Suatu hari saya pernah berpandangan bahwa menjadi
sekunder adalah hal yang begitu menyakitkan. Menjadi kedua setelah yang pertama
atau jembatan di perbatasan tujuan. Tambahan.
Lalu suatu kali terbit sebuah pemikiran bahwa pada
korelasi dasarnya kita Cuma bicara soal takdir yang menyeret, bukan yang
terseret-seret. Apakah dalam perpanjangan sejarahnya kita menjadi orang-orang
yang utama atau pelengkap saja, atau bahkan bukan siapa-siapa. Ini soal
tribulasi faktualnya.
Saya akhirnya, tidak kecewa. Mengetahui bahwa
sebagian orang, mungkin, dengan suatu proporsi kemampuan dan kecendrungan
tertentu pada perwujudannya adalah kontestasi secondary. Termasuk saya.
Anda yang merasa memiliki presisi seperti ini. Kita, tak perlu kecewa.
Sebab telah saya temui bahwa pada kenyataannya, saya juga ingin berpisah
dengan semua orang yang telah saya temui di masa lalu, juga di masa ini. Kita
hanya perlu menerabas rumput baru dan pada kesudahannya, kita pun kembali jadi
yang kedua.
Orang-orang seperti kita, umpamanya penumpang yang
baru datang. Atau kapal yang selalu lewat dan tak pernah kembali ke dermaga
yang sama. Atau semut yang mati di perpanjangan jalan perjuangannya. Dimangsa
kesadaran pribadi. Sebab kepercayaan seperti itu, rupanya, tak bisa kau berikan
pada siapapun.
Orang-orang seperti kita, layaknya tak boleh
dimengerti. Sebab dengan demikian, langgeng-lah manifestasi sosial. Atau rusaklah stabilitas
progresif konstruksi pemapanan cara gaul anak jaman sekarang. Sedikit concern pada dilematika pribadi kita
saja, tandas rancangan, melaut di batasan.
Beberapa orang
yang terkaruniai anugerah lain, dalam konteks ini, bukanlah secondary term. Merekalah para penduduk
utama dunia. Merekalah orang-orang yang beranak pinak di daratan bumi biru. Mereka,
bukan secondary seperti kita. Melihat
bahwa segala sesuatunya adalah bantalan yang berisi lembutan. Mengikrarkan diri,
bahwa keseriusan yang satu berhubung pada keseriusan orang yang lainnya. Menyejajarkan
diri dengan mereka, bagi kita, kejauhan. Kehormatan yang berjejak.
Saya sempat
kenal beberapa orang yang terkaruniai seperti ini. Disana sini, move on.
Disana sini, kesulitannya adalah sesuatu yang progress bukan regress,
seperti kita. Dilihat, ditanya dan bagi mereka, di ajak bicara.
No comments:
Post a Comment