Ilmu pengetahuan adalah asumsi yang termapankan.
Bagaimana seseorang bisa melogikakan sesuatu dan mengatakan bahwa, “inilah
kebenaran.” Bagaimana seseorang bisa bermain dengan dilematika ketundukan,
klaim holistikasi dan dominansi. Maka sebagian dari kita adalah pengikut dan
yang lainnya diikuti. Sebagian dari kita adalah pencatut dan yang lainnya
memakan kewibawaan dengan ketercatutan dirinya.
Inilah semacam kerapuhan. Sesuatu yang kusebut,
setengah mabuk. Sesuatu yang ku anggap kelucuan. Sesuatu yang kusebut permainan
dan oleh karenanya aku bosan. Mengetahui bahwa tidak ada lagi ketertarikan atas
ilmu pengetahuan duniawi. Menilik logika-logika kemanusiaan lalu terbinasakan.
Beberapa orang yang mengesankanku beranggapan
bahwa pandangan ini begitu naïf untuk disentuh. Kepercayaan, meletakkannya pada
tempatnya. Ini persoalan antusiasme, proporsionalitas, pembelajaran, proses, tarbiyah. Malapetaka, bagiku. Bagaimana
sebuah pesona memakan kita pada dataran ilalang yang tak terjamah tangan.
Melihatnya saja, menyejukkan mata. Tapi berkeliling dengannya adalah persoalan
serangga, lain lagi.
Para ahli biologi atau kedokteran menemukan bahwa
pengetahuan itu adalah rumus-rumus alam yang ditemukan. Rumus alam yang
ditemukan seseorang dengan perlogikaan dan penginderaannya. Manusia hanya
melansir, mengurai dan mencoba memahami. Dengan pandangan sempitnya. Sejauh
butuhnya, antusiasmenya, dilematika pribadi dan komunalnya. Bermanfaat. Bagi
perikehidupan rezimnya.
Maka telah kutuliskan sebuah kerapuhan yang
menggerogoti kemanusiaan abad ini. Bahwa seleraku telah berkurang. Bahwa
keindahannya sebatas fatamorgana. Berbalik, terbalik. Mungkin ini juga
salahsatu bagian permainan dunia. Dan sudah hampir pasti saja. Aku. Kau.
Kata-kata yang mencoba menalar. Kata-kata yang
bertikai. Kata-kata yang merangkumkan.
Bukti-bukti yang menguatkan. Semacam menjadikan
mekanisme dalil sebagai pin-point peradaban. Ya, bukankah kita hanya dapat
menghakimi lahirnya. Menarik konteks sentripetal tertentu dalam masing-masing
ego pribadi kemanusiaan. Bahwa ilmu pengetahuan itu jahat.
Pada intinya equilibrium.
Tawazun. Keseimbangan. Titik-titik perimbangan. Pilihan-pilihan. Kebijaksanaan
kontekstual.
Kita tahu bahwa pada titik ini aku bicara soal hal
yang begitu non-eligible. Bagaimana
bisa mulut kita memakan semua yang telah matang sekaligus? Bagaimana bisa kita
mengenakan apa yang baru saja dijahit di seluruh dunia? Bagaimana bisa kita
pikirkan apa yang baru saja didengungkan sepanjang daratan dunia. Sama
sepertiku, kau juga tak bisa melakukannya bukan? Maka pikiran ilmu pengetahuan
harus dipersempit pada studi kontekstual. Apa yang terlibat di dalam kasus. Apa
yang menjadi variable-variable riil di dalamnya. Diolah, memperoleh tujuanku
ataupun tujuanmu atau tujuan kita bersama.
Ada lebih dari
satu dimensi di dunia ini. Jika saja x adalah dimensi waktu. Lalu y adalah
dimensi tempat. Untuk merangkum tarikan garis lurus di satu x di seluruh y,
kita tidak akan mampu bukan? Maka selanjutnya, kita sadari, ada z sebagai
dimensi subjek, p sebagai dimensi setting social, q sebagai dimensi tribulasi
alam dan seterusnya masih banyak lagi. Untuk menangkap tarikan-tarikan
dimensional itu, kau harus menemukan titik-titiknya. Untuk melihat gambar yang
coba diceritakannya padamu, sekedar sebuah gambar kecil yang memungkinkanmu
membacanya. Segitiga, kotak, lingkaran ataukah segilima? Segienam? Segidelapan?
Studi kontekstual. Tarikan nalar. Padaku.
Aku tak seperti
itu, aku menarik garis dan tak mampu membaca gambarnya. Menghubungkan
titik-titiknya. Mencari presisi. Mengurai tribulasi. Bersikap proporsional,
antusias, bukan aku. Kau?
Maka sebuah
titik yang kubicarakan tak mungkin mereposisi dunia. Tak mungkin sebuah titik atau garis saja.
Sebab sebagian dari kita ternyata punya antusiasme yang lebih besar dari
kalimat ketidakantusiasannya. Lebih punya selera di balik ketidakselereaannya.
Mungkin kau. Yang pasti aku.
Kepastian yang
pengetahuan. Sekalipun tentangku. Setujukah bahwa ia termasuk asumsi yang
termapankan?
Termasuk kau.
Tulisan ini juga, bukan?
No comments:
Post a Comment