Tuesday, April 23, 2013

Reposisi


Reposisi ilmiah berkutat pada strukturasi kotom dan definansi. Alur historical dan presisi factual, mencoba menakar figuritas futuristic. Salah sasaran.
Dulu dikiranya realism adalah pola geser yang sejajar dengan romantic. Rupanya renaissance jadi candu lampu-lampu obrolan filsafat eropa. Dulu dikiranya Kaum Bangsawan Inggris petinggi oligarki komunal, rupanya sekarang ditulis sebagai penggagas parlementerian internasional. Dulu katanya putik bunga betinanya benang sari sekarang rupanya standarisasi fragmen perbanyakan tanaman tak sebegitunya seperti wanita dan laki-laki.
Kotom dan definansi. Historis dan factual.
Sama saja sekarang kita pikir bahwa demokrasi merupakan balasannya otoritarian. Tapi nomokrasi dan teokrasi seakan jadi skema in the book yang tak perlu lagi diperbincangkan selain sebagai prawacana alternative.
Kehidupan ini, hanya permainan saja. Senda gurau yang tak berharga. Lebih rendah dari jalan-jalan yang penuh nanah. Berbau busuk dan dialogis.
Sebab di setiap tataran, pertemuan kebenaran dan kebatilan tak pernah terhindarkan. Sebab disanalah dukungan kausalitas akaran tertegaskan. Sebab dari sanalah denyut perjuangan kehidupan ini ditarik dan tak pernah untuk terselesaikan. Untuk mengantar berjatuhan orang-orang hina dan terhinakan. Juga mengantar kembalinya orang-orang selamat dan terselamatkan. Maka reposisi ilmiah masih berjalan terus membingungkan peradaban kemanusiaan di setiap tingkatan.
Kita hanya perlu coba menyusurinya.
Karena aku tak pernah sebegini inginnya menelusuri.
Karena perlahan sebuah perasaan bisa muncul dan pergi. Mengejawantahkan dirinya dalam renungan malam yang panjang. Kerinduan yang meletakkan nalarnya pada purifikasi ordinat yang menjembatani hati. Tiba-tiba saja, reposisi ilmiah mengharuskanku membuka definansi tentang ordinat kau dan aku. Kita. Semacam dua tepi yang bersebrangan, bukan? Oleh karenanya, katamu, melingkar, menemui batas-batas lingkaran. Ah, aneh.
Bahwa yang kukatakan itu benar, setidaknya tentangku saja. Kau tak perlu mereposisinya lagi, seakan lebih mengerti. Orang-orang yang menyampah di sudut-sudut ketulusan orang lain sepertimu, ak patut dipertanyakan, katanya.

No comments:

Post a Comment