Thursday, August 29, 2013

Al Banaat : Part One (Bisystory)

Ruang kelas 1B tiba-tiba jadi arena ketegangan. 35 anak umur 11 tahun itu jadi semacam pusaran manusia berseragam putih-hitam. Di tengah pusaran itu, sepasang bocah laki-laki dan perempuan tengah berhadapan dengan serius, menjadi sumber ketegangan di kelas itu. Ilham, nama bocah laki-laki itu, dengan emosi menantang, "Oke, kita adu panco aja kalo gitu !"
Si bocah perempuan bergidik, bukan karena ia takut adu fisik, ia tidak benar-benar tahu jenis permainan itu. Diputarnya bolak-balik akalnya, "panco"…. Bagian tubuh yang mana yang disebut panco dan bisa diadu? Apa Cuma anak laki-laki yang punya 'panco'? Sehingga Ilham yang dilihatnya sekarang sedang tertawa sinis karena sudah membayangkan kemenangan.
"Oke! Siapa takut!" serunya keras kepala
33 penonton setia itu sejengkal mundur memberi ruang, seorang bocah berbadan paling besar di antara mereka, Fitra, mendorong sebuah meja belajar ke tengah. Ilham  makin percaya, anak perempuan seperti Bibis, tidak mungkin bisa menang adu panco dengannya. Walaupun Bibis tidak tergolong kurus juga tidak lemah di kelas olahraga, tapi mana mungkin ia yang jago bulutangkis, bisa kalah? Ilham menyeringai, membayangkan kemenangan, kepahlawanan dirinya dan kepengecutan Bibis.
Bibis, anak perempuan dengan pipi merona panas itu, semakin bingung, permainan macam apa yang telah disetujuinya secara bodoh untuk menjadi babak kesekian yang dilaluinya untuk menarik pembuktian 'siapa yang terbaik antara Ilham dan Bibis' yang selanjutnya melebar menjadi 'siapa yang terbaik antara anak perempuan dan anak laki-laki' di kelas itu.
Ilham telah mengambil posisinya, meletakkan siku tangan kanannya di atas meja dan jemarinya bersiap mencengkram sekuat tenaga telapak Bibis yang dilihatnya relatif lebih ringkih darinya.
Akhirnya Bibis selesai dari kebingungannya soal 'adu panco', tersadar dan langsung berjalan dengan gaya percaya diri, mengangkat wajahnya dan menantang Ilham dengan memunculkan wajah menyebalkan, tersenyum asimetris, seakan ia akan menang.
Ia tercenung tiba-tiba di depan meja, di tengah riuh rendah suara teman-temannya yang menyemangati.
"Ini ga syar'i." katanya. Ilham membangun dirinya dari posisi siap siaga, berdiri.
"Hm," gumam Ilham menyetujui, suasana kelas berubah sunyi.
Beberapa anak berjalan ke tas dan meja mereka untuk mengambil buku pelajaran hadist shohih.  Faradina, seorang sahabat mereka di kelas itu, langsung membacakan sanad hadist yang dimaksud Bibis, "La Ayyuth 'ana fii ro'si ahadikum bi mikhyathi min hadiid khoirullahuu…"
"Min ayyamussa m roatal laa tahhilulahu…" lanjut Bibis mengandalkan hafalannya dengan percaya diri walaupun mengandung kesalahan lafal.
"Sekiranya kepala salah seorang di antara kamu ditusuk dengan senjata tajam, lebih baik dari memegang wanita yang bukan mahramnya. Riwayat Thabrani dan Baihaqi" perjelas Ilham.
35 anak itu tiba-tiba lemas. Padahal mereka sangat ingin menyaksikan pertandingan itu.
"10 menit lagi jam main kita selesai, mending selesain tugas matematika aja, kali ya, shohabati" ujar Ahmad, ketua kelas mereka.
Setengah dari mereka mengangguk menyetujui. Bibis menggigit bibir bawahnya menyesal, hadist yang tadi kan bisa disampaikan belakangan, setelah pertandingan mereka selesai, pikirnya. Sementara Ilham memegang meja yang di tengah ruangan, berniat mengembalikannya ke posisi semula, meja itu milik Ghina yang tengah menunggu kelas kembali pulih dari kekacauan. Sama seperti yang lain. Anak-anak kelas 1B SMP IT Qalbin Saliim tengah membenahi meja warna-warni mereka dan mulai menarik kursi yang menempel di langit meja sebelah bawahnya, bersiap mengerjakan tugas matematika seperti taujihat Sang ketua kelas.
"Kita cari pertandingan syar'I besok, malam ini kita sama-sama pikirkan dan besok segalanya berakhir, oke, ar rijalu qowam 'alan nisa !" seru Ilham serius
Bibis mendengus kesal, jiwanya menolak mendengar kalimat Ilham.
"Emang bibis itu imro'at ya?" kata Faqih, anak laki-laki berambut keriting itu santai di tengah kesibukannya membantu teman-temannya membenahi susunan meja mereka.
