Reposisi ilmiah
berkutat pada strukturasi kotom dan definansi. Alur historical dan presisi
factual, mencoba menakar figuritas futuristic. Salah sasaran.
Dulu dikiranya realism
adalah pola geser yang sejajar dengan romantic. Rupanya renaissance jadi candu
lampu-lampu obrolan filsafat eropa. Dulu dikiranya Kaum Bangsawan Inggris
petinggi oligarki komunal, rupanya sekarang ditulis sebagai penggagas
parlementerian internasional. Dulu katanya putik bunga betinanya benang sari
sekarang rupanya standarisasi fragmen perbanyakan tanaman tak sebegitunya
seperti wanita dan laki-laki.
Kotom dan
definansi. Historis dan factual.
Sama saja
sekarang kita pikir bahwa demokrasi merupakan balasannya otoritarian. Tapi
nomokrasi dan teokrasi seakan jadi skema in
the book yang tak perlu lagi diperbincangkan selain sebagai prawacana
alternative.
Kehidupan ini,
hanya permainan saja. Senda gurau yang tak berharga. Lebih rendah dari
jalan-jalan yang penuh nanah. Berbau busuk dan dialogis.
Sebab di setiap
tataran, pertemuan kebenaran dan kebatilan tak pernah terhindarkan. Sebab
disanalah dukungan kausalitas akaran tertegaskan. Sebab dari sanalah denyut
perjuangan kehidupan ini ditarik dan tak pernah untuk terselesaikan. Untuk
mengantar berjatuhan orang-orang hina dan terhinakan. Juga mengantar kembalinya
orang-orang selamat dan terselamatkan. Maka reposisi ilmiah masih berjalan
terus membingungkan peradaban kemanusiaan di setiap tingkatan.
Kita hanya perlu
coba menyusurinya.
Karena aku tak
pernah sebegini inginnya menelusuri.
Karena perlahan
sebuah perasaan bisa muncul dan pergi. Mengejawantahkan dirinya dalam renungan
malam yang panjang. Kerinduan yang meletakkan nalarnya pada purifikasi ordinat
yang menjembatani hati. Tiba-tiba saja, reposisi ilmiah mengharuskanku membuka
definansi tentang ordinat kau dan aku. Kita. Semacam dua tepi yang bersebrangan,
bukan? Oleh karenanya, katamu, melingkar, menemui batas-batas lingkaran. Ah,
aneh.
Bahwa yang
kukatakan itu benar, setidaknya tentangku saja. Kau tak perlu mereposisinya
lagi, seakan lebih mengerti. Orang-orang yang menyampah di sudut-sudut
ketulusan orang lain sepertimu, ak patut dipertanyakan, katanya.
No comments:
Post a Comment