Tidak ada yang perlu
kita takuti. Sebab lintasan pikiranku berkata bahwa tidak ada benang yang
sebegitu ikhlasnya menenun yang bukan peruntukkannya. Tidak ada yang perlu kita
khawatirkan. Sesederhana bicara bahwa masih ada esok hari. Sesederhana bahwa Allah
tak pernah mengingkari.
Aku tidak takut. Pula
tak khawatir. Hanya terpana. Terdiam sementara. Mencerna bahwa, ada begitu
banyak hal yang harus dipelajari. Menelusuri teka-teki, kejadian ini dan
pikiran itu, putaran sinkronisasi yang luarbiasa, tak terelakkan,
perbendaharaan beda dan sama.
Hanya terpana, butuh
waktu untuk menelusuri hakekat di dalamnya. Menguatkan diri kembali. Mengasah
kepekaan yang mulai menua, retak bergemeretak, pecah menggoreskan sebaran
kesakitan. Sekedar bahwa, begitu banyak hal yang harus dipelajari.
Bukan tentang bisa
lebih marah daripada kamu atau aku. Bukan tentang lebih mampu marah. Kata-kata
seperti itu, bukan kata-kata seorang yang punya logika, tentu saja. Aku
berlalu.
Sekedar bahwa, ada
begitu banyak kasih yang sulit terkomunikasikan. Melihat mereka, begitu kuat
dan siapnya. Menggiring kami. Menyadari bahwa terkuatkan. Aku terkuatkan,
menyerap lebih banyak kekuatan. Oh, ternyata sejahat itu mereka. Oh, ternyata
sebegitu rapi juga kejahatan mereka. Oh, ternyata sebegitunya mereka
membenciku, tak percaya kata-kataku.
Sekedar bahwa, tak ada
lagi jabat tangan untuk orang yang mengingkari senyuman. Mereka memilih bicara
pada yang tak bisa dipercaya. Bersepakat pada yang kata-katanya tak pernah bisa
dikata-katakan. Pada yang bicara bahwa kebebasan itu milik manusia. Pada yang
berkeyakinan bahwa kesetaraan itu mereka yang tentukan batasannya. Pada mereka.
Sekedar bahwa, ada
begitu banyak kasih yang sulit terkomunikasikan. Saat mereka begitu rela
menggadaikan logika demi kemenangan pesanannya. Saat yang lebih muda, tidak
punya sopan santun. Saat yang lebih muda begitu percaya diri bicara menekan,
seakan memiliki semua teori. Saya hanya terkesima. Ah, sebegitunya.
Innalillahi.
No comments:
Post a Comment