"Iya, kita kan masih anak kecil, tau, belum baligh. Al Banaat, tadi sanadnya kan pakenya imro'at" sambut Faradina menengok ke arah Faqih, bersemangat.
35 anak itu kembali dipersatukan dengan satu fokus pikir, peperangan Ilham dan Bibis, yang kini keduanya sontak saling berpandangan, mengumandangkan genderang perang untuk kesekian kalinya. Keduanya kembali melangkah ke tengah ruangan, Ilham kembali menarik meja Ghina yang di barisan kedua deret ketiga ke tengah ruangan.
"Beneran?" tanya Ahmad yang mulai kembali tersita perhatiannya.
"Hontou, hontou" jawab Bibis asal, mengikut kebiasaan Ummi di rumah
"Surely !" sahut Ilham serius.
Maka Ahmad beranjak berdiri, meninggalkan buku matematikanya yang sudah tersibak, berjalan ke tengah ruangan, diikuti seluruh teman-temannya yang kini kembali membentuk pusaran bocah berseragam hitam-putih. Ilham dan Bibis sudah saling berhadapan di tengah ruangan, saling mencengkram, siap melangsungkan pertandingan.
"Oke, a… ba… ta !" aba-aba Ahmad seketika disambut sorak-sorai yang saling bersahutan dengan semangat.
"Bibis… Bibis… Bibis…" anak-anak perempuan berteriak nyaring
"Ilham… Ilham… Ilham…" anak-anak laki-laki tidak mau kalah
Ilham masih terus mencengkram tangan Bibis tanpa ampun, disana letak strateginya, membuat lawannya habis tenaga sehingga pertahanannya mudah diruntuhkan. Bibis yang sejak aba-aba Ahmad tadi telah mengukur kekuatan Ilham, rupanya memang tidak mudah dikalahkan, ia mengambil strategi meletakkan kekuatannya di batang lengan. Sehingga pertandingan itu menjadi begitu seru, berkali-kali Ilham hampir menjatuhkan lengan Bibis ke meja, tapi itu belum berhasil selama tiga menit ini, sementara Bibis baru dua kali hampir menjatuhkan Ilham dengan tenaga-tenaga sisa.
"Bibisssssss !!!! Bibis… Bibis… Bibis…!" lengkingan itu semakin keras searah dengan lengan Bibis yang mendominasi Ilham, anak laki-laki di kelas itu jadi terdiam, berdoa dalam hati agar rekan mereka bisa bangkit dari keterdesakan.
Pada menit keempat di saat para penonton mulai lelah bersorak dan bulir keringat jatuh dari kedua wajah yang memerah, Bibis yang sejak tadi diam akhirnya mengerang keras, "Ish !".
"Yeah !" seru Ilham. Menang. Ilham mampu membalikkan keadaan tepat saat Bibis yakin akan menang. Begitu cepat, barusan lengan Ilham menyerang dengan kilat sehingga Bibis telat menyadari kekalahannya.
Ilham segera mendapat jabat tangan meriah dari kawan-kawan sekutunya, sementara Bibis dikerumuni anak-anak perempuan yang tetap menyemangatinya dengan setia.
"Udah, Bis, gapapa, Al Qur'an kan emang ga mungkin keliru," ujar Shafiyah sambil menepuk halus bahu Bibis
"Iya, Ar rijalu qowamuna 'alan nisaa" tambah Khadijah
"Ish, bukan gitu tafsirnya, tau ! Nisaa' itu kan sebutan buat orang yang udah nikah ! Jadi ya, kalo udah nikah baru bisa disebut qowam bagi rijal yang jadi suaminya, kayak Ummi sama Abinya Bibis" kata Bibis asal di tengah emosi, anak perempuan yang mengelilinginya sontak terdiam. Tercenung, emang ada ya, tafsir kayak gitu? Mereka diam, telah dididik untuk diam atas hal yang tidak diketahuinya.
Akhirnya Bibis kembali ke tengah ruangan, di dekat meja yang membuatnya merasa terhina barusan. Masih emosi, ia melabrak kerumunan anak laki-laki yang berbahagia itu, "Heh, aku bisa ngelakuin hal yang kalian gak bisa lakuin !"
"Udahlah, kalo udah kalah ya kalah aja !" jawab Ilham sengit
"Nih !" seru Bibis
Kelas itu benar-benar membeku, tak mampu memberi tanggapan dan nasehat lagi. Tepat setelah pintu kelas mereka terbuka, barulah terdengar suara, "Astaghfirullahal'adzim, Bisyaroh….." Ustadzah Aisyah yang baru masuk segera berseru lemas. Di bias tangkapan retinanya, Bisyaroh, salah seorang muridnya yang cerdas dan sering berulah itu, menatapnya dengan takut, rambut hitamnya telah tergerai, kerudung putihnya dipeganginya sambil gemetar.
Anak-anak segera berpencar, saling membantu membenahi kelas mereka lagi.
Bibis melangkah ke muka kelas, memberi ruang bagi teman-temannya, "Mutaassif, Ustadzah, Bibis ga terima dikalahin Ilham." katanya, sambil menangis.
Ustadzah Aisyah bersegera melangkah, memakaikan lagi jilbab putih yang telah dijatuhi beberapa bulir basah.

