Wednesday, June 19, 2013

Relief

Sebuah abstraksi rupanya memang bukanlah term futuristik yang dapat diandalkan. Kita bisa saja menyentuh ruang abstraksi, sekalipun kita hanyalah seorang penceloteh. Seperti misalnya, pendongeng.

Seseorang yang saya kenal pernah bicara soal abstraksi. Katanya, "sebuah permulaan, penting tapi belum selesai dan mengulas itu hanya membuang waktu, putar pikir untuk kembali ke masa lampau." Ia bosan, senyumnya mengembang, lalu tawanya kembali retak, "ngomongin yang lain aja yuk," ujarnya.

Bola matanya berbinar dan aku rindu. Menyadari bahwa suatu hari di hari ini aku tak mampu berkata banyak. Kelu menanggung pemahaman, kaku memulai kesederhanaan, jadi sepicik lembutan awan cirrue cumulus, berembun tapi tak hujan. Atau katanya, "setinggi burung falcon, membuang untuk mencari".

Sebab Allah memberikan rahmatNya untuk siapa yang Dia kehendaki dan mencabutnya untuk yang Dia kehendaki pula.

Sahabat, beberapa orang memang tidak tertakdirkan untuk dicintai sepertimu. Sahabat, beberapa orang memang tidak tertakdirkan untuk seperti itunya diterima seperti mudahnya kamu. Sahabat, beberapa orang memang tidak semenyenangkan itu untuk selalu diajak bersenang-senang. Beberapa orang yang kurang peka, kurang daya, kurang kepahaman, kurang ketahanan.

Aku rindu. Kerinduanku jadi semacam pil melarikan diri. Kerinduanku jadi semacam mengingatmu lagi, saat aku tak perlu susah bertanya, saat aku tak perlu memulai segalanya. Saat kau bilang bosan sambil terdengar tawa retakmu, sungkan, aku sungkan, tidak peduli.

Setiap orang adalah premier, bagimu. Sebagiannya secondary, bagiku. Kau premier, aku secondary, terpaksa, kita bersepakat. Secondary yang memaksa seorang premier bersepakat. Terjebak dalam blurring. Kau menang juga, akhirnya.

Sebab dunia yang kau katakan itu, benar adanya juga, rupanya.
Saat tidak diterima, saat tak mampu berkata-kata. "Saat terlalu banyak abstraksi. Mula yang belum selesai," katamu, "kau".

No comments:

Post a Comment