driad system saat ini yakni Presiden dan
DPR RI berjalan dalam kerangka system presidensial baik dalam kecendrungan
kesejarahan maupun progresifitas purifikasinya. Presidensial menjadi sebuah
nalar pangkal dari rangkaian hubungan dan komunikasi mutual antar lembaga Negara. Lalu bagaimanakah ia dapat diterapkan
dalam percabangan triadic fungsi
judikasi konstitusi?
Mainstream hukum telah menempatkan konsistensi supremasi dalam
berbagai alur dan mekanisme, baik secara pandangan doktrinasi maupun tataran legal-konstitutif. Contoh paling populer
mengenai konsistensi supremasi hukum dalam pandangan doktrinasi adalah rumus
piramida Hans Kelsen dan Hans Naviasky. Yang pada intinya menganggap bahwa
suatu norma hukum menempati pos-pos tingkat tertentu yang menentukan klasifikasi
tinggi dan rendahnya ruang lingkup dan substansi. Selanjutnya konsistensi
supremasi hukum dalam tataran legal-konstitutif dapat di ambil dari logika
kelembagaan konstitusional RI, yakni setidaknya suatu lembaga bersifat
instruktif terhadap lembaga di bawahnya. Hal ini pula berlaku dalam semua
tataran jaringan fungsi Negara termasuk lembaga peradilan yakni Mahkamah Agung.
Mahkamah Agung Republik Indonesia yang saat ini menjadi muara dalam hierarki
peradilan NKRI pula memiliki satu wewenang kasasi dalam memutus akhir suatu
perkara di luar konstitusionalitas.
Dalam pada itu, penyelesaian amandemen UUD N RI 1945 pada rapat paripurna
MPR RI tahun 2002, Mahkamah Konstitusi lahir sebagai bagian percitaan yang
menemui tangga realitanya. Dimulai pada tahun 2004 mengenai UU Komisi Yudisial
para hakim Konstitusi memutuskan untuk menyatakan sebagian ketentuannya batal
demi hukum. Maka sederetan putusan kontroversial menemui jaring konklusinya di
putusan hakim Mahkamah Konstitusi.
Secara konseptual gagasan pembentukan Mahkamah Konstitusi adalah untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.[3]
Mahkamah konstitusi dalam konstelasi kelahirannya telah memberikan satu
refleksi konkret format konstitusionalitas Juan Linz bahwa supremasi keadilan
konstitusional haruslah menjangkau setiap warga Negara, rakyat dan pemerintah.
Namun dalam tataran perhubungan fungsi-fungsi konstitutif kelembagaan Negara,
Mahkamah Konstitusi wajib kembali dibenahi. Masalah yang menjadi great line adalah bagaimana koherensi internal adjudikasi nasional antara
Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung serta koherensi eksternal yang berkenaan
dengan perhubungan eksekutif dan legislatif dengan Mahkamah Konstitusi dalam
bingkai sistem presidensial.
Seluruh koneksitas mutual yang terjadi dalam tataran
kelembagaan nasional tersebut tentunya tidak akan pernah menemui establishment-nya sebelum daulat
konstitusional dimaknai kembali sebagai koherensi factual terhadap keberadaan
rakyat dan pemerintahnya. Jimly Ashsiddhiqie dalam tulisannya yang disampaikan
dalam beberapa seminar hukum nasional menyampaikan bahwa Budaya Sadar
Berkonstitusi utamanya menjadi titik tolak strategis dalam kehidupan berbangsa
yang beradab. Yakni dimana setiap warga Negara memiliki pemahaman konkret dan
actual mengenai keberadaan dirinya. Budaya.
Subscribe to:
Posts (Atom)