“Ustadzah jangan bilang ke Ummi ya?” sambil sesenggukan Bibis memohon, matanya menatap wajah Ustadzah Aisyah, memelas. Dibalas senyum simpul yang menenangkan dan anggukan sederhana, Bibis berterimakasih, “tapi Bibis harus cerita di rumah nanti ya, ini PR spesial buat Bibis loh,” tambah Ustadzah dan beranjak menuju mejanya setelah membelai singkat kepala Bibis yang sekarang telah kembali berjilbab putih. Ia kembali ke mejanya yang telah rapi dibantu teman-temannya tadi, siap menerima pelajaran lagi. Sebagian besar anak-anak laki-laki masih geleng-geleng kepala, sementara Khadijah dan Janna yang duduk di kanan-kiri Bibis, tetap memberikan senyuman dukungan ketika Bibis melihat mereka satu per satu. Kepalanya masih berpikir keras. Tidak mau kalah.

Saturday, August 10, 2013

Ngegaco

Sekali-kali coba menulis hal yang ringan. Menulis yang apa adanya. Kejadian, baru pemikiran. Dari konkret ke pengilhaman. Bukan sebaliknya. Sesekali. Mira kan seringnya coba meguraikan term baru konteks.  Someone
(trial and error)
Gue mau cerita kejadian lucu. Tapi mungkin ini lucu bagi gue aja sih. Haha… soalnya kadang-kadang yang menurut gue lucu ga lucu bagi orang lain. -___-
Contohnya, suatu hari pas lagi ngumpul-ngumpul ngobrol sama anak Sakinah gitu, gue ketawa ngikik ampe perut sakit, pas ditanya kenapa bisa sampe ketawa segitunya, gue ceritain kan, ada nama adek tingkat gue yang ditulisnya salah di papan pengumuman kampus. Krik-krik. Sumpah, haha, ga ada yang merasa itu lucu, kalaupun lucu, iya, ga segitunya. Laki fearless banget kan? Ahahaha #apasih
Gue suka sering banget bikin kekacauan. Salahsatunya pas momen satu ini.
Jadi waktu itu gue lagi di Bogor, nginep di villa pusat pendidikannya Mahkamah Konstitusi. Tahun ini sih, lebih tepatnya bulan April kemarinan. Gue, bareng temen-temen fakultas hukum, berlimaan ada gue, zihan, iis, yati dan bagus, plus satu dosen pembimbing (pak dahlan) dan kabag kemahasiswaan kita (pak edy), nginep disana selama sekitar – kalo ga salah inget – empat malem. Emang bukan takdir bahagia juga sih kalo kita ga menang apa-apa selama disana. Bukan hanya karena kans kecil – yang emang asli secara logis iya beneran – tapi emang ada banyak kekurangan yang sedih banget buat di-inget-inget hahahah. Astaghfirullah.
Di malam terakhir sebelum hari kepulangan, gue ga bisa tidur. Sebenernya emang bukan hal luar biasa sih itu, hehehe. Juga, ada yang lagi gue pikirin, soal masa depan debat hukum di kampus gue. Kalo gini terus caranya, kompetisi ini ga akan diasuh professional dong. Sayang banget. Jadilah gue ngonsep-ngonsep ga jelas di kamar sampe suntuk sendiri. Tilawah. Dan. Masih kepikiran juga.
Di saat yati, zihan sama iis udah pada tidur – sebenernya udah dari tadi – gue akhirnya memutuskan ngeborong buku-buku dan laptop ke luar kamar, belom tau sih kemana tapi gue langsung terilhami gitu pas liat ruang pertemuan utama kosong. Disana lagi berisik, ada beberapa bapak yang lagi masang tirai buat ngelapis dinding-dinding kaca ruangan. Sekitar hampir tengah malam. Gue gaya polos gitu, setelah ngelabrak – haha soalnya pas gue sapa bapaknnya pada kaget gitu – minta izin, gue duduk ngelappy, bolak-balik buku, ngantongin kunci kamar yang udah gue pake dari luar. Dan. Gak bawa hape.
Sekitar tiga jam berlalu. Gue kayak semacam efek ‘ngimpi’ nyadar-nyadar ngeliat tampang si bagus yang asli bikin ngakak gara-gara keliatan maksa bangun tidur di tengah kengantukannya – mungkin. Ngapain lagi nih bocah. Lo ngapain disini, katanya sambil pake tampang plus nada yang bikin kasian, Iis nyariin lo, panik gara-gara kamar dikunci dari luar, balik ke kamar. Selesai bertugas menyampaikan titah iis, bagus langsung balik lagi ke kamarnya.
Dengan segala ke-speechless-an, gue bebenah. Oke, fine. Masi mikir. Lebay amat orang-orang, ngapa gak tidur aja baik-baik biar besok pada bisa bangun pagi-pagi. Konsep gue juga belom utuh, bahan bukunya belom gue sempet puasin kebaca semua. Kalo gini caranya gue pasti dipaksa tidur sama Iis dan besok bangun kesiangan. Padahal gue udah rencana gak tidur malam ini so bisa berbahagia pulas di pesawat sambil duduk safety di samping Iis, Zihan atau Yati. Kacau deh. Gue emang ga tau terimakasih. Ahaha. Waktu itu. Kan belom paham.
Next. Ini hal lucunya. Gue ga janji, ya, bakal bikin kalian ketawa atau malah bikin #ngek dan bilang, “ah sampahan”, ahahaa… #lebay
Intinya pas gue sampe kamar sebuah informasi we-o-we mampir di kuping, “Iya, akhirnya aku telpon bagus minta tolong nyariin kamu. Jangan-jangan mira ngigo trus ke kamar Si *sensor*…”
Gue kaget sekaligus ga bisa nahan ketawa. Si *sensor* yang dimaksud Iis itu cowok univ lain yang ‘diduga’ gue ‘suka’. Tapi aslinya, ga gitu juga. Iya, sih, ngga, kok. Akakakak.
Tuh kan, gak lucu yak, hehe. Kata seorang calon maba fk ini ga lucu samasekali, komentarnya pedes banget, “Itu biasa banget buat awam kali kak, lucu tuh kalo tiba-tiba di kamar lo ada beruang terus dia bilang, ‘selamat ulang tahun mira’ sambil salto dan lo bilang ‘sorry gue nyalaf soal perayaan’ terus pada bengong semua dan…” bla-bla-bla.
Gue sekedar kangen sih, sekaligus masih sensasi we-o-we banget Si Iis bisa sampe mikir gue ngigo jalan ke kamar si *sensor*. Gila, gue ga segitunya, kali. Gue malah jadi kocak aja, Sumpah dah, ahahhah…

