Setiap hal adalah kesyukuran. Setiap lirih suara adalah doa. Setiap kamu adalah permata. Setiap tarikan nafas adalah waktu-waktu. Setiap aku adalah kecintaan. Tulus yang berbuah jadi kemurnian siklus kehidupan.
Aku jadi sendu. Keheningan malam yang seperti biasa, nyinyir bergelayutan di dinding-dinding kamar. Di saat seperti ini, diam adalah cara tasbih berbisik, mengangkat dirinya ke 'Arsy. Diam adalah ilmu siklus bertahan, lekuk keberanian yang terbayang, diam. Menyegerakan diamnya, mengangkat kerinduan menuju Allah azza wa jalla.
Aku tidak bisa belajar tanpa diam, rupanya.
Sebab diam adalah ilmu alam. Kelam yang meredefinansi malam.
Aku jadi sendu. Sedikit bercerita. Mari kita bercerita. :)
Malam itu aku merasa begitu hinanya. Seseorang, "Kenapa lo ga bilang aja semuanya mir? Kenapa lo cuma diam, bilang seadanya?". Aku merasa begitu rendahnya, "Besok-besok kalau pulang malam harus ada temennnya ya." Semacam itu. Semacam sendu. Semacam menangis di kediaman.
Aku yang seperti ini begitunya. Sebegitu banyaknya bicara. Sebegitu belagak tahu dan hebat. Aku yang seperti itu. Tersentuh.
Aku ingin jadi orang mudah tersentuh. Belajar bagaimana aku bisa tersentuh, karena kata-kata, karena klasif premier persaudaraan. Sebab sesekali, aku bisa juga, tersentuh. Membayar harga tinggi bagi kemanusiaan. Sesekali.
Sebab tidak masalah untuk jatuh atau sakit atau tersakiti. Sebab ketersentuhan seperti itu membuatku begitu merasa memiliki seseorang. Sebab ketersentuhan seperti itu membuatku merasa menjadi seseorang. Bukan menjadi orang gila sombong yang hidup untuk apa yang diketahuinya. Atau pemarah nakal yang suka berbuat seenaknya. Anak yang tidak berbakti atau kakak yang tidak memilki adik. Karena aku tahu, sebenarnya, aku tak memiliki siapa dan apapun untuk seseiapa yang diriku. Sebab ketersentuhan seperti itu, menguatkanku.
Sekedar bahwa, memaknai. Semacam aku, mengukur tendensi rasa-rasaku. Sebab ternyata Allah menjadikan yang sedemikian rupa aku dan diriku. Mereka dan diri-diri mereka. Di tempat ini. Di kota ini.
Bertahan, sebentar lagi.
Malam tadi, aku tersentuh. "Dia pun juga banyak kamu sakiti mir,". Atau "Semoga aja persahabatan kamu itu, ga kayak yang sebelumnya, meninggalkan ketika ga bisa mewujudkan visimu lagi.". "Selama ini yang aku rasakan keangkuhan, mir."
Aku yang memang sebegitunya seperti ini. Sebegininya banyak menyakiti. Sebegini seringnya kelu memahami. Ya, sebegini jauhnya dari kerendahan hati.
Aku ingin kata-kataku jadi pecah parau, sesekali. Tidak memikirkannya. Menyadari bahwa, memang benar begitu banyaknya kehinaan dalam diri. Begitu banyak kasih yang sulit terkomunikasikan. Begitu aku tersentuhnya, sesekali, merasa disalahpahami.
Mari bercerita, ayo kita bercerita seadanya, katamu, ini obatku, bukan?
Sebab tidak masalah untuk jatuh atau sakit atau tersakiti. Sesegera seperti sulit menjalaninya. Sesegera seperti ingin melepaskannya. Sesegera tersentuhnya, menyadari ketiadaan. Menyadari bahwa begitu rumitnya aku di sisimu. Menyadari bahwa sulit untuk sekedar setara, bisa bersamamu, sahabat.
Tersentuh, bahwa tak memiliki seseorang, Bukan seseorang. Cuma anak nakal yang bicara seenaknya. Cuma anak kecil yang berpose dewasa. Cuma idiot yang tidak mampu berjalan jauh, seakan-akan tahu segalanya. Seakan-akan memiliki sesuatu. Seakan-akan.
Padahal tidak.
Aku ingin bercerita, cerita seadanya saja. Yang pecah bergemeretak. Semerdunya rintisan air ciirrue cumulus. Setinggi falcon yang terbang, bicara pada hutan.
Mohon maaf. Mohon maaf. Mohon maaf.
Mohon maaf. Mohon maaf. Mohon maaf.
Mohon maaf. Mohon maaf. Mohon maaf.
No comments:
Post a Comment