Makasi Iis, Makasi Bagus, Makasi juga Zihan dan Yati, Pak Edy dan Pak Dahlan juga. J

Saturday, July 20, 2013

Terhenyak

Suatu hari, samar-samar saya terhenyak. Ketiduran di siang bolong, di atas meja belajar. Sekolah. Kelas Fisika.
Waktu itu, entah kenapa, saya tidak 'dipaksa' bangun seperti biasa. Lewat sindiran guru kami yang begitu rendah hati dan baik prasangka :) atau lewat cubitan kecil teman sebangku saya yang asli Bali itu. Saya terhenyak, samar-samar. Begitu saja. Tiba-tiba melihat seisi ruangan khusyuk mendengarkan guru kami menguraikan penjelasannya soal 'hambatan'. Mengulang materi dalam rangka persiapan ujian nasional. Ini ruang kelas XII IPA 3. Gila. Bisa-bisanya.
Senyum itu muncul tiba-tiba. Memaksa saya melihatnya, katanya, "Duh Mira, jago Biologinya ya.". Saya semakin 'ngimpi' nyadar-nyadar. Entah, kata-kata sederhana seperti itu tiba-tiba saja menderu, mengelebat, hati kecil saya cuma menjawab lesu, "Ga juga kali, emang di semua mapel rata-rata gue ga jago."

Saya ingin bisa berkata-kata yang sederhana. Seperti juga keterhenyakan saya kemarin lalu.

Dinding-dinding yang berlekatan. Di sisi-sisinya ada cincin-cincin bangunan yang membentuk relung-relung lautan. Semacam itu. Di balik kaca kereta.
Matarmaja yang membelah kota Semarang malam tadi. Tiba-tiba saja. Menjemput nyala-nyala pantulan cahaya kota yang di kejauhan. Di samping saya, di luar saya. Saya terhenyak, ya, sadar bahwa bibir ini menggumam sendiri atas keterkejutannya, "subhanallah"

Suatu hari juga saya ingin lagi diajari dengan sederhana. Membaca buku yang mudah dicerna. Bicara dengan bahasa lucu yang membuat tertawa.

Meja lingkaran warna merah muda. Di atas karpet hijau bunga-bunga. Si 'kabar gembira' bilang, 23 kali 15 berapa? '325' 24 kali 15 '360' kalo 5 kali 15? 'berapa' berapa ka? 'berapa...' ih berapa 'hm' 75
Katanya, "jadi kalo ada angka genap jadi sepuluh kalo ganjil jadi setengah ka?" Masa.. "Iya, ka," Masa sih... "Iya, kaka yang bilang, kalo setengah dibagi setengah jadi genap kalo genap dibagi ganjil jadi setengah." Ha?? "IYAAAA" Siapa bilang begitu? "Kaka, aku ngisi ujian pecahan kayak gitu tadi. Jadi aku ga mikir, topceer pokonya, rumus kaka, 3 menit udah selesai semua soal, hehehhee" Dan sesederhana bahwa, saya jadi merasa bersalah. Saya memang ga cocok jadi guru bimbel SD. Dan tawa kami bergentayangan di ruangan, si 'kabar gembira' tetap gaya dengan tampang percaya dirinya. Katanya, lain kali bisa lebih jauh lagi mencerna 'ajaran-ajaran' dalam obrolan kami. IQ beliau kan cuma 120, bukan 210. Saya sekali lagi merasa bersalah.

Dan setiap kali terdengar adzan yang bergema. Saya rindu di masa depan, menangkap kelugasan dan kejujuran. Bahwa syiar dakwah ini begitu lurus. Begitu senarai nyata soal perjuangan. Tidak licik, tidak berbelok, tidak menahan kasih sayang.

Berkata-kata yang tulus dan penuh prasangka baik sekalipun dalam 'kegelisahan' seperti yang ditunjukan guru fisika kami. Mengucap kesyukuran seketika merasakannya. Juga menarik kepercayaan sepolos dan semudah anak kelas 5 SD yang belajar hitungan. Selugas adzan kami yang 5 kali sehari. Ayo Sholat, Ayo menuju kemenangan.

Allahu Rabb, Allahu Ghoyatuna.
Ya Allah bukakanlah setiap baris-baris pintu hidayahMu, untuk kami.
Sekedar merintih, menyaksikan waktu-waktu. Melihat amal-amal yang belum sempurna. Diri-diri yang berlumuran dosa. Dan kedekatan hari-hari pertemuan. :')

Friday, July 5, 2013

The Heartfelt

Bismillah
Menatapi langit di lapangan jemuran sambil menggigil kedinginan, pukul 11:44 malam, kantuk yang tertahan, kata-kata yang berkeliaran, membusuk, ya, liar, ah, mana mungkin busuk sementara ia bekeliaran? bukankah sesuatu yang masih bergerak terhindar dari kematian, apalagi kebusukan? Kalau begitu bisa dikatakan ini soal kebusukan yang masih hidup liar, di otak saya, zombie logika. #ngek
Tidak mampu tertuliskan, ah manusia begitu terbatas bukan? Saya jadi ingat salahsatu nada favorit saya.. 

perlahan, sangat pelan, hingga tenang kan menjelang 
disini ku berdiskusi dengan alam yang lirih. kenapa indah pelangi tak berujung sampai ke bumi?
aku orang malam yang membicarakan terang
cahaya bulan menusukku, dengan ribuan pertanyaan, yang tak kan pernah ku tahu, dimana jawaban itu
bagai letusan berapi, bangunkanku dari mimpi, sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati
ketakutan melumpuhkanku
terangi dengan cinta di gelapku, dimana jawaban itu
cahaya bulan menusukku, dengan ribuan pertanyaan

Cahaya Bulan. Representatif banget kan, ya? Hahaa.. --> geje
Maka seperti inilah saya saat ini. Kader galau. Kaku untuk menulis di publik lagi. Lupa sintesa, terlalu benci untuk kembali. Mengingat bahwa waktu membawa kita begitu cepat melangkah, menyeret-nyeret, sampai ruhiyy yangdhaif ini berdarah-darah, memaknai, marah, mengakui kelemahan diri.
Jadi cemen, berdecak setiap kali teringat dan bertemu dengan wajah-wajah sholeh itu, ah, manusia begitu lemahnya bukan?
Bukan ini yang ingin saya bicarakan. Kembali menilik fatalitas Derrida, kata adalah apa yang mendefinisi. Apapun itu. Secara gila, saya pun memaknainya bahwa, tulisan adalah apapun yang merupakan sebentukan kata-kata. Saya hanya mencoba take-off. Muter lapangan dulu. Hehehe. 
Ini tentang mawar merah, ya, dan bumi yang dalam genggaman.
Suatu whispering yang mengagetkan di tengah 10 menit pertama terlelapnya saya beberapa jam yang lalu. Mengganggu, menjengkelkan. Seakan saya ikhwan yang gila kerja atau kepala keluarga yang penuh tanggungjawab, mikirin whishing anaknya, subhanallah ya orangtua2 kita, (apaan deh --"). Ya, intinya, jiwa dan mental saya memang maskulin kok. Ahahahahaa
Percaya aja.
Mengingat sebuah konteks definan kata fenomenal dalam pidato salahsatu tokoh politik di NKRI (Ust. Anis Matta) beberapa waktu lalu, "konspirasi". Saya membuka kembali beberapa rekam jejak tulisan kepartaian yang dapat diakses publik. Di tulisan kader PKS ada istilah "skenario gelap"[1], di tulisan Julian Aldrian Pasha, ada istilah “salahpaham”[2]. Saya tidak tahu ini sebuah semiotika yang dipaksakan atau memang suhu di atas sana begitu remang.
Secara jelas dan pasti, public lebih suka tercengang untuk anak Hatta Rajasa yang belum juga ditahan dengan alasan cengeng semacam depresi (sakit) karena shock sementara keluarga dua orang korban tewasnya – mungkin – sudah kering airmata. Atau mengenang romantisme 40 milyar ala Royal Wedding Ibas dan Alya. Masyarakat kita, sejauh pandangan saya, tendensi melankolisnya telah berada dalam satu deret majas sastra bernama, “hiperbola”. Alasan-alasan cengeng dan permintaan maaf yang mengharukan sambil airmata tertumpah dan terpingsan-pingsan tentu lebih dapat diamini sebagai keinsyafan daripada pertanggungjawaban litigasi setimpal.
Tren kasus hukum yang sengaja-ngaja diterbitkan juga semacam surut pandangan ilmiah. Berkali-kali litigasi orang miskin yang menyakitkan dan terseret-seretnya putusan pemidanaan kasus korupsi “orang besar” lebih jauh mengarah pada kisah-kisah sinetron soal keadilan.
Intinya bagi saya, wa’yu siyasi semacam itu jadi kolegium lingkungan yang telah mengakar dimana-mana, atas dan bawah. Sehingga para politisi kita, dari berbagai arah, wajar, mencari perhatian dengan klausul ‘membahana’ semacam ‘konspirasi’, ‘salahpaham’ atau bahkan, ‘diserang’. Apalagi dengan mutu koheren dakwah siyasi tingkat nasional, adanya ‘tiputipu’ semacam itu amat mungkin terjadi. Kita pula telah melihat dan saya secara pribadi menjadi saksi bagaimana ‘konspirasi’ benar-benar dijalankan orang-orang berkuasa. Hidup ini, kehidupan perpolitikan kita, busuk. Itu benar adanya. Penuh konspirasi, saya setuju saja. Tapi pembicaraan seperti ini memang hanya bisa diamini mereka yang bermain, bukan?
Tapi ini soal sesuatu yang lebih besar. Bahwa sekarang, anggaplah kita semua meyakini bahwa kebusukan peta politik seperti itu makmur adanya. Setujulah kita bahwa sikut kanan dan kiri lebih ‘sinetronistis’ dari yang dekat-dekat ini bisa kita bayangkan. Mereka begitu kotor dan kekotoran semacam itu jatuh menitik sampai ke bawah-bawah. Bagaimana tendensi deret majas ‘hiperbola’ masyarakat kita semakin ditilik sebagai ‘peluang’ permainan logika public.
Hm, tumpukan buku di samping saya sedang bernyanyi, rupanya, katanya "buka akuu.." "aku ajjaaa.." "aku aja,, dia jelek.." apa dah… ahaha, dasar pada kocak,
Fenomena politik selalu mengandung dimensi konflik dan integrasi. Dua factor penyebab konflik, pertama, factor individu seperti kecerdasan (aptitude) atau psikologis lainnya. Kedua, factor kolektif seperti perbedaan kelas, rasialis, atau sosiokultural lainnya.[3]
Statement ilmiah Maurice Duverger di atas tentunya membuat kita harus kembali menelusuri, konflik politik macam apa yang kini bermain di pentas politik level nasional? Dan kemanakah taraf integrasi itu bermuara? Atau apakah, tesis semacam itu sebenarnya tidak perlu dipikirkan sebagai konteks utuh? Kebanyakan teori seperti itu.
Sebab artinya konflik bisa saja dimaksudkan sebagai sebuah kotom fungsi dari integrasi itu sendiri - dan sebaliknya. Sehingga eternitas keduanya cukup punya legitimasi sejalan dengan fenomena-fenomena individu atau kolektif. Disini saya jadi semakin miskin definansi, ah, menyebalkan sekali, karena satu kata dalam teori tidak bisa dipakai sembarangan sebagai rujukan selainnya. Padahal frekuensi perasaan dan paradigma diksi saya sering berbeda dari kebanyakan orang.
Ini memang ocehan yang kurang jelas ya, --"
Intinya, shohabati, wa'yu siyasi dalam taraf abstraksi barat bernilai setara paduan konflik dan integrasi timbal balik, merekomposisi sebuah definansi fenomenologi. Rujukan yang kemudian menyetir peta adab politik sebagai gejolak konflik yang - sengaja - tidak diredakan. Maka permainan kita sampai pada sebuah kolegium paradigmatik bersama orang-orang politik 'konspiran' konflik-integratif.
Dalam gejala yang saya renungi, wa'yu siyasi kita jadi semacam, permainan eduksi. Dimana eduksi memberitahu kita bagaimana seharusnya mengubah suatu proposisi kepada proposisi lain tanpa mengubah makna, disamping memberi pedoman apakah dua proposisi kategorik atau lebih mempunyai makna yang sama atau berbeda.[4]  Dua kaki, tiga kaki *obat panas dalem dong ya, ahaha* sama-sama mulianya. Semacam, jadi badut di ulangtahun sendiri.
Saya tidak tahu banyak hal. Ya, Allah, faghfirli.
Saya sekedar merasa irritated. *subhanallah, pake2 perasaan gue, sekarang ya* Bahwa kadang forum-forum siyasi kita mungkin kering keimanan. Belajar logika dan angka-angka fakta paradigma mekanika. Belajar bicara dan kesan-kesan elegan kemenangan data-data. Ah, bahwa saya jadi terharu, sesekali.
Saya tidak mengetahui banyak hal, maka luruskanlah, saudaraku.
Hanya semacam. Dialog dengan seorang sahabat yang kini begitu saya rindukan *ihhirr* dimana dibacakan sebuah ayat dalam Alqur'an sebelum melepas saya pergi ke fakultas hukum, “afahukumal jaahilliyyahi yabghun? wa man ahsanu minallahi qaumiy ya'qiluun.”[5] Balas saya saat itu, “Yaa ayyuhaladzina aamanu, khudzuu hidzrokum fa anfiruu tsubaatin aw infiruu jamii’an.”[6] Lalu sambil tersenyum wajahnya cerah, dibacakannya, “Wa innaa lajamii‘un haadziruun.”[7]
Pembacaan peta posisi bukan maneuver arah gerak itu sendiri bukan?
Sebab pembuluh gerakan ini berdiri pada pertengahan, dimana disaksikan Rasulullah SAW dan menyaksikan manusia. Bagaimana menjadikan diri bagian dari tribulasi dan tetap pada relnya. Bagaimana membaca risalah juga petunjuk-petunjuk kauniyahNya. Sesuatu yang memakan kesabaran lebih banyak.
Dan tarbiyah membina, bahwa syumuliyatul islam dibangun menuju sentripetal takdir Allah atas masing-masing insan. Sebab segalanya bermula dari tarbiyah.
Wallahu’alam bis showab



[1] Sapto Waluyo, Kebangkitan Politik dakwah. Haraktuna. 2004, hal 123.
[2] Kompas, 3 Desember 2010.
[3] Maurice Duverger, Sociological Politics, diterjemahkan Daniel Dhakidae. 2003, bag. Pengantar.
[4] Raymond J McCall, Basic Logic, second edition, New York, Barnes & Noble Inc., 1966, hal 114.
[5] Al Maidaah : 50
[6] An Nisaa : 71
[7] Asy Syu’araa’ : 26


Sebuah Tulisan yang belum selesai,
Best Regard,
mirafajri

Tuesday, July 2, 2013

Garnish

Aku sempat berpikir beberapa kali. Berencana, sesekali, untuk bertanya, semacam memastikan. Ah, tapi tidak. Sesuatu seperti itu, tentu saja mudah terbaca. Sesuatu seperti itu, tentu saja mudah tersimpulkan.   Tanya. Tanda-tanda tanya.

Suatu hari, apakah aku akan dirindukan.
Suatu hari, apakah kita akan dipertemukan kembali.
Suatu hari, apakah kecemburuanku yang seperti ini akan terulang kembali.
Sebegitu berharganya kamu bagiku, ternyata.

Dan. Tidak.
Sebegini lintasnya aku bagimu. Bagi kalian.

Menyadari hal ini membuatku tenang sekaligus sedih. Entah darimana angka-angka perlogikaan itu mencapai kulminasi presisinya. Menuju sebuah paradoksal yang magical. Aku sekedar, lirih, ingin menelisik lebih jauh diriku dan kau. Sebegitu jahatnya kah aku.

Mungkin iya. Aku jadi malu. Jadi takut bertemu kamu.
Iya benar, ah, tidak ada definansi mungkin untuk kekakuan yang kulakukan. Salah.
Aku jadi malu. Sebab bagiku, ternyata kamu tak sebegitu lintasnya di kemilauan malamku.
Aku jadi takut. Kalau-kalau rindu. Kalau-kalau tak ada ulangan waktu untuk cemburu.

Aku tidak ingin bicara dengan pola. Toh, beberapa tahun silam aku juga tak bicara dengan pola. Kembali saja jadi seperti dulu.

Sekedar bahwa ingin kukatakan pada bulir yang menguning, sore. Pada jangkrik yang mengerik, malam. Pada ayam yan berkokok, shubuh. Pada bias jingga biru, pagi. Padanya yang merasa siang benderang. Pada putaran keindahanNya. Pada sujud alam semesta, ah, aku, begitu, ingin bertemu.

Friday, June 28, 2013

Mohon Maaf

Setiap hal adalah kesyukuran. Setiap lirih suara adalah doa. Setiap kamu adalah permata. Setiap tarikan nafas adalah waktu-waktu. Setiap aku adalah kecintaan. Tulus yang berbuah jadi kemurnian siklus kehidupan.

Aku jadi sendu. Keheningan malam yang seperti biasa, nyinyir bergelayutan di dinding-dinding kamar. Di saat seperti ini, diam adalah cara tasbih berbisik, mengangkat dirinya ke 'Arsy. Diam adalah ilmu siklus bertahan, lekuk keberanian yang terbayang, diam. Menyegerakan diamnya, mengangkat kerinduan menuju Allah azza wa jalla.

Aku tidak bisa belajar tanpa diam, rupanya.
Sebab diam adalah ilmu alam. Kelam yang meredefinansi malam.

Aku jadi sendu. Sedikit bercerita. Mari kita bercerita. :)

Malam itu aku merasa begitu hinanya. Seseorang, "Kenapa lo ga bilang aja semuanya mir? Kenapa lo cuma diam, bilang seadanya?". Aku merasa begitu rendahnya, "Besok-besok kalau pulang malam harus ada temennnya ya." Semacam itu. Semacam sendu. Semacam menangis di kediaman.

Aku yang seperti ini begitunya. Sebegitu banyaknya bicara. Sebegitu belagak tahu dan hebat. Aku yang seperti itu. Tersentuh.

Aku ingin jadi orang mudah tersentuh. Belajar bagaimana aku bisa tersentuh, karena kata-kata, karena klasif premier persaudaraan. Sebab sesekali, aku bisa juga, tersentuh. Membayar harga tinggi bagi kemanusiaan. Sesekali.

Sebab tidak masalah untuk jatuh atau sakit atau tersakiti. Sebab ketersentuhan seperti itu membuatku begitu merasa memiliki seseorang. Sebab ketersentuhan seperti itu membuatku merasa menjadi seseorang. Bukan menjadi orang gila sombong yang hidup untuk apa yang diketahuinya. Atau pemarah nakal yang suka berbuat seenaknya. Anak yang tidak berbakti atau kakak yang tidak memilki adik. Karena aku tahu, sebenarnya, aku tak memiliki siapa dan apapun untuk seseiapa yang diriku. Sebab ketersentuhan seperti itu, menguatkanku.

Sekedar bahwa, memaknai. Semacam aku, mengukur tendensi rasa-rasaku. Sebab ternyata Allah menjadikan yang sedemikian rupa aku dan diriku. Mereka dan diri-diri mereka. Di tempat ini. Di kota ini.
Bertahan, sebentar lagi.

Malam tadi, aku tersentuh. "Dia pun juga banyak kamu sakiti mir,". Atau "Semoga aja persahabatan kamu itu, ga kayak yang sebelumnya, meninggalkan ketika ga bisa mewujudkan visimu lagi.". "Selama ini yang aku rasakan keangkuhan, mir."

Aku yang memang sebegitunya seperti ini. Sebegininya banyak menyakiti. Sebegini seringnya kelu memahami. Ya, sebegini jauhnya dari kerendahan hati.

Aku ingin kata-kataku jadi pecah parau, sesekali. Tidak memikirkannya. Menyadari bahwa, memang benar begitu banyaknya kehinaan dalam diri. Begitu banyak kasih yang sulit terkomunikasikan. Begitu aku tersentuhnya, sesekali, merasa disalahpahami.

Mari bercerita, ayo kita bercerita seadanya, katamu, ini obatku, bukan?

Sebab tidak masalah untuk jatuh atau sakit atau tersakiti. Sesegera seperti sulit menjalaninya. Sesegera seperti ingin melepaskannya. Sesegera tersentuhnya, menyadari ketiadaan. Menyadari bahwa begitu rumitnya  aku di sisimu. Menyadari bahwa sulit untuk sekedar setara, bisa bersamamu, sahabat.

Tersentuh, bahwa tak memiliki seseorang, Bukan seseorang. Cuma anak nakal yang bicara seenaknya. Cuma anak kecil yang berpose dewasa. Cuma idiot yang tidak mampu berjalan jauh, seakan-akan tahu segalanya. Seakan-akan memiliki sesuatu. Seakan-akan.

Padahal tidak.

Aku ingin bercerita, cerita seadanya saja. Yang pecah bergemeretak. Semerdunya rintisan air ciirrue cumulus. Setinggi falcon yang terbang, bicara pada hutan.

Mohon maaf. Mohon maaf. Mohon maaf.
Mohon maaf. Mohon maaf. Mohon maaf.
Mohon maaf. Mohon maaf. Mohon maaf.

Menuju Stadium Pertengahan

                Tidak ada yang perlu kita takuti. Sebab lintasan pikiranku berkata bahwa tidak ada benang yang sebegitu ikhlasnya menenun yang bukan peruntukkannya. Tidak ada yang perlu kita khawatirkan. Sesederhana bicara bahwa masih ada esok hari. Sesederhana bahwa Allah tak pernah mengingkari.
                Aku tidak takut. Pula tak khawatir. Hanya terpana. Terdiam sementara. Mencerna bahwa, ada begitu banyak hal yang harus dipelajari. Menelusuri teka-teki, kejadian ini dan pikiran itu, putaran sinkronisasi yang luarbiasa, tak terelakkan, perbendaharaan beda dan sama.
                Hanya terpana, butuh waktu untuk menelusuri hakekat di dalamnya. Menguatkan diri kembali. Mengasah kepekaan yang mulai menua, retak bergemeretak, pecah menggoreskan sebaran kesakitan. Sekedar bahwa, begitu banyak hal yang harus dipelajari.
                Bukan tentang bisa lebih marah daripada kamu atau aku. Bukan tentang lebih mampu marah. Kata-kata seperti itu, bukan kata-kata seorang yang punya logika, tentu saja. Aku berlalu.
                Sekedar bahwa, ada begitu banyak kasih yang sulit terkomunikasikan. Melihat mereka, begitu kuat dan siapnya. Menggiring kami. Menyadari bahwa terkuatkan. Aku terkuatkan, menyerap lebih banyak kekuatan. Oh, ternyata sejahat itu mereka. Oh, ternyata sebegitu rapi juga kejahatan mereka. Oh, ternyata sebegitunya mereka membenciku, tak percaya kata-kataku.
                Sekedar bahwa, tak ada lagi jabat tangan untuk orang yang mengingkari senyuman. Mereka memilih bicara pada yang tak bisa dipercaya. Bersepakat pada yang kata-katanya tak pernah bisa dikata-katakan. Pada yang bicara bahwa kebebasan itu milik manusia. Pada yang berkeyakinan bahwa kesetaraan itu mereka yang tentukan batasannya. Pada mereka.
                Sekedar bahwa, ada begitu banyak kasih yang sulit terkomunikasikan. Saat mereka begitu rela menggadaikan logika demi kemenangan pesanannya. Saat yang lebih muda, tidak punya sopan santun. Saat yang lebih muda begitu percaya diri bicara menekan, seakan memiliki semua teori. Saya hanya terkesima. Ah, sebegitunya. Innalillahi.